Dari Saya · Opini · Tulisan

Kampanye ‘Budayakan Membaca’, Masih Pentingkah?

Budayakan membaca, begitu mereka menghimbau. Di era informasi, komunikasi, dan media berkembang sepesat ini, apakah kebiasaan membaca masih penting? Khususnya, dengan maraknya media lain yang menyajikan informasi dengan lebih menarik. Sebut saja: video, aplikasi ponsel, virtual reality. Media-media yang secara visual apik dan sangat digandrungi. Lebih mudah membuat vlog dan menarik penonton kan dibanding menulis blog dan menarik pembaca?

Katanya, membaca itu bikin pintar. Menurut Central Connecticut State University, Indonesia adalah negara dengan peringkat 60 dari 61 negara di seluruh dunia dalam minat baca penduduknya. Kita hanya menghabiskan 6 jam per minggu untuk membaca, sementara tetangga kita, Thailand, mencapai 7,6 jam per minggu, dan rata-rata dunia adalah 6,5 jam per minggu (data: NOP World). Miris? Siapa sih yang tidak?

Minimnya intensitas membaca ini merupakan salah satu hal yang jadi sebab utama kampanye membaca. Tapi, apakah kampanye membaca masih penting?

Di tengah pesatnya perkembangan komunikasi, di mana pesan dapat dikirim dan diterima di saat yang nyaris bersamaan, di mana semua kalangan memiliki ponsel pintar dan terhubung dengan internet nyaris sepanjang hari, semua orang membaca apapun; chat, caption instagram, berita Line Today, jarkom hoax di Whatsapp, artikel macam ‘10 Cara Cepat Kaya’ atau ‘7 Kebiasaan Agar Kurus dalam Sebulan’, dan lainnya. Bacaan tersedia begitu mudah, begitu banyak, begitu beragam, dan begitu mudah dikonsumsi. Kata Sri Mulyani (ini kucatat seingatku, lupa dapat ini dimana), berlimpahnya bacaan ini membuat kita cenderung membaca apa yang kita suka saja, yang kita inginkan, bacaan yang sejalan dengan ideologi kita. Jadi alih-alih makin berwawasan, kita makin subyektif dan picik. Pilihan yang begitu melimpah seringkali tidak membuat kita ingin eksplorasi bermacam hal, tapi cenderung ingin berada di zona aman, bacanya tema yang itu-itu saja.

Jadi, era pesatnya komunikasi kini, yang lebih perlu dibudayakan adalah seleksi bacaan. Apa yang kita butuhkan sebagai asupan (bukan inginkan) harus ditentukan dengan strategi tertentu, dan ya, kita cari bacaan itu dan mengonsumsinya. Ini juga evaluasi untukku: kurangi baca artikel atau opini ngambang yang berseliweran di beranda Line (sebagai gantinya, persering blogwalk), ganti buku-buku fiksi dengan bacaan yang lebih ilmiah (ini sih kewajiban karena sudah semester tua), lebih selektif lagi menentukan prioritas bacaan, jangan takut memilih topik bacaan yang tidak familiar (asal bagus dan direkomendasi pihak-pihak terpercaya) dan tentu saja, jangan mengurangi jam baca.

Foto: Pexels

Iklan

12 thoughts on “Kampanye ‘Budayakan Membaca’, Masih Pentingkah?

  1. Banyaknya topik berseliweran juga menurunkan kemampuan fokus dan konsentrasi. Bagi pembaca media online terutama, sangat jarang mendalami suatu topik secara komperhensif. Akibatnyaa… ya reaktif. Pertikaian pun terjadi bukan hanya karena kurang piknik, melainkan juga kurang baca. *ah ngomong apa saya* XD

    1. Iyaaa setuju banget niii. Kebanyakan baca berita online yang satu post cuma 200-300 kata, ketika sekalinya baca liputan dua halaman di majalah atau koran, udah jenuh. Padahal berita-berita online kebanyakan penyajiannya kering dan kurang menyeluruh

  2. Klo baca saya selang seling. Habis baca fiksi, maka selanjutnya non fiksi, lalu fiksi lagi begitu seterusnya.

    Cuma udah 3 hari terakhir malas sekali melanjutkan baca buku indonesia dikhianati. Tinggal 100 halaman lagi.

    1. Iyaaa saya juga gitu Mas, selang seling bacanya, biar ga bosenn. Dulu pernah selang selingnya buku Indo-Inggris, tapi ga kuat lagi​ kayaj gitu, sekarang bacaannya Indonesia mulu

      1. Klo inggris sempat mikir, udah download bukunya malah. Cuma saya malas soalnya klo baca inggris mesti sering2 buka kamus wkwkw…..

  3. Harus tetap digalakkan. Soalnya kawan2 saya seangkatan saja yang sudah melek pendidikan tinggi, masih punya pemikiran kuno yang sulit dirubah perihal membaca buku. Takutnya nanti nurun ke generasi bawahnya. 😁

    1. Tapi kalo menurutku lebih digalakkan ke ‘ayo jangan baca yg ga penting’ atau ‘yuk cari bacaan bagus, banyak di sana’. Jadi ga sekadar suka baca dan ningkatin waktu baca dalam sehari gitu Kakk. Beberapa temenku juga hobi baca, dan hobinya itu agak gimana ya karena bacaannya yaa teenlit menye-menye. Mungkin aku terlalu apatis sama teenlit kali ya

      1. Hahaha.. sabar kak..
        Setiap orang punya pilihan dan hobinya masing2 Kak.
        Yang penting masih suka membaca buku. Kadang yang kita anggap gak penting, mungkin saja penting bagi mereka. Dan mungkin saja yang kita baca, dianggap gak penting bagi mereka, padahal penting banget, ‘bagi kita sendiri’. Hehe.

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s