Dari Saya · Harian · Tulisan

Puasa Selamanya

 

Pemakaman ramai. Hal yang lazim di hari-hari menjelang bulan puasa. Lebih dari sepertiga warga di kota Dila punya budaya nyekar sebelum bulan puasa. Termasuk juga, Dila.

Gadis itu berjalan, menuju pusara yang ia hapal letaknya karena frekuensi kunjungannya yang tinggi. Beberapa kali ia menyapa teman-teman yang berpapasan dengannya. Ia merasa beruntung tidak ada satupun yang menanyakan makam siapakah yang ia kunjungi, terlebih karena orang-orang pasti sulit memahami arti kunjungannya.

Baginya, nyekar bukan sesuatu yang sakral. Nyekar adalah momen untuk  menyegarkan ingatan bahwa suatu saat dirinya akan usai bernapas. Kadang, ingatan seperti ini mampu membuat hari-harinya lebih produktif. Nyekar juga momen untuk menyadari bahwa semudah itu orang-orang pergi ke dunia pasca kematian. Dunia yang tidak bisa Dila bayangkan. Terutama, nyekar adalah momen bagi Dila untuk membuktikan bahwa ia tidak pernah mengingkari ikrarnya. Lebih tepatnya, nyekar ke pusara yang ia tuju itulah yang membuktikan bahwa ia tidak melepas ikrarnya, bahkan setelah tahun-tahun berlalu.

Dila tiba di depan pusara itu. Pusara yang di dalamnya berbaring orang yang tidak pernah sanggup Dila berhenti peduli. Ia bergeser ke samping makam, kemudian berjongkok. Alih-alih memanjatkan doa, ia mengeluarkan gunting rumput dan mulai menggunting rapi rumput liar yang memanjang di permukaan tanah makam itu. Kemudian, membersihkan potongan-potongan rumput. Dila mengeluarkan kantong plastik yang sudah ia siapkan untuk menampung potongan-potongan rumput itu. Setelah bersih, ia menaburi bunga. Sebenarnya ia ragu, apakah menaburi bunga ini hal yang baik atau tidak, karena kelopak-kelopak bunga ini akan layu dan membusuk esok, dan itu tidak mempercantik makam ini.

Hening sebentar setelah menaburi bunga, tatapan dan tubuh kurus gadis itu tak bergeming dari menghadap makam. Setelah beberapa saat, ia berdiri. Merasa cukup. Kemudian, berbalik pergi.

“Kamu belum doa, Dila,” seru sebuah suara di belakangnya. Kaget, Dila berbalik. Tujuh meter di hadapannya, duduk di bangku taman pemakaman, duduk seorang perempuan paruh baya yang Dila kenal.

“Ya Tuhan,” gumam Dila. Kemudian mempercepat langkahnya menuju perempuan itu. Setiba di hadapan, ia meraih tangan perempuan itu dan menciumnya. Perempuan itu merengkuh bahu Dila, membuat rindu di diri Dila semakin menggelegak.

“Tante Nina, sudah berapa lama di sini?” tanya Dila.

Perempuan paruh baya itu, Tante Nina, tersenyum. “Nggak lama setelah kamu tiba. Tante jalan beberapa meter di belakangmu, dan memutuskan untuk duduk dulu. Sekaligus, memperhatikan kamu.”

“Tante… apa kabar? Ya Tuhan, lama sekali kita nggak ketemu,” ucap Dila.

“Baik,” Tante Nina menjawab sekilas, kemudian diam sesaat. “Kamu… Ternyata selama bertahun-tahun ini ya? Tante selalu heran kenapa rumput makam selalu rapi. Seberapa sering?”

“Apanya?”

“Bertandang ke sini, tentu saja. Ke makam putra semata wayang Tante, dan membersihkannya. Pasti kamu tidak ke sini hanya saat nyekar sebelum puasa, kan?”

Dila merasa tidak perlu menjawab. Tante Nina mengenalnya  dua windu yang lalu, sejak usianya sepuluh tahun. Perempuan itu memahami Dila dengan baik, meski mereka tidak sering bertemu dan mengobrol.

“Kenapa kamu cuma jadi pemotong rumput? Kenapa kamu nggak doakan ia, Dila?”

Dila diam sesaat sebelum menjawab.

“Doakan? Sulit berdoa sungguh-sungguh di tempat terbuka dan ramai kayak gini,” jelas Dila. “Jadi Dila nggak melakukannya di makam, Tante. Tapi Dila melakukannya di menit pertama Dila bangun pagi dan menit sebelum Dila tidur malam. Sering juga ketika lagi sendirian. Dan menyisipkannya di tulisan atau karya-karya Dila yang lain. Dan yah, pokoknya kapanpun Dila sempat.”

Tante Nina melepas rengkuhannya, kemudian menghadap Dila, menatap wajah pucat gadis itu.

“Kamu selalu menyempatkan diri, kan?”

Lagi, ia merasa tidak perlu menjawab. Alih-alih, ia balik bertanya, agak menuding, “Tante pasti udah duduk di sini lama. Nggak manggil Dila dari tadi. Kenapa Tante nunggu Dila selesai?”

Tante Nina diam, tidak menjawab. Kemudian menatap Dila sungguh-sungguh. “Dila, dengar. Tante senang sekali ketemu kamu. Kita udah setahun lebih nggak ketemu. Tapi, Tante agak resah ketemu kamu di makam Surya. Makam ini sudah lama sekali, Dila. Dua tahun. Dan… sebaiknya kamu nggak usah datang ke sini lagi. Tante khawatir akan kamu.”

Dila tersenyum. “Jangan berpikir begitu, Tante. Dila tidak menyesali kematiannya atau berharap Surya balik atau apalah itu. Dila paham bahwa tidak baik meratap atau sedih terus menerus, kok. Dila di sini tidak meratap atau sedih. Dila ke sini untuk ingat kalau nanti hidup akan selesai. Apalagi menjelang puasa begini, ramai orang nyekar, sekalian Dila bisa ketemu teman-teman,” Dila berhenti sebentar. “Yah, tapi yang paling penting, Tante, nyekar ke sini ampuh buat mempertegas komitmen Dila sendiri.”

“Komitmen terhadap Surya?”

Lagi-lagi, Dila tidak menjawab.

“Bahkan Surya sendiri tidak pernah memperhatikanmu, Dil, meski sedikit.”

“Kita memperhatikan dan peduli pada orang lain bukan untuk diperhatikan balik kan. Tante pasti mengerti. Dan Dila paham ada banyak perempuan yang harus Surya perhatikan di harinya; Tante, tiga adiknya, dan Vina. Jadi, tidak diperhatikan bukan masalah besar.”

“Jangan, Dil. Kamu masih muda, pergi dan bertemanlah banyak-banyak. Jangan terpaku di sini. Yah, kamu nggak perlu berkomitmen terhadap orang yang sudah tidak hidup lagi,” saran Tante Nina. “Itu.. menyia-nyiakan masa depanmu.”

“Nggak, Tante. Selama ini Dila ingin tahu seberapa kuat komitmen Dila bisa bertahan–ternyata masih sampai hari ini. Komitmen ini juga nggak mengekang dan melemahkan Dila kok. Alih-alih, memperkuat. Jika nanti ada yang bertanya soal Surya, Tante bisa katakan hebatnya bisa membuat anak plin-plan seperti Dila punya komitmen sekuat ini. Yah, kapan-kapan Tante harus lihat karya-karya Dila yang diinspirasi Surya.”

“Tidakkah kamu menginginkan orang lain selain Surya?” tanya Tante Nina.

Dila menggeleng.

“Kamu tau Surya sudah mati.”

“Tante, bagaimana pun wujud Surya: sosok yang bisa Dila lihat naik-turun bahunya, atau sosok yang Dila lihat langkahnya dari jauh, atau sebuah akun Facebook yang kerap memuja Tante sebagai ibu, atau tokoh di ingatan manis yang tidak pernah bisa dijangkau lagi, atau pusara, Dila tidak akan berbalik. Dan itu nggak melemahkan Dila. Alih-alih, memperkuat.”

“Yah,” Tante Nina memilih untuk tidak melanjutkan. “Semoga yang terbaik buatmu.”

“Dan semoga yang jauh lebih baik untuk Tante,” ucap Dila riang. Dila menyalami perempuan itu. “Lebaran ada di rumah kan? Dila main ya.”

“Harus, kamu main ke rumah. Nanti Tante siapin ketupat banyak kok,” Tante Nina menepuk bahu Dila. “Selamat puasa ya Dil.”

“Selamanya, Tante,” Dila nyengir. Kemudian melambai, dan pergi.

Selamanya.

Iklan

4 thoughts on “Puasa Selamanya

  1. Wah klo komitmen terhadap orang yg sudah mati kelihatan menyedihkan. Harusnya move on tuh dila dan memahami bahwa satu kematian seharusnya tidak mebghentikan kehidupan lainnya.

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s