Dari Saya · Resensi · Tulisan

Film Kartini (2017): Tentang Kebangkitan Perempuan

Beberapa minggu lalu, Legacy Pictures meluncurkan satu film sangat menarik berjudul Kartini, tepat di pekan peringatan Hari Kartini di minggu ketiga April lalu. Dimainkan oleh Dian Sastro sebagai tokoh utama.

Aku antusias sekali menonton film ini karena ini film sejarah dan produksi lokal. Meski sebenarnya tajuknya tidak menarik–Kartini, bukan tokoh sejarah yang kukagumi benar–tidak seperti film Tjokroaminoto, Soekarno, dan beberapa film sejarah-biografi lainnya.

Filmnya dibuat dengan bagus, penggambaran pemain lumayan, konteks yang dihadirkan mengena. Takjub, melihat bagaimana film ini disajikan. Tokohnya bercakap-cakap dalam bahasa Jawa atau bahasa Belanda, sehingga sepanjang film selalu ada subteks. Aku bertanya-tanya bagaimana para pemain itu belajar bicara Jawa dan Belanda, bagaimana mereka berlatih ya? Konteks, mulai dari latar tempat, orang-orang, gaya busana, bahasa, dan elemen-elemen lainnya dihadirkan sangat apik, tergambar dengan baik.  Pendopo tempat Kartini bermukim, kamar ia dan adik-adiknya, rumah-rumah Belanda, bengkel ukir, dan tempat-tempat lainnya, juga pakaian orang-orangnya, mulai dari Raden, putri-putrinya, abdi, pekerja, dan para Belanda, sangat mendukung nuansa cerita, yang mana latar waktunya adalah abad 20. Nggak ngebayang ini gimana riset soal konteksnya sampai bisa menghadirkan suasana masa itu sebegini hidup. Takjub. Lainnya, plotnya bagus sekali, diatur dengan baik, anekdot ditempatkan dengan tepat, dan bahkan beberapa adegan sungguh-sungguh menyentuh.

Tapi, di samping takjub akan penyajian filmnya, aku agak jengah. Bagaimanapun juga, ini adalah produk film, yang lazim dengan penggambaran yang penuh dengan interpretasi tim pembuatnya bahkan ada cuplikan-cuplikan bikin-bikinan yang berfungsi sebagai bumbu yang membuat film makin hidup. Bagus banget, keren, tapi secara keseluruhan, menurutku, film ini semakin mencitrakan Kartini sebagai pahlawan di tengah masyarakat yang segitu piciknya.

Padahal, tidak seperti itu. Kartini (setidaknya bagiku) nggak seagung itu dan masyarakat Jawa nggak serendah itu. Di film, digambarkan dengan jelas kepahlawanan Kartini, baik sebagai panutan adik-adiknya, inspirasi bagi teman-teman Belandanya, pelopor bangkitnya seni ukir Jepara, dan pendobrak nilai-nilai primordial yang menghambat kemajuan; juga menggambarkan dengan jelas kepicikan masyarakat Jawa pada masa itu: sangat patriarkis, stratifikasi sosial yang sangat kental, dan aturan-aturan adat yang ketat dan minim nilai. Jadi, inti film ini jelas: Kartini, menjadi pahlawan karena menjadi pendobrak sistem sosial Jawa.

Di Indonesia bagian lain, Sumatra, misalnya, ada Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Rasuna Said, Rohana Kudus, dan Malahayati. Perempuan-perempuan yang pikirannya sudah bisa bebas dan kakinya menumpu cita-citanya, tanpa perlu memberontak dari adat. Sementara itu Kartini harus berjuang super keras untuk bisa keluar dari pingitan, untuk sekadar jadi pintar. Apakah itu salah adat Jawa yang sepatriarki itu?

Opiniku, bahwa budaya Jawa nggak sepicik dan sepatriarki ini, setidaknya sebelum Belanda datang. Contohnya adalah Serat Centhini (beberapa jilid pertama yang kubaca menggambarkan tidak ada dominasi kedudukan dari salah satu jenis kelamin; keduanya sama), relief-relief di candi-candi Jawa yang di sana digambarkan pula aktivitas-aktivitas perempuan sebagaimana laki-laki, dan beberapa prasasti dan karya sastra Jawa Kuno yang menerangkan bahwa ada perempuan-perempuan yang jadi pemimpin bahkan hingga ke tingkat kerajaan). Namun, kolonialisme datang dan ya, menghancurkan banyak. Dari mengadu domba bapak-anak di Banten, melenakan pemimpin-pemimpin dengan perlakuan spesial, dan banyak konteks lainnya yang dibangun oleh Kompeni dan tetap jadi opini publik hingga sekarang, yang mungkin salah satunya adalah mengurung perempuan. Ya Eropa masa lalu itu patriarki banget, sementara Jawa tidak separah itu. Selain itu, kedekatan Kartini dengan banyak orang Belanda bisa jadi dicuci otak, sehingga dia menganggap lingkungannya sepicik itu padahal mungkin aslinya tidak. Hahaha.

Yah, aku tidak terlalu suka membahas Kartini, apalagi merayakan hari lahirnya. Hari-hari peringatan seperti Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, Hari Kasih Sayang, dan lain-lainnya adalah omong kosong. Hari-hari itu hanya momentum  yang biasanya difungsikan secara ekonomi alih-alih sosial, misalnya dengan.promo diskon yang membuat masyarakat tergoda untuk membeli apa yang sebenarnya mereka tidak butuh.

Kembali ke film, secara keseluruhan, Kartini ini menakjubkan. Disajikan dengan bagus, rekomen!

Iklan

9 thoughts on “Film Kartini (2017): Tentang Kebangkitan Perempuan

    1. Mungkin kalo ngajak trus dibayarin pada mai Kak wwkwk.

      Ngomong-ngomong, nonton sendiri aja Kakk wkwkwk. Saya kalo nonton sendiri terus, biar bebas mau pilih nonton apa, dimana, dan ga masalah kalo mau cabut duluan.

      1. Gk pernah nonton sendiri loh prit,, hhaahaa….
        Tmnku mssih gk bs muv dr ksusny mbk disas jd ya pda mles, gk nyka bs brpngruh😱

      2. Wah padahal kan itu cuman kejadian kecil, bahkan sutradaranya udah minta maaf… Sayang sekali sih tapi ya kesalahan kecil kayak gitu kadang emang bisa jadi fatal. Jadi inget Ahok. Hahaha

  1. Reviewnya oke banget! Ulasannya tentang masyarakat Jawa juga sepertinya mengena. Saya bukan orang Jawa dan jelas tak paham dengan adat istiadatnya, tapi saya yang orang sulawesi menikmati adat-istiadat daerah yang kalau dipikir lebih dalam lagi seolah mengAGAMAkan tradisi 😀

    Dan saya belum nonton Kartini! Karena gosiiipnya si pemeran utama itu kasar kepada fans! wkwkwkwkwkwk

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s