Dari Saya · Resensi · Tulisan

Resensi Lima Lusin Buku: Buku di 2015 (Paruh Pertama)

ilustrasi-blog-07
Baca lebih dari lima lusin buku dalam setahun? Rasanya saya nggak pernah membaca lebih banyak dari ini. Rupanya saya jauh lebih pengangguran dari pada tahun-tahun lalu, sehingga punya banyak waktu baca.

Untuk merangkum lima lusin buku itu, saya menulis daftar judul dan resensi singkat masing-masing buku. Tulisan ini dibagi jadi dua post, supaya nggak kepanjangan. Setiap buku saya sertakan judul, nama penulis, penerbit, tahun terbit, jenis, penilaian, dan opini saya. Soalnya terlalu banyak (atau terlalu males?) kalo diresensikan satu per satu. Dan ditekankan: resensi singkat ini sangat subjektif karena semata dari pandangan saya yang berwawasan seadanya.

Jadiii inilah bacaan selama 2015!

JANUARI

buku januari

  1. Zaynur Ridwan: Book of Codes. Novel tentang konspirasi ekonomi. Ga menarik buat saya.
  2. Christopher K. Passante: Complete Ideal’s Guide to Journalism. Tentang etika dan tata cara dalam jurnalistik. Bahasa ringan, isinya runut dan rapi.
  3. Jeff Kinney: Diary of Wimpy Kid 6 Cabin Fever Steven. Lucu dan ringan, tapi masih lebih suka jurnal Amelia karya Marissa Moss.
  4. Sinta Yudisia: Takhta Awan. Novel sejarah tentang perkembangan Islam di Mongol. Mencandu, seperti buku Sinta Yudisia yang lain.
  5. Torey Hayden: Mereka Bukan Anakku. Seperti biasa, tidak pernah bosan membaca jurnal Torey Hayden, psikiater yang menulis dengan sangat menarik.
  6. Cok Sawitri: Sutasoma. Merupakan penceritaan kembali kisah Sutasoma yang didasarkan pada cerita lisan yang diketahui penulis, di samping cerita sama dalam naskah kuno yang ditulis Mpu Tantular dengan judul Porusadha (sang penulis tidak membaca naskahnya) –sumber-.
  7. Steven D. Levitt & Stephen Dubner: Freakonomics. Menakjubkan, melihat bagaimana sebenarnya dunia bekerja!
  8. Ahmad Mansur Suryanegara: Api Sejarah. Tidak direkomendasikan sebagai bacaan sejarah yang akurat. Saya menemukan beberapa ketimpangan, kalimat yang kontradiksi dengan kalimat sebelumnya. Tapi nggak buruk-buruk amat.

 

FEBRUARI

buku februari

  1. Vicky Myron, Bret Witter: Dewey Datang Lagi. Kumpulan kisah orang-orang mengenai pengalaman mereka dengan kucing. Agak membosankan, tapi masih lebih baik dari Dewey. Saya bukan pecinta hewan peliharaan, hehehe.
  2. Tere Liye: Negeri di Ujung Tanduk. Tidak terlalu mengesankan, karena saya memang sulit menikmati buku-buku Tere Liye.
  3. Ahmad Mansur Suryanegara: Api Sejarah 2. Baca ini karena penasaran apakah isinya lebih baik dari Api Sejarah 1, tapi rasanya sama saja. Malah saya menemukan lebih banyak ketimpangan.

 

MARET

buku maret

  1. Pidi Baiq: Dilan. Rasanya buku-buku Pidi Baiq yang lain lebih baik dari ini, mungkin karena memang nggak selera dengan tema seperti ini.
  2. Ayu Utami: Saman. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan sekaligus indah. Lupa ceritanya, kurang berkesan. Tapi bukan buku jelek. Saya sendiri ingin baca karya Ayu Utami yang lain.
  3. Lewis Caroll: Alice in Wonderland. Wah, setelah nonton filmnya keluaran berbagai versi, baru kali ini baca bukunya. Asyik! Celetukan dan pikiran para tokoh di bukunya, serta alurnya, disusun cerdas dan jenaka. Dan senang karena bahasanya sederhana–saya baca versi Inggrisnya–jadi lumayan lancar lah bacanya.

 

APRIL

buku april

  1. Neil Gaiman: Coraline. Novel misteri anak yang ringan, tapi berkesan kuat karena alur dan konfliknya dibangun dengan sistematis. Selain itu, idenya–tersesat ke dunia duplikat yang penuh muslihat–menarik banget!
  2. Ernest Hemingway: Lelaki Tua dan Laut. Kayak esai yang panjang, karena nggak terbagi jadi bab. Cukup tipis–nggak sampai 100 halaman kalau nggak salah ingat–tapi berkesan. Ditulis dengan cantik, juga beberapa bagian bisa jadi bahan perenungan yang asyik.
  3. Austin Kleon: Steal Like an Artist. Wah, jenis buku yang harus dibaca semua umat! Penyampaiannya persuasif dan memang mengundang kita untuk jadi orang yang kreatif produktif.
  4. Mice: Indonesia Banget. Lagi belajar menikmati komik lokal. Apalagi karya Mice yang notabene memotret keadaan sosial di sekitar. Nyeleneh dan jenaka, komik Mice memang media yang ngena untuk mengkritik.
  5. John Grisham: Theodore Boone, Kid Lawyer. Novel misteri, teka-tekinya nggak gampang ketebak sehingga buku ini mencandu. Lebih suka baca ini daripada Agatha Christie, terlalu berat huf, pembunuhan mulu.
  6. David Lauer & Stephen Rentak: Design Basic 7th Edition. Menyampaikan beberapa dasar dalam desain. Tapi karena berbahasa Inggris dan terlalu tebal, saya nggak terlalu menikmatinya. Tapi contoh ilustrasi yang dimuat buku ini menarik-menarik!

 

MEI

buku mei

  1. Stephen Heller & Lita Talarico: Design School. Merupakan kumpulan proyek desain oleh mahasiswa dari berbagai universitas seni rupa terkemuka dunia. Inspiratif, pasti!
  2. John Grisham: The Client. Lebih seru dari Theodore Boone, karena konfliknya greget: dua bersaudara yang jadi korban percobaan pembunuhan karena menggagalkan aksi bunuh diri si pelaku. Motif bunuh diri si pelaku ini sungguh jadi teka-teki yang bikin ini jadi jenis buku yang harus tamat sekali duduk.
  3. Putu Wijaya: Tetralogi Dangdut #2, Mala. Duh, sayangnya nggak baca Nora, jilid pertama tetralogi ini, sehingga agak nggak nyambung. Tapi karya Putu Wijaya selalu asyik karena gaya menulis surealisnya yang khas cerdas sekaligus sarkastik.
  4. Joanne Kathleen Rowling: Casual Vacancy. Fiksi dewasa yang diramu dengan cerdas dan mengagumkan. Konflik yang bertumpuk-tumpuk mengarah pada satu puncak masalah, sehingga cerita jadi berwarna. Duh, siapa sih, yang meragukan karya penulis ini?

 

JUNI

buku juni

  1. Dee Lestari: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sebelumnya udah baca Perahu Kertas-nya Dee, dan nggak terlalu menikmati. Tapi ingin baca serial karena resensinya menarik, dan tampaknya ini fiksi ilmiah. Jarang ada penulis lokal yang nulis fiksi ilmiah kan. Buku pertama, konfliknya agak standar, tapi lumayan persuasif untuk mengundang pembaca untuk baca buku berikutnya.
  2. Dee Lestari: Akar. Jauh lebih menarik dan mencandu dari buku pertama.
  3. Dee Lestari: Petir. Menarik dan mencandu juga, senang bacanya. Rasanya, ingin cepat-cepat menamatkan serial ini–padahal saat itu Intelegensi Embun Pagi belum terbit.
  4. Dee Lestari: Partikel. Awalnya lebih menarik dari buku-buku sebelumnya, tapi di sepertiga bagian terakhir, kok makin nggak asyik ya? Karena nuansanya makin nggak fiksi ilmiah. Alih-alih, saya dapat kesan ngawur. Tadinya ingin lanjut ke Gelombang, tapi ketika minta saran adik saya, buku itu nggak cukup rekomen.

 

Nah, ternyata Januari-Juni 2015 lalu saya berhasil baca 28 buku. Ada yang udah pernah Anda baca juga? Tukar pendapat yuk! Atau, silakan banget kalo mau rekomen buku favorit!

Oh iya, masih ada 38 buku yang saya baca di Juli-Desember 2015. Dilanjutkan ke sini!

Saya juga meresensi beberapa buku lain di kategori resensi. Saya juga baru memperbarui ini, daftar buku yang udah dibaca (terdata 300 buku lebih):

spanduk-11

Seluruh cover buku diambil dari internet

Iklan

5 thoughts on “Resensi Lima Lusin Buku: Buku di 2015 (Paruh Pertama)

    1. Itu karena taun kemaren punya target 60 buku dan banyak waktu luang, rasanya nganggur parah, hahaha.

      Tapi tahun ini saya juga sebulan satu buku. Saya nggak terlalu sering baca di internet, apalagi makin ke sini makin jarang (terutama berita). Mentok-mentok blogwalk doang huhu:(

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s