Dari Saya · Resensi · Tulisan

Resensi Lima Lusin Buku: Buku di 2015 (Paruh Kedua)

ilustrasi-blog-08

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Resensi Lima Lusin Buku: Buku di 2015 (Paruh Pertama).

Nah, ini 38 buku di paruh akhir 2015! Setiap buku saya sertakan judul, nama penulis, penerbit, tahun terbit, jenis, penilaian, dan opini saya. Dan ditekankan: resensi singkat ini sangat subjektif karena semata dari pandangan saya yang berwawasan seadanya.

 

JULI

buku-juli

  1. Robert Galbraith: Cuckoo’s Calling. Meski genre yang ditulis Galbraith (J. K. Rowling) ini detektif (mengingat sebelumnya ia sukses besar menulis kisah fantasi Harry Potter dan fiksi kontemporer Casual Vacancy), ciri khas penulis masih jelas: cara menceritakan detail dan mendeskripsikan karakter.
  2. Marcel Bonnef: Komik Indonesia. Sejarah komik Indonesia, dari perkembangannya dan komik luar yang mempengaruhinya. Penulisnya adalah seorang Jerman, yang menulis buku ini sebagai disertasinya.
  3. Sir Arthur Conan Doyle: Sherlock Holmes, The Adventures. Kumpulan kasus yang diselesaikan Sherlock Holmes. Buku Sherlock Holmes pertama yang saya baca, dan rasanya saya lebih suka ini daripada Agatha Christie, mungkin karena ceritanya lebih ringan dan pendek. Agatha Christie agak terlalu menegangkan karena kasusnya melulu pembunuhan.
  4. Soe Hok Gie: Zaman Peralihan. Catatan Soe Hok Gie yang pertama saya baca. Suka, karena gaya beliau yang lugas menuliskan pemikirannya.
  5. Mark Twain (retold): Prince and The Pauper. Cerita yang menarik, satu dari sedikit novel klasik yang saya nikmati.

AGUSTUS

buku-agustus

  1. Putu Wijaya: Tulalit. Seperti biasanya; sureal, nyeleneh, dan berlatar kehidupan lokal. Nggak pernah nggak menikmati buku Putu Wijaya!
  2. Yudhi Heribowo: Untung Surapati. Fiksi sejarah mengenai memoar Untung Surapati, gaya penceritaannya menarik dan tidak membosankan.
  3. Tasaro GK: Samita, Bintang Berpijar di Langit Majapahit. Fiksi sejarah tentang putri masa Majapahit. Buku Tasaro GK nggak pernah bosen deh.
  4. Drs. Budiaman: Folklore Betawi. Kumpulan berbagai mitos dan legenda di masyarakat Betawi.
  5. Sapardi Djoko Damono: Pengarang Telah Mati. Kumpulan cerita. Keren, dan kesannya nyastra banget.
  6. Robert Galbraith: The Silkworm. Nama seringkali jadi jaminan, dan tentu saja, karya Rowling selalu bikin kecanduan membaca. Lebih seru dari Cuckoo’s Calling.
  7. H.C.C. Clockener Brousson: Batavia Awal Abad 20. Tuturan mengenai kondisi Batavia di masa kolonial melalui mata seorang Belanda.
  8. Benny Rachmadi: Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura. Sama menariknya seperti karya Benny maupun Benny-Mice yang lain: kritis menggelitik, dan visualisasinya khas dan menarik. ‘Bercerai’ dari Mice dalam menerbitkan buku, menurut saya, buku masing-masing mereka berdua tidak jauh berbeda dengan buku yang mereka tulis bersama.
  9. J. K. Rowling Harry Potter #1. Karena sebelumnya udah baca lengkap serial Harry Potter, maka baca ulang buku pertamanya makin bikin kagum dengan Rowling.
  10. J. K. Rowling Harry Potter #2. Cerita mengenai teror selalu seruuuu!
  11. J. K. Rowling Harry Potter #3. Yang paling menarik, tentu saja kemunculan Sirius Black sebagai kambing hitam (dalam wujud serigala hitam) dan paradoks akan sosoknya. Rowling meramunya dengan mengesankan.

SEPTEMBER

buku-september

  1. J. K. Rowling: Harry Potter #4. Ini buku Harry Potter yang menyebalkan, karena Harry tidak habis-habis dikambinghitamkan oleh guru PTIH palsu. Reputasinya hancur, apa yang ia tanggung terlalu berat, dan pada akhirnya, bertemu dengan wujud Voldemort dan membawa pulang jasad Cedric Digggory.
  2. J. K. Rowling: Harry Potter #5. Lebih menyebalkan dari HP #4, karena ia makin tidak dipercaya dan makin banyak dituduh. Sirius Black juga meninggal di buku ini. Sangat menyebalkan, sehingga tidak sabar menamatkan (lagi) serial ini.
  3. J. K. Rowling: Harry Potter #6. Suka sekali baca bagian kelas privat dengan Dumbledore, karena kenangan dan diskusi mengenai Tom Marvolo Riddle membuka banyak tabir, yang kemudian sampai ke inti tujuan: penghancuran Horcrux. Klimaks yang benar-benar bagus dengan kematian Dumbledore.
  4. J. K. Rowling: Harry Potter #7. Makin banyak kisah terungkap, hanya saja terlalu banyak untuk satu buku. Yah, tidak apa-apa sih, jadi semuanya sudah selesai di satu buku ini. Bagian favorit saya adalah kematian Snape dan kenangannya, tentu saja. Severus Snape segera jadi tokoh Harry Potter favorit para penggemar setelah buku ini keluar.
  5. Seth Gordon: Purple Cow. Buku tipis yang benar-benar memancing kita untuk mencari ‘sapi ungu’!
  6. Dee Lestari: Madre. Kirain akan berbeda dengan buku-buku sebelumnya, tapi ternyata sama aja. Eh, sedikit lebih baik, sih. Setelah ini, nggak tertarik dengan karya Dee lagi.
  7. Andrea Hirata: Ayah. Ditulis dengan ringan dan gaya menarik penuh hiperbola jenaka ala Andrea Hirata. Tapi konfliknya nggak seru.

 

OKTOBER

buku-oktober

  1. Agatha Christie: Tirai. Nggak pernah kapok baca karya Agatha Christie (meski kadang merasa teralalu berat), karena beliau variatif sekali bikin cerita.
  2. Mike Kusika: Merrry Riana Mimpi Sejuta Dolar Graphic Novel. Komik yang bagus, Sayangnya, karena belum membaca Mimpi Sejuta Dolar yang ditulis Alberthiene Endah, saya nggak bisa menilai gimana hubungan kedua buku itu.

 

NOVEMBER

buku-november

  1. Ngabei Ranggasutrana, dkk. (Penerjemah): Serat Centhini Jilid I. Keren sih, tapi Jawa bangettt. Sangat banyak bagian yang saya nggak nyambung bacanya. Tapi saya rasa, penggemar budaya dan susatra Jawa akan menikmati ini.
  2. Beatrix Potter: Beatrix Potter Collection Volume I. Ini semacam cerpen-cerpen gitu, gambarnya sedikit. Nggak terlalu asyik. Padahal, yang saya sukai dari cerita Beatrix Potter adalah ilustrasinya.
  3. Jostein Gaarder: Perpustakaan Bibbi Bokken. Seperti buku beliau lainnya: unik, idenya agak surealis, dan mencandu.
  4. Faza Meonk: Si Juki Cari Kerja. Akhirnya baca komik lagi! Suka sama visualnya.
  5. Kathryn Littlewood: Dash of Magic. Buku kedua Bliss, tapi tidak lebih bagus dari yang pertama. Sehingga nggak kepengen lanjut ke buku ketiga.
  6. Pierdomenico Baccalario: Ulysses Moore 6, Kunci Utama. Perjalanan ketiga anak yang jadi tokoh utama semakin rumit dan menegangkan.

 

DESEMBER

buku-desember

  1. Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni. Antologi puisi yang bagus, mengesankan. Cara Sapardi menulis indah, saya suka. Banyak puisi-puisi mengenai atau berlatar kota-kota di Jawa Tengah. *
  2. Ngabei Ranggasutrana, dkk. (Penerjemah): Serat Centhini Jilid II. Mencoba melanjutkan jilid berikutnya, meski sama seperti saat baca yang pertama: nggak terlalu menikmati.
  3. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Religi dan Falsafah (Draft). Baca ini sebenernya karena tuntutan mata kuliah. Membuka wawasan akan religi-religi asli di Indonesia, sehingga bisa dipahami mengapa penduduk Indonesia yang menganut agama-agama besar dunia punya karakteristik ritual ibadah yang berbeda dengan di luar negeri.
  4. Antoine de Saint-Exupéry: Pangeran Cilik (Le Petit Prince). Benar-benar mengesankan. Satu dari sedikit buku yang menurut saya benar-benar harus dibaca semua orang. Banyak realita yang digambarkan dengan unik, mengajak pembaca untuk melihat dari sudut pandang khas anak-anak: jujur.
  5. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Seni Rupa dan Desain. Menjelaskan sejarah perkembangan seni rupa di Indonesia hingga masuk ke desain grafis, juga komunitas-komunitas yang berkembang, dan gaya dan tren yang pernah ada.
  6. Nagarakrtagama. Kakawin (syair) Jawa Kuno dari abad 14, ada transliterasi bahasa Jawa Kuno-nya dan ada terjemahan ke bahasa Indonesianya juga.
  7. Tio Tek Hong: Keadaan Jakarta Tempo Doeloe. Jakarta masa kolonial yang ditulis melalui perspektif penduduk etnis Tionghoa.

 

Total 66 buku! Yeay! Ternyata saya cukup pengangguran buat baca buku sebanyak ini. Dan yang agak disesali, di 2015 ini saya memprioritaskan jumlah buku, bukan kualitas baca. Jadinya baca buku karena ngejar kuantitas, bukan isi bukunya. Semoga kedepannya bisa ningkatin kualitas baca dengan nulis banyak resensi, semoga!

Oh yaaaa buku favorit saya dari ke-66 buku itu adalah:

287429_8624464e-fce2-11e4-b3d7-93b164efb121

Komik Indonesia, oleh Marcell Bonnef.

Buku ini merupakan disertasi beliau pada tahun 19xx, isinya cukup menyeluruh tentang dalam ngebahas komik Indonesia. Mulai dari dinamikanya di masyarakat, kejayaannya, beberapa judul yang pernah begitu populer, pengaruh luar dan tren, jenis pembaca, semuanya dibahas. Bahwa dulu pernah ada seri komik lokal dengan basis fiksi-ilmiah, bercerita tentang seorang kapten yang menjelajah luar angkasa. Banyak hal menarik yang saya nggak sangka kalau pernah ada di sejarah komik Indonesia.

Daaan makasih banyak pada para penyuplai buku tahun ini: perpus kampus, Muti, Nisa, toko-toko buku, dan beberapa teman yang bersedia minjemin buku. Tahun ini buku yang saya beli nggak sampe sejumlah jari satu tangan, tapi bisa baca buku sebanyak ini berkat pinjeman dan numpang baca.

Kalau temen-temen, berapa banyak buku yang dibaca setahun kemarin? Buku apa yang paling menarik? Rekomen saya dong!

Saya juga meresensi beberapa buku lain di kategori resensi. Saya juga baru memperbarui ini, daftar buku yang udah dibaca (terdata 300 buku lebih):

spanduk-11

Seluruh cover buku diambil dari internet

Iklan

7 thoughts on “Resensi Lima Lusin Buku: Buku di 2015 (Paruh Kedua)

    1. Saya malah baca yg terjemahannya, terbitan Gramedia kalo nggak salah. Sampulnya warna putih. Di Gramed Depok sih ada Mas. Soalnya versi Inggrisnya punyanya digital, males baca digital, dan males juga baca bahasa Inggris hahaha

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s