Dari Saya · Harian · Tulisan

Tumbuh Bersamanya

Seorang perempuan kurus berkata pada pemuda jangkung di depannya.

“Kau sempurna,” perempuan itu berkata.

Sang pemuda menggeleng. “Tidak ada manusia yang sempurna, dan itu adalah hal klise yang sudah diketahui seluruh dunia.”

Si gadis mengernyit. “Lalu, kenapa tidak ada yang bisa kukeluhkan darimu?”

“Mungkin, kau belum cukup mengenalku.”

“Aku sudah mengenalmu sejak lebih dari sedekade yang lalu, kan.”

“Bukan masalah seberapa lama,” koreksi si pemuda. “Tapi seberapa dalam, seberapa dekat.”

***

Belasan tahun berjalan cepat dari hari itu, dan pada suatu sore yang cerah, di sebuah lapangan, perempuan kurus itu duduk di pinggir lapangan, di sampingnya duduk seorang lelaki kecil mengenakan seragam putih-merah.

“Kau sebaiknya pulang dulu dan ganti baju,” saran perempuan itu.

Lelaki kecil di sebelahnya menggeleng. “Aku masih mau nonton.”

Kemudian mereka berdua diam, menikmati permainan bola di depannya. Seorang lelaki dewasa dan perempuan kecil yang langkahnya masih agak canggung, bergiliran mengoper bola.

“Aku senang kalau adikku bisa jago bola, meski dia perempuan,” si lelaki kecil berkata.

Perempuan di sebelahnya tersenyum. “Aku juga. Kau tidak ingin ikut main?”

Lelaki kecil itu menggeleng. “Kakiku masih sakit.”

Mereka terdiam lagi untuk beberapa saat.

“Aku nggak pernah melihatnya sedih,” si lelaki kecil membuka obrolan lagi. “Ayah,” lelaki kecil itu memberi keterangan singkat ketika mendapat respon bingung si perempuan kurus. Ia mengerling lelaki dewasa yang sedang menangkap bola itu.

“Memang,” perempuan itu tersenyum. “Sejak seusiamu, ia tidak pernah menangis. Tidak pernah. Yah, setidaknya di depan orang-orang,” perempuan itu bercerita, mendeskripsikan lelaki di depannya yang sudah ia kenal selewat beberapa windu, “Tidak pernah juga marah, takut, atau sedih. Dan guyonannya, yang jenaka dan renyah, selalu disukai teman-temannya.”

Lalu lelaki kecil itu bertanya, “Kok tahu?”

“Aku tumbuh bersamanya,” jawab si perempuan. “Dan selama berwindu-windu mengenalnya, aku masih kesulitan menemukan cacat di dirinya.”

“Wow, aku tahu Ayah memang hebat. Bagaimana dengan Ibu?”

“Ibu?” si perempuan kurus tersenyum. “Ia juga seorang periang, dan murah senyum. Lihat, kau beruntung, itu dia datang.”

Si perempuan menunjuk ke tepi lapangan, dimana seorang perempuan berkulit putih menghampiri mereka, tersenyum manis dan melambai.

Sang lelaki kecil berdiri, menyambut perempuan manis itu. Perempuan kurus di sampingnya juga ikut berdiri, mengangguk pada ibu si lelaki kecil, lalu berbalik pergi. Batinnya dikuasai rasa yang belum bernama, rasa campuran bahagia dan pedih yang tak berhingga.

Iklan

10 thoughts on “Tumbuh Bersamanya

  1. Selalu pengen bikin cerita kayak gini, tapi sayangnya aku ngga dianugerahi kemampuan buat nulis cerita😢😢😢
    .
    Ada kelanjutanya ngga nih???

    1. Waah, padahal tulisan Kak Libi lebih bagus kann. Mungkin belum ke-eksplor aja kali. Kan kata orang-orang kemampuan itu bukan anugrah, tapi hasil asahan.

      Emang Kak Libi pengen ada lanjutannya?

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s