Dari Saya · Resensi · Tulisan

Muhammad #1: Cerita Muhammad sebagai Tokoh Peradaban

Berapa banyak buku yang kita temui tentang Muhammad, yang menceritakan beliau dari sudut pandang sejarah secara umum dan sudut pandang berbagai agama?

Sebagai orang yang lebih menyukai fiksi sejarah daripada buku biografi dan agama, buku pertama dari  tetralogi Muhammad yang ditulis oleh Tasaro GK ini buku yang sangat mencandu–jenis buku yang harus dihabiskan sekali duduk. Buku pertama ini berjudul Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan yang diterbitkan oleh Bentang pada 2010, adalah karya indah Tasaro GK tentang Muhammad, nabi terakhir dalam ajaran Islam. Uniknya, Tasaro GK tidak menuliskan dari sudut pandang Islam semata, tapi dari sudut pandang sejarah secara umum. Selain itu, beliau juga mengambil sudut pandang beberapa agama lain dalam menggambarkan sosok Muhammad. Sebagai orang yang berpengalaman sebagai wartawan, Tasaro GK menulis fiksi tanpa mengabaikan validitas fakta (daftar pustakanya cukup lengkap), tidak terlalu subjektif dan tidak banjir opini pribadi. Cerita terbagi menjadi dua; perjalanan Kashva dan perkembangan Islam. Dua cerita ini disusun bergiliran sehingga bacanya nggak bosan.

IMG-20160730-02254

Kisah ini berlatar abad 6-7, sesuai dengan kelahiran Muhammad saw. dan pemerintahan khulafaurasyidin. Mulanya menceritakan tentang Kashva, seorang penyair sekaligus ilmuwan Persia yang sedang mencari tau keberadaan nabi yang dinubuatkan di berbagai kitab dari berbagai ajaran; Zardhust, Buddha, Kristen, dan banyak naskah kuno lainnya. Ia mencari tau dengan berdiskusi dengan teman-temannya di luar negeri. Di samping itu, Kashva, sebagai penganut Zardusht, memiliki cita-cita untuk memurnikan ajarannya. Ada sebuah insiden di istana, di depan Khosrou (raja Persia) Kashva menyampaikan ayat Zardusht mengenai prediksi Persia akan tertaklukan bangsa asing, sehingga Khosrou merasa terancam. Segera setelah insiden itu, Kashva disarankan untuk kabur dan pergi oleh Yim, seorang pelayan setia di kuil tempatnya belajar.

Dalam pelariannya, ia ditemani sosok misterius bernama Mashya yang dengan terpaksa membawanya ke Gathas, tempat tinggal Astu, seorang teman masa remajanya. Di sana ia mengilas balik banyak kenangan bersama gadis teman kecilnya itu. Intrik bahwa Astu kini sudah berkeluarga dan memiliki anak juga menjadi konflik yang tidak kian dimengerti Kashva, juga intrik ketika prajurit Khosrou datang ke Gathas untuk menghancurkan desa itu karena Gathas dianggap sebagai tempat pergerakan permurnian Zardusht. Astu dan suaminya berperang, berjuang untuk desa itu, sementara Kashva diminta melarikan diri bersama Mashya dan Xerxes, putra Astu. Mereka pergi ke Perbatasan menuju Tibet. Di Perbatasan, mereka mendapat teman seperjalanan lagi; Gali. Seorang bocah yang pendiam dan patuh pada Kashva.

Dan bagian yang menceritakan Muhammad dituturkan dengan manis dan lugas, tanpa pemujaan yang berlebihan atau gaya bahasa yang terkesan terlalu mensakralkan. Bagian ini menceritakan masa kenabiannya maupun pra-kenabiannya. Menceritakan juga beberapa perang yang berlangsung masa itu. Kebanyakan bercerita tentang pasca-hijrah, bagaimana suasana ketika itu dan siapa saja tokoh-tokoh yang terlibat. Sayangnya, terlalu banyak tokoh–saya pusing kalau baca cerita dengan tokoh yang banyak, apalagi dengan nama-nama asing seperti nama-nama Arab ini–sehingga deskripsi dan karakter tiap tokoh kurang dalam. Sebenarnya seru, tapi karena perjalanan Kashva lebih seru, bagian ini jadi agak membosankan; di bagian ini saya sering terburu-buru membaca agar cepat sampai ke bagian yang menceritakan Kashva.

Buku Tasaro GK memiliki kekhasan yang tak kunjung membuat bosan: sudut pandang yang berubah-ubah, alur maju-mundur, plot yang berputar-putar, teka-teki yang ketika terungkap menimbulkan teka-teki baru, dan mencandu. Yang berbeda dari tetralogi Muhammad ini dengan buku-buku beliau lainnya adalah, buku ini ditulis dengan lebih manis dan lebih romantis. Dan lebih mencandu juga, karena buku ini berjilid-jilid. Dan akhirnya tamat! Yah, mengingat beberapa buku Tasaro GK lainnya yang belum ada lanjutannya (misalnya Nibiru dan Citra Rashmi). Dan memukau, bagaimana penulis menggambarkan sosok Muhammad, sebagai idola dan panutan. Alur cerita Kashva juga menarik sekali, membuka pandangan mengenai budaya dan sejarah di tempat-tempat yang dikunjungi Kashva. Saya membayangnya seberapa sulit menulis fiksi sejarah sekaligus biografi sekaligus, menulis tentang banyak bangsa sekaligus, dan meramunya menjadi satu perjalanan Kashva yang menarik. Daftar pustakanya juga lengkap, memuat banyak judul buku menarik.

Kekurangan buku ini apa ya? Mungkin butuh catatan kaki yang lebih lengkap dan ditulis di bawah setiap halaman, sehingga pembaca akan lebih mudah melihat sumber dari fakta-fakta yang dipaparkan. Selama membaca, terkadang beberapa bagian yang saya tidak tahu atau saya tidak yakin kebenarannya, saya harus googling dulu. Kalau ada catatan kaki akan jauh lebih mudah kan.

Saya tidak merasa bosan membaca ulang buku ini untuk ketiga kalinya, dan setiap kali membaca ulang, saya semakin paham dengan jalan cerita. Buku ini saya anggap agak berat, sehingga agak sulit dicerna dengan sekali baca. Tapi tetap saja, mencandu, sehingga ketika buku kedua, Muhammad: Para Pengeja Hujan terbit (tidak lama setelah buku pertama), saya langsung baca. Resensi Muhammad: Para Pengeja Hujan akan saya post pekan depan, dan akan berlanjut dengan buku ketiga dan keempat!

Teman-teman ada yang sudah baca buku ini? Atau ada yang akan baca buku ini?

Iklan

17 thoughts on “Muhammad #1: Cerita Muhammad sebagai Tokoh Peradaban

  1. Wah keliatan menarik sekali. Tapi lagi bokek. Juga udah punya daftar buku yg mau dibeli. Biasanya sih waktu beli ngeliat baru apa nggaknya tahun terbit.

    Yg 7 habbits kemarin belum liat. Ketiduran sayanya ha ha ha maaf ya.

    1. Huhu sedih ya kalo kecanduan buku, pengen beli tapi harganya mahal-mahal.
      Gapapa Maaas yg 7 Habbits saya juga lagi mau nyari, tapi nanti-nanti deh, sekarang belum nganggarin waktu untuk baca buku

  2. Hwaaaa baru selesai baca yang seri satu beberapa tahun lalu. Seri dua dah lama punya ga tamat-tamat.. Eeh malah kumat beli yang ketiga dan keempat.. Semoga ada kelonggaran dan niat kuat tuk menamatkannya sampai level 4.

    1. iya ya seru? doooh, telat banget aku dulu kepengaruh temen katanya jelek. Tapi makin ke sini makin penasaran karena banyak yg bilang bagus >,<

      1. Makin sering nulis emang makin keasah, Kar. Sepinternya orang nulis klw jarang jg makin nurun kualitas nulisnya. Intinya, nulis bukan bakat. Heheee. Semangaaat! 😀

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s