Dari Saya · Harian · Tulisan

⁠⁠⁠Yang Kau Butuh, Waktu Kami

Hari ini, aku bangun tidur dan mendapatimu di sampingku, sedang asyik menggambar. Kutepuk bahumu. Kau menoleh, lalu aku nyengir, mengulurkan tangan.

Sumber

Akhir Februari, tiga tahun yang lalu

Petang itu aku baru tiba di rumah setelah kembali dari sekolah, yang hari itu lebih sibuk, memusingkan, dan lapar dibanding biasanya. Apalagi banyak PR untuk pekan ini yang harus kucicil. Memang sulit mencari waktu bersantai di kelas 11 ini. Kedua adikku sudah pulang sekolah, kedua orangtuaku dan Nenek tidak pergi; penghuni rumah sudah lengkap.

Petang yang biasa, hingga Ibu mengeluh mulas dan mendapati bercak darah di pakaiannya. Kami putri-putrinya panik, setengah mati menenangkan Ibu (dan diri sendiri). Ayah, lelaki yang tidak pernah panik (atau selalu berhasil meredam kepanikan, aku tidak bisa menebak), segera cepat tanggap terhadap keluhan Ibu, meyakinkan Ibu bahwa semua akan baik-baik saja. Ayah menyiapkan kendaraan dan membawakan tas Ibu. Mereka berdua segera pergi ke rumah sakit.

Kami yang di rumah, menunggu dengan gelisah dan berkali-kali mengecek ponsel, berharap Ayah segera membalas pesan kami. Hingga beberapa jam kemudian, Ayah menelepon dan mengatakan, bahwa Ibu perlu menginap di rumah sakit. Akhirnya datang, hari ini.

Ya Tuhan, ternyata, hari ini.

Ibu memang sedang hamil besar dan akan segera melahirkan. Tapi, dokter memperkirakan kelahirannya masih 1-2 minggu ke depan. Bukan hari ini. Sehingga kami agak kaget. Apalagi, dengan usia Ibu yang sudah kepala empat. Ditambah lagi, ini adalah keempat kalinya ibu melahirkan dengan bedah sesar. Kami cemas, takut, tidak sabar, dan penuh harap sekaligus.

Aku berkali-kali mengecek ponsel, menanti pesan dari Ayah. Ingin tidur, tapi tidak ingin terlambat membaca sms Ayah kalau beliau mengabari nanti. Aku tidak mengantuk, meski tidak biasa tidur larut. Aku masih terjaga hingga lewat satu jam dari tengah malam, ketika masuk satu sms Ayah.

Alhamdulillah, tadi udah lahir jam 11, perempuan.

Aku mengucap syukur. Anak keempat Ayah dan Ibu, perempuan lagi! Beberapa bulan terakhir ini aku memang berharap Ibu mengandung bayi perempuan. Akhirnya, adik lagi, adik bungsu, kali ini terpaut dua windu denganku. Rasanya aneh, punya adik yang begitu kecil ketika aku sudah segini besar. Selama ini, adik bagiku berarti mereka yang tumbuh bersamaku, belajar membaca bersama, berebut mainan, berangkat ke sekolah bersama, bermain dengan kawan-kawan yang sama, bergantian memakai baju yang sama. Selama ini, adik adalah mereka yang usianya berselisih tidak jauh, sehingga banyak orang tidak bisa mengidentifikasi mana yang lebih tua dari kami. Tapi kini, adik bukan lagi sekadar itu, karena adik yang baru ini, begitu kecil, dan begitu jauh selisih usianya. Adik yang bagi kami akan selalu jadi si bayi, betapapun ia akan tumbuh.

 

Akhir Februari, tahun ini

Kutepuk bahumu. Kau menoleh, lalu aku nyengir, mengulurkan tangan. Ya Tuhan, menurutku kau adalah orang paling cantik yang pernah kulihat. Mungkin karena kau nyaris selalu nyengir atau tersenyum, dan mudah sekali tertawa. Atau, kau memang diberi cantik yang sangat oleh Tuhan.

“Selamat ulang tahun!” ucapku. Kau meraih tanganku, menyalaminya. Kurasa kau belum memaknai besar ulang tahun, karena usiamu yang begitu belia. Kau hanya mengetahui kalau ulang tahun adalah duduk melingkar makan kue dan mengobrol bersama, seperti yang selama ini kita lakukan kalau salah satu dari penghuni rumah ini berulang tahun.

Kau mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti–celotehmu masih sering tidak jelas bagiku–dan kembali menggambar. Aku duduk memerhatikanmu, memikirkan apa yang kira-kira akan kuberikan padamu di hari ulang tahunmu ini.

Kuemu tahun ini

Berminggu-minggu sebelum ini, aku memikirkan kado apa yang ingin kubeli. Hingga kemudian aku memutuskan, tidak usah beli kado. Itu tidak perlu.

Kau mungkin punya beberapa mainan–tidak banyak–dan mainan-mainan yang kaupunya pun bukan mainan mahal. Kau tau, keadaanmu jauh berbeda dengan ketiga kakakmu yang sudah remaja ini, yang sewaktu kecil punya banyak mainan lucu-lucu yang membuat teman-teman kami iri. Waktu itu, Ibu masih bekerja di pusat kota sehingga beliau punya akses mudah ke bazar barang anak, toko buku, dan pusat perbelanjaan. Kini, Ibu di rumah, sibuk mengurus kami kakak-kakakmu yang sulit diatur, sehingga kau tidak bisa menuntut perhatian yang benar-benar penuh darinya. Pun mainan-mainan. Selain itu, anggaran keluarga juga memprioritaskan biaya sekolah kami dan embel-embelnya, sehingga tidak ada jalan-jalan atau belanja buku tiap bulan bagimu, seperti yang kami dapatkan ketika seusiamu.

Itulah yang membuatku sempat berpikir untuk membelikanmu mainan yang agak mahal dan bagus. Hingga kemudian kesadaranku muncul: kau tidak butuh. Meski kau menginginkan mendapatkannya, dan aku menginginkan membelikanmu, tapi tidak, kau tidak butuh. Itu cuma sekadar ingin, dan menganggap itu sebagai kebutuhan adalah tafsiran yang salah terhadap refleksi masa lalu kami. Kami memang punya banyak mainan bagus, tapi itu tidak berarti apa-apa.

Mainan, sejatinya tidak berarti apa-apa, kecuali sesuatu warna-warni yang dimainkan beberapa hari sebelum akhirnya kau bosan atau jadi rusak. Memang, mainan akan membuatmu senang, tapi bukankah hampir segala hal yang kaujumpai bisa membuatmu senang? Kau gadis kecil yang begitu periang, yang tidak butuh mainan untuk sekadar berbahagia. Kau (dan anak-anak pada umumnya) mampu menemukan kebahagiaan bermain dimana pun; kamar, dapur, lapangan, jalanan, kendaraan, sungguh-sungguh dimana pun. Tanpa mainan pun, kau bisa bersenang-senang. Jadi, untuk apa aku membelikanmu mainan kalau itu bukan benar-benar hal yang kaubutuhkan?

Apa yang benar-benar kaubutuhkan, adalah hal lain. Hal yang sejak dulu Ibu meminta kami memberikannya, tapi tidak pernah sesuai harapan: waktu. Kau butuh waktu kami; kau butuh kehadiran kami; kau butuh interaksi dengan kami yang lebih intens; kau butuh permainan-permainan yang bisa kita mainkan bersama-sama.

Aku harus menganggarkan waktu untuk kita belajar gambar sama-sama, baik itu Paint, Photoshop, atau Illustrator.

Tapi, ya Tuhan, aku harus kuliah dan mengerjakan desain dan segala macam. Tugasku agak banyak dan aku juga ingin senang-senang dengan buku, film, teman-teman. Bukan dengan seorang adik bayi yang tidak bisa diajak bertukar pikiran. Aku kadang hanya bicara atau mengobrol denganmu sekadarnya, tidak pernah benar-benar menanggapi ceritamu dan tidak pernah menjawab pertanyaanmu lebih dari satu kalimat (sehingga kau harus bertanya dan bertanya lagi, atau apakah ini karena kau memang senang bertanya?). Aku bukan jenis orang yang suka anak kecil, sekaligus bukan orang yang ramah. Sulit bagiku mengelola waktu, terlebih menganggarkankan khusus untukmu. Begitu pula kedua kakakmu yang lain, kurasa, yang sedang sibuk mengejar target-target pribadi mereka. Kami sulit menganggarkan waktu untuk bermain bersamamu.

Tapi, bukankah justru itu sesuatu yang memang kaubutuh? Apa guna buku-buku dongeng jika tidak ada orang yang membacakannya? Apa guna boneka-boneka jika tidak ada orang untuk berinteraksi menjadi lawan main bonekamu? Apa guna buku gambar dan krayon jika tidak ada orang yang mengajarimu atau bercerita tentang apa yang digambar? Apa guna sepeda jika tidak ada orang yang menemanimu keluar rumah barang sepuluh menit?

Kau tidak butuh kami untuk membelikanmu mainan. Kau butuh kami untuk ada bersamamu, memainkan sesuatu bersama-sama; yang kau butuh, waktu kami.

Kau butuh lebih banyak jam-jam seperti ini. Aku juga butuh. Perpusda Jakarta, 2016

Kami–terutama aku–bisa belajar pelan-pelan untuk menyisihkan waktu setiap hari misalnya untuk membaca buku bersama atau sekadar bertukar cerita tentang hari. Agak sulit memang, tapi bukan hal yang mustahil. Dan bukankah kado yang istimewa itu memang sulit diusahakan?

 

Disalin dari catatan harian Februari lalu

Iklan

18 thoughts on “⁠⁠⁠Yang Kau Butuh, Waktu Kami

  1. Selamat ulang tahun cantiiik…sehat selalu, semakin pintar dan sholehah..aamiin..

    Semoga lebih banyak waktu untuk adek kecil yg cantik 😊

      1. Sama-samaaa 😊

        Duluuuu ingat sama adik yang hanya beda 4 tahun, seringnya bikin kesel, soalnya pengennya ngintil terus, kayanya saat itu ngeselin deh, sekarang kalau ingat suka sedih, ko jahat amat ya sama adek sendiri, sekarang suka jadi bahan candaan sama adik, suka bilang “kamu tuh yaaaa ngga boleh lihat tetehnya maen sama temen, pengennya nimbrung meluluuu…kamu khan masih keciil..”! pdhl waktu itu saya pun masih kecil hihi..

      2. Saya juga punya adik yang selisih 4 taun, tapi karena selisihnya nggak jauh gitu, ya dari kecil main mainan yang sama. Huhu bukannya bersikap dewasa sebagai kakak saya malah sering berantem berebut mainan atau semacam itu, berasanya sepantar

  2. Saya malah punya adik 5. untungnya sekarang udah besar2. Tapi selesihnya emang jauh sih, semoga aja dapat pengalaman yang menyenangkan dgn adik barunya.

  3. Anakku yang paling besar juga bisa menjadi kakak dan orang tua anakku yang paling kecil, walau kadang malah senangnya membuat bete si kecil. Selamat ulang tahun buat dedeknya ya…

  4. Samaaa. Adik terakhir gua bedanya sekitar 8 tahun dan masih tetep berantem sama dia. Emang adik kecil itu butuh waktu kita buat dia. Apalagi kakaknya yang jarang di rumah dan jarang ketemu sama dia. sekalinya ketemu kayak gak mau pisah dan ngintilin gitu karena takut ditinggal.
    Jadi, kangen adek gua yang di ujung Jawa sanaa.

    adek lu kok lucu sih. gemayyy. jadi lebih suka adeknya dari kakaknya.

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s