Dari Saya · Harian · Opini · Tulisan

Pendidikan, dari Siapa?

Ilustrasi Blog-01

Salah satu beda manusia dan binatang adalah perolehan akan pendidikan. Manusia mengenal konsep pendidikan dalam hidupnya, yang tidak dikenal binatang. Dan kini, semakin disadari bahwa pendidikan merupakan pilar utama pembangunan. Pembangunan diri, pembangunan kota, pembangunan negara, pembangunan ilmu pengetahuan, pembangunan peradaban, semuanya disokong oleh pendidikan. Pendidikan yang baik menelurkan pembangunan yang hebat. Dan di Indonesia, pendidikan adalah topik yang tak kering dibahas di berbagai forum, diperjuangkan lewat berbagai gerakan, dan menjadi isu darurat. Poin utama: pendidikan masyarakat sangat kurang, bagaimana cara membenahinya? Atau tepatnya, siapa yang bertanggung jawab membenahinya?

Mungkin, negara. Ini tercermin dalam UUD 1945 pasal 31:2; setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Itu berarti negara punya tanggung jawab untuk memastikan setiap warga negara mendapat setidak-tidaknya pendidikan dasar.

Atau mungkin, orang tua. Rumah, dan keluarga, adalah unit sosial terkecil, tempat dimana lazimnya orang-orang mengawali tahun-tahun pertama mereka, termasuk rentang yang disebut golden age. Di sini, orang mengawali belajar akan segala macam hal, dan yang paling banyak berperan dalam pengajaran ini tentu saja, orang tua, yang akhirnya tanggung jawab besar atas apa yang dipelajari di masa kecil kita.

Atau, guru. Bukankah profesi ini selalu diidentikkan dengan pendidikan karena mengajar adalah tugas utamanya? Banyak aktivitas macam mengajar, seperti melatih, mengarahkan, membimbing, dan semacamnya, yang pelakunya disebut guru, karena memang aktivitas-aktivitas itu juga memberi peran mendidik.

Bagaimana dengan alam? Alamlah yang memberi kita banyak bahan untuk dipelajari dan dipahami. Pepatah Minang mengatakan, alam takambang jadi guru–alam berkembang menjadi guru. Ada teori yang mengatakan bahwa perkembangan masyarakat tergantung dengan lingkungan sekitar mereka, alamnya. Ya, kondisi alam tertentu menghasilkan teknologi tertentu, seperti teknologi perkapalan yang berkembang di kehidupan pesisir atau teknologi irigasi yang berkembang di kehidupan pertanian. Alam menyediakan tidak hanya kebutuhan kita akan materi, tapi juga kebutuhan kita untuk belajar dan mendapat pemahaman.

Memang, banyak pihak yang berperan dalam pendidikan seseorang, entah itu negara, orang tua, guru, alam, atau apapun. Mungkin, bagi pihak-pihak itu, mendidik kita adalah tugas tak terbantahkan atas peran mereka. Mungkin, bagi pihak-pihak itu, mendidik adalah tanggung jawab dan kewajiban. Tapi, di luar berbagai pihak, ada satu yang memegang peran krusial atas pendidikan kita: diri sendiri.

Seberapapun keras kita dididik pihak lain, jika kita tidak mendidik diri sendiri, pendidikan yang kita terima nol. Karena diri kita memiliki kendali besar atas apa yang kita terima dan tolak dari pihak luar, maka dididik diri sendiri jauh lebih penting daripada dididik siapapun itu; negara yang sangat memfasilitasi, orang tua yang cerdas, guru yang hebat, ataupun alam yang keras. Mendidik diri sendiri adalah tentang pengelolaan waktu, prioritas, dan target-target. Mendidik diri sendiri adalah paham mengenai diri sendiri dan mengenali apa yang dibutuhkan, dan tentu saja, upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Mendidik diri sendiri adalah menjadi bijaksana dalam memilih, dan bertanggung jawab atas keputusan yang dipilih. Mendidik diri sendiri adalah mengembangkan diri, mengoptimalkan diri, sehingga, sedikit maupun banyak, langsung maupun tak langsung, memberi dampak ke luar diri kita sendiri, dan dengan itu menjadikan kita seorang pendidik..

Jadi, selamat hari pendidikan, selamat mendidik diri sendiri!

Iklan

4 thoughts on “Pendidikan, dari Siapa?

  1. Hemm, saya stuju dengan pemaparan di atas. Jika bukan kita yang bertanggung jawab mendidik terhadap diri sendiri, maka seberapa keras usaha orang untuk mendidik diri kita tetapi kita tidak mau, maka akan sia-sialah usaha tersebut.
    Semangat mendidik diri kita sendiri.

    *Psst, Semangat menulis ya πŸ™‚

  2. Aku agak telat nih komentar soal pendidikan ini, karena blognya juga baru nemu, salam kenal ya hehe.

    Iya yah, aku suka pemaparan tentang mendidik diri sendiri, aku malah baru kepikiran soal itu. Selama ini aku nganggapnya aku, ya karena dididik dan dibentuk orang tuaku, padahal aku juga harus berperan dalam mendidik diriku sendiri, supa kayak yang dbiling kakak tadi “endidik diri sendiri adalah paham mengenai diri sendiri dan mengenali apa yang dibutuhkan….”

    Bagus artikelnya, saya suka πŸ˜€

    1. Wiih, terima kasih sudah berkunjung dan komen! Senang dehh ^^

      Sebenernya sih nulis gini karena emang akhir-akhir ini lagi kendor introspeksi diri 😦 hehe

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s