Dari Saya · Harian · Tulisan

Satu Tarikan Napas

Maret sudah menjelang pertengahan. Aku tidak lupa. Bagaimana aku bisa lupa? Kita tau bahwa aku mengenalmu lebih dari yang kausangka, dan begitu pula sebaliknya. Aku kerap bertanya-tanya bagaimana itu bisa terjadi. Tapi bukankah itu wajar, karena terjadi di antara taut-taut misterius antara kita sedekade ini?

***

2015.

Aku tidak lupa tatapan dari sepasang mata, yang memancing dorongan kuat dari diriku untuk tersenyum lebar, melambai senang, dan melompat riang menujumu, pemilik sepasang mata itu. Aku ingat senyum yang merekah kurang dari sejengkal di bawah mata itu. Lalu obrolan, yang meski tidak panjang, menjelaskan banyak hal, dan menyembuhkan banyak luka. Kau tau, pekan itu aku luka yang dalam dan banyak, kulminasi dari suram selama beberapa bulan terakhir, namun untai menit-menit denganmu itu menyembuhkan semuanya. Lebih dari menyembuhkan, menit-menit itu memberikan riang hingga berhari-hari setelahnya.

 

2013.

Langkah yang awalnya bersisian, kemudian saling melambatkan. Kau melambat agar aku berjalan di depanmu, dan aku melambat agar kau berjalan di depanku. Makin lama makin melambat karena kita saling menunggu yang lain mendahului. Lalu sedikit perdebatan soal siapa yang seharusnya berjalan di depan. Tidak ada solusi, sehingga kita berjalan bersisian lagi. Dan di sore lembab itu, begitu sedikit sekaligus begitu banyak yang kita bicarakan. Bagaimanapun, syukurku akan sore itu berbuncah. Kau tau, tidak ada yang pernah bisa kukeluhkan tentangmu.

Esoknya, seorang perempuan manis memberitauku bahwa kau tidak alpa mengabarinya.

 

2010.

Satu siang berangin, dan aku tidak beranjak dari tempatku berdiri, tidak jauh dari lapangan dimana permainan bola sedang berlangsung. Aku bukan pecinta bola, sama sekali bukan. Tapi aku tidak beranjak dari tepi lapangan, menyaksikan permainan ini. Aku pernah berusaha main bola dan memahami dunia bola, tapi gagal total dan aku menyerah. Aku memang sangat payah di olahraga, dan aku tidak bersedia mengupayakan lebih untuk itu. Aku hanya menonton, khususnya, menontonmu yang kali itu berperan sebagai kiper. Aku memang tidak mengerti bola, tapi sedikit-sedikit aku tau, kau bermain baik sebagai kiper. Masih terpatri di memoriku bagaimana kau berdiri mengawasi di bawah gawang, bagaimana rambutmu yang terbang dimainkan angin, dan bagaimana kekesalan menggumpal ketika seorang teman menarikku menjauh sehingga tidak bisa menonton hingga usai.

Dan, masih di tahun yang sama, muncul sebuah rasa.

Rasa yang baru muncul untuk pertama kalinya, rasa yang membangkitkan hasrat untuk memusnahkan, yang membuat benci dan iri menguasai diriku. Rasa yang sayangnya, muncul terhadap seorang gadis yang cerdas, penyayang, dan baik hati. Kepada seorang gadis yang tidak berdosa, gadis yang disayangi banyak orang, aku memendam rasa penuh hasrat menyakiti ini. Kami sudah saling kenal begitu lama dan dalam, tapi aku tidak bisa menepis rasa ini. Ya Tuhan, untuk pertama kalinya aku cemburu buta. Dan mengapa terhadap orang yang paling kupercaya di hidupku?

 

2008.

Untai pekan yang penuh letupan kecil kejutan. Sirobok-sirobok dengan sapaan sekadarnya itu memercik warna-warni ke sepanjang pekan. Tidak hanya sirobok, tapi juga obrolan, pengupayaan untuk hal yang sama, derai tawa, dan kita yang berdiri bersisian. Ada simpul yang menguat, dan ada kenaifan bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang akan berjalan tanpa rintangan. Saat itu, aku masih terlalu buta untuk menyadari realita, tapi setidaknya aku selalu mampu bertahan setelahnya, karenamu.

 

2005.

Berkali-kali aku menoleh ke sebelah kanan, seakan ingin memastikan sesuatu, tapi aku tidak tau apa itu. Rasanya aneh dan ingin tau yang menjadi satu. Berkali-kali tolehan itu membekas di ingatanku, bahwa kau, orang yang berdiri di sisi kananku, saat itu tidak lebih tinggi dariku. Ya, tinggi tubuh kita–kau yang tidak henti berceloteh dan aku yang masih menggerai rambut kusut sebahuku–masih sama. Itu sudah lewat sedekade lalu. Kini kau sudah setengah kali lebih tinggi dari tinggimu hari itu. Sementara aku masih pendek, bahkan ubun kepalaku masih lebih rendah dari bibirmu.

 

***

Sering kali rasanya itu bukan setahun, tiga tahun, lima tahun, sewindu, atau sedekade yang lampau. Melainkan satu tarikan napas yang lalu. Karena denganmu, aku tidak bisa mendefinisikan waktu. Kau tahu, rasanya seperti mutlak berada dalam keabadian. Aku tidak pernah habis menerakan tentangmu dimanapun. Terima kasih, Re, tidak pernah berhenti jadi matahari yang memberi hangat dan cerah tanpa putus selama lebih dari sedekade ini.

Oya, selamat 20.

Iklan

15 thoughts on “Satu Tarikan Napas

  1. Ah ya, manis sekali dan sakit. Selama yang ke 20 untuk lelaki yang berada pada ceritamu. 🙂
    Semangat.
    Bukankah hal iri dan menyakiti adalah rasa yang wajar?
    Tidak akan pernah ada manusia yang benar-benar baik, mbak.
    Semua punya sisi tergelapnya masing-masing.
    Dan untuk lelakimu, bagaimana kabarnya saat ini?
    Fyuhh~~

    1. Emang hal wajar sih, tapi kalo merasa iri dan pengen menyakiti ke orang yang berarti banget dalam hidup kita, itu nyesek. Hahaha.

      Kabarnya, entahlah, nggak tau persis, tapi secara keseluruhan, masih hidup dan bahagia. Dan ngomong-ngomong, dia bukan (lebih tepatnya ‘belum jadi’) lelakiku.

      Makasih banyak yaaa udah mampir dan komen :* sayang kamu deh. Tapi kenapa aku dipanggil ‘mbak’ 😦 huhuhu

      1. wkwkwkwk. Aku sedang mencoba menyamar saat ini. Tapi, tak berhasil ya?
        Jika tak ingin menyakiti maka coba ikhlaskan.
        Phew~~
        Seperti manusia bisa dengan mudah bisa mengikhlaskan saja.
        Aku jadi penasaran dengan dia (belum jadi) lelakimu itu.
        bisakah kau deskripsikan dia? 🙂

        Regards
        Orang Imut

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s