Dari Saya · Harian · Tulisan

Menerbangkan Perangko, Bertukar Kartu Pos dengan Postcrossing

Aku membuka sebuah surel notifikasi. Ha! Perangko yang kuterbangkan akhirnya sampai di negri sebrang dengan selamat!

Aku nyengir senang, membaca pesan terima kasih dari sang penerima kartu pos. Lalu aku mengerling dua kartu pos yang baru diantar Pak Pos beberapa jam lalu, yang kuletakkan di sebelah laptop. Aku membaca kartu pos itu, meregistrasi nomor identitas, dan mengetikkan pesan terima kasih sudah menerbangkan perangko untukku dari negri yang jauh.

***

https://i0.wp.com/www.bohemianwanderer.com/wordpress/wp-content/uploads/2014/07/523334_10151061893275868_888900299_n.png

Postcrossing, sebuah komunitas global yang menghubungkan orang-orang di seluruh dunia untuk bertukar kartu pos, di zaman milenium ini. Tim pendiri Postcrossing percaya, bahwa masih ada orang-orang yang masih ingin meramaikan kotak pos mereka.

Bagaimana jaringan Postcrossing bekerja? Pertama, harus punya akun. Setelah punya akun, kita bisa meminta alamat seseorang di seluruh dunia (diberikan secara acak) untuk kita kirimi kartu pos. Di waktu yang sama saat kita menerima alamat, Postcrossing sedang memberikan alamat kita ke seseorang di antah berantah, agar dia mengirimi kita kartu pos. Setiap kartu pos harus ditulisi nomor identitas  (ID) yang diberikan Postcrossing, yang nantinya akan dimasukkan si penerima kartu ke web sebagai konfirmasi penerimaan. Dan nggak cuma ID, kita juga bisa menulis ucapan terima kasih. Setelah memasukkan ID, kita bisa melihat profil si pengirim kartu pos.

Menyenangkan banget menerima kartu pos dari berbagai kota di seluruh dunia, membaca pesan pendek yang ditulis tangan oleh orang-orang asing, memahami kisah di balik gambar kartu pos, dan memerhatikan perangko.

Menerima kartu dari kota-kota yang kadang tidak pernah kudengar namanya, mendorongku untuk buka Google Maps, mencari tau letak kota itu dengan buka Wikipedia atau web pelancong. Juga googling gambar apa yang terpampang di kartu pos (bangunan, flora fauna, apapun yang ikonik), hingga tau sejarah singkat dan budaya terkait.

Isi kartu pos, kebanyakan tulisannya berantakan

Dan menyenangkan sekali, di hari-hari dimana aku bahkan tidak pernah melihat tulisan tangan teman-teman sekelasku sendiri (karena kami sekarang sangat sering mengetik dan jarang sekali menulis), tapi ada orang-orang tak dikenal di benua sebrang yang menulis untukku. Kebanyakan tulisan mereka (terutama non-Asia) berantakan dan sulit dibaca. Aku tidak tau apakah memang orang-orang di Postcrossing tidak menulis rapi, ataukah memang cuma di Indonesia yang menulis indah masuk kurikulum dan mengulang PR jika gurumu tidak bisa membaca tulisanmu? Tulisanku sendiri berantakan, tapi kurasa aku lebih baik dari mereka.

Pesan-pesan mereka pun beragam. Kebanyakan bercerita tentang gambar di kartu pos, atau tentang keseharian atau kesukaan mereka. Senang sekali tau apa yang menjadi sarapan mereka, atau kutipan favorit mereka, atau apa yang terjadi di sekolah mereka.

Memerhatikan perangko lah yang paling menarik. Di perangko, ada gambar, cap pos (kadang nggak ada), dan tarif perangko. Gambar di perangko, sama seperti kartu pos, memampangkan sesuatu yang ikonik. Hanya biasanya gambar di kartu pos adalah ikon kota, sementara di perangko adalah ikon negara. Sejauh ini aku tidak pernah menemukan fotografi di perangko; yang kutemui adalah gambar yang tampaknya dibuat dengan pensil, atau kuas, atau aplikasi komputer. Lalu cap pos, tertera dengan bahasa mereka masing-masing, tanggal pengiriman (meski ada beberapa yang nggak ada), dan semacamnya. Dan tarif yang tertera di perangko juga membuatku bisa memperkirakan biaya yang mereka keluarkan untuk mengirimu kartu pos. Harganya tertulis dengan mata uang mereka masing-masing, tentu saja, jadi aku perlu mengonversi ke rupiah.

Selain itu, mengirim kartu pos juga hal yang menyenangkan. Kadang aku membeli kartu pos, tapi karena mahal, aku lebih sering buat sendiri. Jauh lebih murah. Dan lebih puas juga karena desainnya sesuai keinginan (aku kesulitan nyari kartu pos dengan gambar yang bukan pemandangan alam di suatu desa ratusan kilometer dari kotaku; jadi menyenangkan sekali kalau bisa memanifestasikan ikon-ikon kotaku jadi ilustrasi).

Dan kantor pos di dekat rumah dan di kampus memiliki petugas-petugas yang menyenangkan dan bersahabat, sehingga kunjungan ke kantor pos nggak menjemukan. Di beberapa kantor pos lain, petugasnya melayani dengan merengut, tapi kantor-kantor pos yang paling sering kukunjungi punya petugas yang ramah, jadi aku senang-senang saja jalan ke kantor pos.

Tapi sayangnya, di banyak kantor pos, mereka cuma menyediakan perangko 5.000 rupiah. Jadi kalau ingin kirim kartu pos yang tarifnya 6.000-9.000, terpaksa harus mengeluarkan 10.000 untuk beli 2 perangko. Selisih yang cukup besar, tapi minggu kemarin aku ke kantor pos pusat di dekat Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, dan membeli serenteng perangko 3.000 rupiah. Jadi besok-besok kalau mau kirim kartu pos nggak perlu beli perangko goceng dobel-dobel.

Dengan kantong ala mahasiswa, butuh menahan diri dari kantin, jajan, bahkan belanja buku untuk beli perangko. Tidak masalah sih, lagi pula aku sekarang selalu bawa bekal (nggak perlu jajan) dan perpus kampus punya koleksi yang lengkap banget (nggak perlu beli buku lagi). Beli perangko dan bertukar kartu pos lebih penting dan lebih asyik!

postcrossing koleksi

Oh iya. Temen-temen WP ada yang mau kukirimi kartu pos? Atau ada yang mau ngirimin duluan?

Iklan

22 thoughts on “Menerbangkan Perangko, Bertukar Kartu Pos dengan Postcrossing

    1. Kalo kartu pos sih kalo ga salah sekitar 3000-10000, variatif lah harganya, tergantung beli di mana. Saya ga pernah beli kartu pos ehehehe, abisnya mahal, jadi paling desain sendiri dan cetak di percetakan.

      Ngomong-ngomong, terima kasih udah mampir dan komen! ^^

      1. Iyaaa, biaya pengiriman lebih murah. Kalo ukuran baku… kayaknya nggak ada deh. Ada ukuran standar, tapi nggak ada yang baku. Kartu pos yang saya terima variatif ukurannya. Bahkan ada yang bentuknya nggak persegi panjang. Yang penting selama masih berupa kartu yang isinya masih terbaca (nggak disegel kayak surat), tarifnya masih sama, tarif kartu pos.

    1. Belum banyak, udah 2 tahun gabung padahal. Banyak pengguna lain yang baru beberapa bulan gabung, koleksinya udah sampe puluhan…. saya nggak kuat beli perangko banyak-banyak, hahaha.

  1. Baca komen-komenannya langsung berasa keren skali dirimu.. Bikin kartu pos sendiri. Dari dulu kalo baca tentang postcrossing ini ngerasa kagum, tapi habis itu ya udah. Hehehe. Bukan tipe pengirim barang pos aja kali ya 😀

  2. Mungkin kalau lain kali ke kantor pos besar lagi, bisa sekalian beli prangko 2 atau 1 ribuan (500-an ada nggak ya?). Biar ntar kalau ke kantor pos terdekat tidak terjebak ‘odd pricing’ dan stok yg sepertinya sengaja dibikin nggak sinkron. 🙂
    (PS: akun gravatar sengaja tanpa link blog inikah?)

    1. 500an ga adaaa, adanya 2500 kalo nggak salah, itupun jarang. Kalo nggak salah juga tarifnya nggak ada kelipatan 500, adanya kelipatan 1000. Iyaaa betuuul kalo ke kantor pos besar perlu borong sekalian.

      Oh iya, baru cek dan dibenerin lagi. Makasih banyak udah diingetin Kaaak. Dan makasih juga udah mampir dan komen ^^

      1. Nggaaaaak, soalnya itu sistemnya satu arah gitu Mas. Paling setelah nerima, ID yang ditulis si pengirim di kartu posnya diregisterin ke web postcrossing sekaligus tulis pesan balasan (biasanya ucapan makasih), dan dengan ini status kartu pos yang tadinya pending, jadi udah diterima. Kalo menurut saya sih, postcrossing ini tujuannya cenderung lebih ke mengoleksi banyak-banyak kartu pos/perangko, bukan dapat teman yang bisa korespondensi berkelanjutan gituuu

  3. Wahhh keren Mbak, aku jd tertarik untuk berkirim postcards juga. Sekaligus mau mulai jd kolektor postcards + perangko…. perangko gt di kantor pos jual kan ya??? Dan tarif kirim ke luar negeri biasanya brp mbak?

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s