Dari Saya · Harian · Tulisan

Ilusi Matahari

Kepada kau, yang sangat berharap temu dengan Matahari.

Selamat menyambut Oktober. Hebat, kau masih bisa bertahan hidup melalui bulan pertamamu di semester tiga, dan masih bisa bernapas dengan bahagia. Bulan kemarin itu bulan yang penuh dengan buncahan kesan, ya kan?

Mari mengilas September. Kau memproduksi lebih banyak gambar dan desain. Kau dapat banyak kartu pos dari berbagai penjuru dunia. Kau bertemu banyak orang baru, yang sebagian besarnya jadi temanmu. Kau memantapkan satu keputusan kontroversial. Kau melancong mengunjungi museum-museum di kota. Kau menghadiri pameran nasional. Kau membaca lebih banyak buku dari biasanya. Kau lebih rutin menulis. Kau mendapat doa  dan ucapan-ucapan indah. Kau mengucapkan selamat ulang tahun di awal hari pada sahabat-sahabatmu. Kau kembali ke Bogor dan mempunyai sahabat baru.

Dan, meski kau tidak bertemu dengan Matahari, kau bertemu orang lain. Bukan, ini bukan tentang seorang kenalan yang mengenakan kacamata hitam bergagang merah, yang pada satu Jumat malam memberimu sepotong hai dan menyejajari langkahmu. Tidak dia lagi, kau hampir mati menghindarinya. Alih-alih, ini tentang seorang yang menjadi ilusi. Bagaimana kau menyebutnya? Katakanlah, namanya Semu.

Semu adalah ilusi yang sempurna dari Matahari. Cuma ilusi, tapi ia begitu mudah ditemui. Dan kau, perempuan payah, menyukai hal-hal yang mudah, kan? Kau sering kesulitan mengatasi hal-hal berat. Selama ini, dengan Matahari, kau menguatkan diri. Tapi kini…. kau tergoyah. Kau ingat percakapan malam itu. Semu menanyakan apakah esok kau akan datang lagi. Kau menggeleng saat itu. Tapi karena tidak bisa menahan hasratmu, esoknya kau datang lagi, mengharap sua.

Seharusnya kau tau bagaimana ilusi bekerja. Ilusi tidak menimbulkan apapun kecuali tipuan pada diri sendiri. Matamu menipumu. Benakmu menipumu. Interpretasimu menipumu. Beruntung, kau menyadari bahwa dirimu, yang tertipu ilusi Semu, menipumu.

pada matahari-01

Kau mengemis ampun pada Matahari, menegakkan diri di jalurmu, dan menegakkan leher ke tujumu. Kau mungkin perempuan yang payah, tapi untuk ini kau menguatkan diri untuk menerjang sulit. Karena ini jalurmu, mudah atau sulit harus kau terjang. Tidak berbelok, tidak berpaling. Kau menghitung waktu menuju anjangsana berikutnya, dan menyibukkan diri mematangkan pribadimu.

Lagi-lagi, selamat Oktober, semoga kau makin sibuk berbahagia, Prita!

 sampai ketemu september

Iklan

8 thoughts on “Ilusi Matahari

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s