Dari Saya · Opini · Tulisan

Bidang yang Aku Sangat Ingin Belajar Banyak

Sudah selesai dua semester sebagai mahasiswa prodi Arkeologi. Prodi yang sebelumnya nggak pernah terpikir. Hampir nggak ngebayang akan kuliah untuk memelajari peninggalan-peninggalan kuno beserta kebudayaannya.

Prodi ini adalah pilihan keduaku (yang diambil agak asal) setelah aku meletakkan Ilmu Ekonomi sebagai pilihan pertama. Beberapa tahun terakhir ini isu-isu mengenai ekonomi dan aneka sistem ekonomi kelihatan menarik bagiku. Tapi yah, hasil ujian tidak meluluskanku di pilihan pertama jadi di Arkeologi ini aku (awalnya) ‘terdampar’.

Awalnya minder, melihat kebanyakan teman di prodi ini sudah punya pengetahuan tentang apa itu arkeologi. Sudah punya visi,apa yang akan mereka kejar di jurusan ini dan tema skripsi yang akan mereka ambil di akhir masa studi. Sementara aku, nol besar tentang apa itu arkeologi dan tidak punya visi akan apa yang kukejar dan kudaami.

Sebelumnya, aku siswa SMK (atau STM, haha), program keahlian (jurusan) Multimedia. Waktu itu, memilih Multimedia benar-benar keputusan yang dipertimbangkan sungguh-sungguh. Saat itu aku baru lulus SMP dan pengen banget jadi desainer grafis dan/atau animator. Aku sudah coba otodidak desain grafis selama 2 tahun terakhir di SMP tapi perkembanganku lambat banget, sehingga kupikir aku butuh belajar beneran secara formal supaya bisa. Motivasi inilah yang membawaku mendaftar program keahlian Multimedia. Dan setelah di terima, dan menjalani KBM di jurusan Multimedia, berkali-kali datang momen ‘wow ini gua banget‘ saat jam pelajaran, nugas, dan hal-hal terkait jurusan multimedia lainnya.

Yah, memilih Arkeologi beda dengan Multimedia, yang kupilih sungguh-sungguh, benar-benar berharap bisa masuk jurusan ini, sudah punya visi dan cita-cita, sudah punya pengetahuan dasar, dan makin belajar, makin ngerasa ‘ini tempat gua’. Sementara itu, masuk Arkeologi, nggak tau appapun, nggak punya dasar pengetahuan apapun, nggak punya visi apapun, nggak ngerti apapun.

Sehingga selama semester pertama, ada ragu di setiap langkahku. Apa tahun depan harus mengulang tes masuk? Aku salah jurusan gak sih? Buat apa kuliah kalo nggak ada visi? Apa aku akan suka di sini?

Tapi semester pertama di Arkeologi itu berakhir dengan kesadaran baru.

Arkeologi (dan Fakultas Ilmu Budaya) menyodorkan dunia baru dan aneka sudut pandang. Membentuk konstruksi baru di pola pikirku, seperti memberi kacamata-kacamata dengan warna lensa yang berbeda-beda.

Sumber: farbbrillen.com
Seperti kacamata terapi berwarna.

Berada di tempat yang tak pernah disangka akan jadi tempatku selama bertahun-tahun, seringkali memberi banyak kejutan. Ketika kuliah, belajar, atau ngerjain tugas, memang nggak pernah muncul momen ‘wow ini gua banget‘ seperti yang kualami di Multimedia. Alih-alih, hampir tiap hari aku menggumam ‘wow kenapa gua ga pernah hal semenarik ini sebelumnya?‘ atau berkali-kali mengernyit karena merasa kolot kenapa dulu nggak pernah terlintas ketertarikan di bidang ini.

Bayangkan saja.

Sebelumnya, aku bermimpi kuliah ekonomi, seperti yang dimimpikan jutaan calon mahasiswa di seluruh Indonesia, sepanjang dekade. Seorang teman pernah berkata, kalau ada ilmu yang memelajari tentang masa depan, itu adalah ilmu ekonomi. Benar juga sih, karena ekonomi mampu membuat aneka prediksi ke depan mengenai keadaan pasar, politik, budaya, dan sebagainya. Selain itu, para ekonom di Indonesia hidup dengan sejahtera. Tidak seperti sarjana teknik negri ini yang umumnya perlu mengemis pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan bidang mereka (catatan: terjadi jika mereka menolak undangan negri-negri asing untuk memberdayakan kecerdasan mereka dibawah naungan negeri tersebut). Pokoknya, dulu aku menganggap jadi ekonom itu keren. Dan katanya juga calon mantu idaman. Haha.

Tapi rupanya aku tidak belajar cukup banyak untuk ujian, aku ‘cuma’ diterima di pilihan kedua: Arkeologi Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Ada 15 jurusan yang tumplek di fakultas ini (Arkeologi, Sejarah, Filsafat, Ilmu Perpustakaan, dan sastra-sastra lokal maupun asing) yang menjadikan FIB begitu heterogen, setidaknya di mataku. Awalnya merasa aneh dengan orang-orang yang benar-benar ingin berdedikasi di bidang budaya ini, bahkan aku sempat punya stereotip parah mengenai anak-anak sastra asing, ‘buat apa mereka belajar bahasa yang dipakai masyarakat yang jauhnya ribuan kilometer dari sini?‘.

Ternyata, semester pertamaku menakjubkan! Ya Tuhan, kurasa aku tidak akan setakjub ini kalau masuk ekonomi. Aku bertemu beberapa teman yang sungguh-sungguh ingin berdedikasi di FIB meski orang-orang terdekat mereka masih memandang FIB sebelah mata; aku melihat berbagai paham dan ideologi yang sejajar maupun bertentangan bisa berkembang bersama di sini; aku melihat bagaimana  FIB menjunjung kebebasan berekspresi; dan mahasiswa dan dosen yang (karena heterogenitas jurusan-jurusan) berwawasan menarik dan berpikiran terbuka.

Aku berkali-kali menyadari betapa kolot aku ketika mengetahui sudut-sudut pandang lain, yang akhirnya membuatku makin belajar soal keberagaman ideologi tiap orang. Selain itu, aku juga belajar bahwa budaya dan sistem sosial adalah konsep penting dalam peradaban. Itu yang membedakan manusia dengan binatang, kan? Binatang tidak punya budaya. Sementara manusia punya, dan senantiasa mengembangkannya.

Aku mungkin tersesat dari jalan yang sebelumnya kuinginkan, tapi ada saat-saat dimana tersesat adalah kebutuhan. Seperti saat ini. Karena dengan tersesat, seseorang menemukan banyak kejutan dan ia bisa belajar meniti jalan yang tidak pernah ia perkirakan sebelumnya. Tersesat memaksa orang untuk memilih antara  berputar-putar mengutuki keadaan atau beradaptasi dengan keadaan sesigap mungkin. Dan aku memilih beradaptasi, karena ini tersesat yang menyenangkan.

Mungkin kebutuhan tersesat adalah seperti yang dialami Siddharta Gautama, yang notabene adalah seorang pangeran yang menghuni istana seumur hidupnya turun ke rakyat jelata, membuat dirinya tersesat dalam konsep sosial dan konsep kehidupan yang baru ditemuinya di rakyat jelata. Jika Siddharta tidak tersesat, mungkin sampai mati ia hanya tau bahwa hidup adalah hari-hari aman dan nyaman di istana. Tapi ia tersesat, jadi ia menemukan bahwa hidup dipenuhi dengan berbagai penderitaan dan kebahagiaan.

https://blogprita.files.wordpress.com/2015/09/02efd-getting-lost-is-a-great-way-to-find-yourself-1024x664.jpg?w=704&h=457

Segala puji bagi Tuhan yang memberiku kacamata warna-warni ketika aku cuma punya kacamata hitam.

Aku menikmati kuliahku, sejauh ini. Memang belum ada visi yang cukup jelas apa yang akan kulakukan dengan arkeologi, kecuali sekelebat bayangan tentang membuat animasi tentang mitologi Indonesia klasik, simulasi arsitektur bangunan kuno, atau game interaktif tentang sejarah. Tapi itu belum jadi visi yang matang.

Jadi, aku tidak tau ini namanya salah jurusan atau bukan. Yang penting, aku menyukainya. Aku bersyukur pada Tuhan yang sudah tidak mengabulkan mimpi naifku kuliah di ekonomi. Alih-alih, Dia ‘mencemplungkan’-ku ke tempat yang asing bagiku, di arkeologi ini. Tapi dengan ini, Tuhan seolah-olah menganggap mimpiku payah dan memberiku karunia melampaui apa yang kumimpikan.

Apalagi yang lebih menyenangkan dari kacamata warna-warni?

Di salah satu bukunya Lesley & Roy Adkins
Once you’ve made the 1st step towards finding out more about archaeology, it is likely that you will never turn back.

Aku memang belum tau banyak tentang Arkeologi, tapi ini adalah bidang yang aku sangat ingin belajar banyak, jadi aku akan terus di sini.

Iklan

4 thoughts on “Bidang yang Aku Sangat Ingin Belajar Banyak

  1. Wah wah kakak. Semoga bisa betah di Arkeologi ya. Tanpa kamu akan jadi apa aku ini. :”
    Banyak kom dari temen-temen kita yang visinya belum jelas, tapi teteo ngejalanin dengan harapan di masa depan mereka bakal tahu visi mereka apa.
    Kemudian tentang gak tahu apa-apa tentang Arkeologi itu hal yang wajar. Toh, selama pendidikan wajib kita, yang kita tahu dan dulu perlu tahu hanya mengenai sejarah. Kapan memangnya di mapel Ips dibahas tentang apa itu Arkeologi 🙂 Nah, makanya dengan masuk Arkeologi, kamu akhirnya tahu kan arkeologi itu apa.
    Btw, kamu gak kolot kok. Hanya saja kamu masih terjebak dan nyaman dalam zona yang ada di sekitar kamu.
    Hahahaaa. Semangat kuliah ya neng prita :”

    1. Kalo betah, tentu aja betah. Apalagi semester ini ada partner yang nemenin kunjungan museum tiap minggu dan bisa nguliahin banyak seputar museum yang dikunjungi (aku sendiri ga banyak tau tentang itu). Jadi kayak dapet pemandu tur gratis.

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s