Dari Saya · Harian · Tulisan

Esok Tidak Datang Lagi

Dia menghampirimu dan berbisik, amat lirih. “Esok tidak datang lagi. Apa yang akan kaulakukan?”

Aromanya seperti kelabu; pergulatan antara hitam dan putih yang tak menghasilkan keindahan.

Kau diam, tidak menjawab hingga ia mengulang pertanyaannya.

“Esok tidak datang lagi, Kawan. Apa yang akan kaulakukan terhadap mimpi-mimpimu? Apakah meninggalkannya, atau kau akan mengejarnya?”

Kau berpikir sebentar, lalu menatapnya putus asa. “Aku ingin mengejarnya. Sangat ingin. Tapi jika kukejar sekarang, sekeras apapun, di akhir hari ini aku hanya sampai di tengah jalan. Itu terlihat percuma. Aku hanya akan dapat lelah, tidak dapat hasil. Jika esok masih datang, mungkin aku bisa sampai ujung jalan.”

“Apakah itu berarti kau ingin meninggalkannya?”

Kau berpikir sebentar. “Tidak juga… Akan jadi apa aku meninggalkan mimpi-mimpiku; tujuan-tujuan hidupku?”

“Esok tidak datang lagi, Kawan. Apa yang akan kaulakukan terhadap hutang-hutangmu? Apakah meninggalkannya, atau kau akan membayarnya sebisa mungkin?”

“Aku cuma punya sedikit uang. Kalau aku membayar hutang-hutangku, aku tidak punya apa-apa yang bisa kugunakan untuk bersenang-senang hari ini. Tapi bagaimanapun, itu hutang. Janji. Bagian dari diriku yang jadi hak orang lain. Entahlah. Aku bingung.”

Aromanya yang kelabu semakin pekat. Kau menatap bahunya yang stabil, tidak bergerak naik-turun laiknya orang bernapas. “Esok tidak datang lagi. Apa yang akan kaulakukan terhadap piutangmu? Menagih orang-orang itu atau membiarkannya?” ia bertanya lagi.

“Seharusnya aku menagihnya sekarang jika tidak ada lagi esok. Tapi, untuk apa menghabiskan hari untuk berkeliling menagih hutang, sementara aku tidak punya esok untuk dinikmati? Lebih baik kubiarkan saja, dan kumaksimalkan sisa hari ini untuk bersenang-senang. Memangnya…. benar-benar esok tidak datang lagi?”

“Ya. Esok tidak datang lagi. Oh ya, apa yang akan kaulakukan terhadap orang-orang yang kausayang? Apakah kau akan mengucapkan selamat bepisah, mengucapkan terima kasih, memeluk mereka, meninggalkan mereka, melupakan mereka, atau apa?”

Kau diam sesaat.

“Entahlah.” Kau diam lagi. “Kurasa…. aku hanya akan mendatangi mereka dan berkata, ‘esok tidak datang’.”

Iklan

8 thoughts on “Esok Tidak Datang Lagi

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s