Dari Saya · Opini · Tulisan

Emang Smartphone Bikin Produktif?

Saya rasa saya butuh  smartphone. Ponsel yang saya gunakan lumayan jadul, Samsung C322. Berkamera, bluetooth, tapi selama ini saya cuma pake fitur sms, telepon, kamera, dan alarm.

sulekha.com

Lingkungan saya penuh dengan pengguna smartphone atau ponpin (singkatan dari ponsel pintar, istilah ini dari Three Ve di Annida). Kadang keadaan ini bikin saya mikir kalau saya butuh ponpin. Saya ada di lingkungan pengguna ponpin; temen kampus, temen SMK, temen SMP, ade-ade saya, semuanya pake. Dan saya adalah satu dari sedikit orang yang bertahan dengan ponsel biasa. Kadang fenomena ini bikin saya ngerasa kudet–kurang update. Nggak minder sih, tapi kudet. Ya, saya emang punya akun media sosial ala-ala ponpin; Line dan Whatsapp. Tapi kedua media itu saya akses via laptop, via Line for PC dan Bluestack (aplikasi emulator Android untuk PC). Nggak bisa senantiasa online media sepanjang hari.

Kudet rasanya karena sering ketinggalan info grup, susah googling pada saat keadaan saya lagi di luar rumah, ga bisa make teknologi multimedia portable (foto, rekam, video, dsb.) kapanpun, dan harus rela berberat-berat ria bawa jurnal dan buku bacaan kemanapun.

Banyak grup di akun Line dan Whatsapp saya, yang aktif ngasih info dan komunikatif antar-anggotanya. Kebanyakan grup ini aktif sepanjang hari. Misalnya, grup kelas aktif sepanjang hari di hari kuliah. Percakapan di grup itu biasanya nanyain jam masuk kuliah, tugas, keberadaan antar anggota grup (“Ada yang lagi di kantin ga? Titip minum dong!“), dan semacamnya. Rasanya kudet kalo saya lagi di kampus sendirian, nggak bisa akses grup yang ada percakapan ‘dimana temen-temen saya’ dan ‘sudahkah dosen dateng’. Atau grup UKM, yang penting banget, karena UKM kan menghimpun mahasiswa dari beraneka fakultas yang jadwal tiap mahasiswanya beda-beda, jadi kadang, kalo nggak pake percakapan langsung via grup, kami bakal kesusahan ngumpul tepat waktu dan tepat tempat juga.

Kebutuhan untuk mencari info via internet dewasa ini makin mendesak. Kalau pengen jalan-jalan dan belum tau medannya gimana, peran Google Maps penting ngets kan. Kalau pengen ngonfirmasi suatu info atau berita, semisal mau tau jadwal KRL paling malam, tinggal buka web KRL dan cari jadwalnya. Kalau lagi diskusi di kelas dan ada istilah yang kami nggak ngerti atau kami butuh referensi, tinggal googling.

Fitur-fitur multimedia portable yang disediakan ponpin juga menarik banget. Kita bisa ambil foto, video, dan merekam kapanpun dengan efektif. Gampang pakai, gampang edit hasilnya, gampang unggah, gampang berbagi. Kita bisa bercerita dan mengekspresikan diri lewat fitur-fitur itu sekaligus berbagi.

Selain itu, enak banget kalo bisa baca e-book di menit-menit membosankan sebelum masuk kelas atau saat di KRL. Saya harus bawa novel, karena ratusan e-book di laptop nggak mungkin dibuka di gerbong KRL kan. Selain itu, organiser. Ini penting banget karena saya sering nulis pengingat dan jadwal, konsep ide, catatan kuliah, notulen diskusi, dan semacamnya. Selama ini saya pakai binder atau lembaran HVS.

Kalo saya punya ponpin, saya bisa akses grup chat sepanjang waktu. Saya akan terbebas dari ancaman kudet sama lingkungan sosial saya sendiri. Saya juga bisa akses info lebih efektif. Nggak kayak sekarang yang kalo nemu istilah asing atau mendadak muncul pertanyaan harus dipendem dulu hingga ketemu google di rumah. Kalo lagi nggak beruntung, saya sering lupa apa yang mau di-googling. Saya juga bisa mengambil foto dan video tentang apapun yang saya temui dan berbagi langsung di media sosial. Selain itu, saya nggak perlu lagi bawa novel atau binder, karena ponpin bisa meliput fungsi baca dan nulis.

Ponpin membuat segalanya lebih mudah, lebih efektif. Saya rasa, saya akan lebih produktif kalau punya ponpin. Dengan ponpin, nggak banyak hambatan akan akses sosial maupun akses info–kayak sekarang dengan ponsel jadul saya. Saya butuh ponpin.

Tapi, tunggu.

Apa saya benar-benar perlu ponpin? Ataukah alasan-alasan di atas cuma silau mata saya aja?

Hmm, saya coba pikir kekurangan ponpin bagi saya.

Pertama, saya males banget charge ponsel. Ponpin cenderung lebih boros baterai. Ponsel saya bisa tahan 3-4 hari, di masa liburan yang jarang dipake, bisa tahan seminggu. Kedua, kebanyakan ponpin menggunakan fitur layar sentuh dan bentuknya langsing banget, saya rasa… terlalu rentan untuk orang ceroboh kayak saya. Ketiga, fitur notifikasi di ponpin bikin hal-hal yang sifatnya biasa jadi ‘terlihat’ mendesak, cuma karena merasa ‘wajib’ cek notif. Bisa sih dimatikan, tapi mematikan notif nggak berpengaruh banyak mengurangi ke-kepo-an saya terhadap aplikasi di ponpin (pengalaman dengan Line for PC dan Bluestack sih ini), jadi meski notifnya nggak aktif, saya bakalan cek aplikasi-aplikasi chat itu secara berkala.

Memang saya akan update dengan grup media sosial, akan lebih mudah googling dan nyari info, akan bebas ngambil foto dan video, akan pasang aplikasi perencanaan harian dan nyimpen banyak e-book. Tapi hanya itu. Di luar itu, saya kemungkinan besar kecanduan gatel-cek-chat dan ngegampangin belajar di rumah karena pasti saya bakal mikir, ‘ngapain belajar sekarang, nanti saya googling sesampai di kampus aja,’ dan kebanyakan baca buku di ponpin ketimbang versi cetaknya meningkatkan kemungkinan kerusakan mata. Juga, saya yang udah cuek dan cenderung individualis ini bakal makin anti-sosial. Dan yang utama, makin malas dan pasif. Saya rasa saya bakal menghabiskan jam-jam untuk blogwalk tapi ga posting; untuk baca buku tapi ga nulis; untuk lihat-lihat galeri desain online tapi ga ngedesain; aktif chat di grup media sosial tapi nggak aktif dateng di organisasi; dan hal-hal semacem itu.

Intinya, alih-alih produktif, saya bakalan makin pasif.

Saya belum bisa menstabilkan diri dalam menggunakan ponpin, belum bisa memilah skala prioritas, belum bisa membuang hal-hal yang sepintas terlihat mengasyikan padahal cuma buang-buang waktu semata.

Dan kalo saya mau ponpin untuk ningkatin produktifitas saya, saya harus buktiin dulu sebelumnya kalo saya emang beneran produktif.

Jadi
sekarang harus keluar dulu
dari status pengangguran.

Alias jadi produktif beneran.
Oke.

Iklan

13 thoughts on “Emang Smartphone Bikin Produktif?

    1. Iya, buat orang yang emang bisa mengelola kebutuhan, fitur multitask ponpin bakal ngebantu banget. Tapi buat orang yang belum bisa ngelola kebutuhan kayak saya, fitur itu malah mengganggu… hehehe

  1. Hape saya masih Xperia X8 saya fungsikan untuk telp dan sms dilengkapi dengan fesbuk. Aplikasi lainnya tidak saya instal, nanti kepo saya malah menggila

  2. Kalau saya sih ngerasa ponpin atau smartphone ini sangat membantu dan saya tetap merasa produktif. Iya memang kita jadi cek notif, cek medsos, dll tapi untuk kerjaan akan lebih efektif (contoh cek email dan balas email).
    Oh iya, mengenai fitur layar sentuh itu, buat saya sih semuanya bisa karena biasa. Jadi yang asalnya kaku, kalau udah biasa, ya bisa. Hehehe.

    1. Benar sih Ka, tapi saya ngerasa ‘harus’ membuktikan diri dulu sebagai orang produktif sebelum beli perangkat yang menunjang keproduktifan, hehehe

      Terima kasih komennya Kak Fasya!

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s