Dari Saya · Resensi · Tulisan

Gadis Jeruk: Bukan Kisah Cinta Cengeng

“Siapapun harus membacanya.”

Begitu kalimat endorsement oleh Vogue yang tertulis di sampul belakang buku. Saya setuju sekali! Buku ini, dengan alur yang tidak biasa, sederhana, tapi, bisa memutar otak. Buku Gadis Jeruk ini penuh dengan detail-detail sederhana yang dimaknai Jostein Gaarder dengan baik dan fantastis, kurang lebih seperti fantasi yang ia ciptakan di buku fenomenalnya, Dunia Sophie. Gadis Jeruk versi Indonesia ini diterbitkan oleh Mizan Fantasi pada 2011.

Seperti pada Dunia Sophie, Jostein Gaarder berusaha menjeaskan pencarian tetang makna dan substansi kehidupan yang jika direnungi dalam, sangat misterius. Bedanya, jika di Dunia Sophie digunakan tokoh anonim yang sangat misterius yang menyampaikan pelajaran tentang makna kehidupan, di Gadis Jeruk ini, tokoh yang menyampaikan pelajaran tentang makna kehidupan adalah tokoh yang sudah mati. Jostein Gaarder selalu menggunakan tokoh-tokoh yang benar-benar beda.

Georg—tokoh utama—mendapatkan surat dari sang ayah yang sudah meninggal belasan tahun lalu. Surat itu juga ditulis belasan tahun lalu, tentunya. Jenis cerita berbingkai yang menarik, konflik kehidupan Georg yang disela beberapa kali oleh cerita dalam surat sang ayah. Menuangkan banyak peristiwa romantis, mengejutkan, manis, sekaligus mengecewakan dalam lembaran-lembaran surat yang sang ayah kirimkan, para pembaca akan dibuat takjub dengan banyak kejadian yang seolah terjadi secara kebetulan. Pada akhirnya, Gaarder selalu memberi penjabaran atas tiap-tiap kebetulan itu; Gaarder adalah jenis orang yang rasional dan tidak terlalu percaya akan kebetulan, menurut kacamata saya. Fokus utama buku ini adalah surat yang dituliskan seorang ayah, Jan Olav, kepada sang putra yang beranjak remaja, George. Surat ini bercerita tentang kisah romantis Jan Olav dengan seorang perempuan yang ia juluki Gadis Jeruk. Seperti yang saya sebutkan di atas, garis takdir Jan Olav dengan si Gadis jeruk dihiasi banyak kebetulan unik sekaligus misterius. unik, karena mereka bertemu di tempat-tempat umum, bukan di kampus, kantor, atau rumah, kesemua pertemuan mereka tidak disangka, dan tidak ada pembicaraan kecuali sepotong-dua potong kalimat. Misterius, karena si Gadis Jeruk tampak tidak teraih, tidak dikenali, dan tidak mudah diterka. Meski begitu, hasrat menggebu Jan Olav untuk selalu mencari si Gadis Jeruk membawanya hingga terbang ke luar negri.

Jangan sangka buku ini berisi kisah cinta yang manja dan cengeng, yang telah ditulis oleh jutaan penulis sebelumnya, tidak. Kisah cinta Jan Olav adalah kisah cinta penuh pemaknaan hidup dan penggapaian cita-cita. Dan juga, bukan kisah percintaan yang menjadi elemen utama buku ini, tapi adalah elemen filosofis, bagaimana cara Jan Olav memprediksi kejadian, menafsirkan kejadian, dan menganalogikannya dengan logika dan ilmu pengetahuan.

Terima kasih buat Icut yang sudah meminjamkan buku ini dan Anisa yang memberikannya sebagai tambahan koleksi kami; terima kasih sekali!

Iklan

6 thoughts on “Gadis Jeruk: Bukan Kisah Cinta Cengeng

    1. Iya, Dunia Sophie emang lebih berat, tapi isinya lebih padat (y) Saya juga perlu baca ulang 3 kali sampe nyambung dan bener-bener paham; bacaan sekelas itu masih terlalu berat buat saya, hehehe.

  1. Ngomong2 namaku “n”-nya ga dobel kak wkwkwk tapi aku terkesan bgt kakak jabarin bukunya bisa keren gini yaampun,kakak sahabatku itu salah satu blogger paling kece seindonesia!

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s