Dari Saya · Opini · Tulisan

Dedikasi Penuh untuk Belajar? Nggak.

“Kalian pelajar, tugas kalian cuma belajar yang bener aja. Gak usah mikir biaya dan macem-macemnya itu.”

Saya nyandang status sebagai pelajar, yang otomatis  tugas utama saya itu belajar.

Tapi dari dulu, saya nggak pernah ngutamain belajar jadi tugas utama saya. Selama ini, yang saya tetapin sebagai tugas utama saya adalah berkarya sendiri. Entah itu tulisan, grafis, atau apapun itu, saya lebih mementingkan karya sendiri dulu daripada belajar. Yah, meskipun karya yang saya maksud bukan karya besar, cuma sekedar coretan cerita atau gambar, atau produk daur ulang amatir. Curcol sedikit, jaman SD itu saya suka nulis fiksi. Pra-ulangan, saya sibuk nulis di buku tulis, orang-orang kira saya lagi belajar, padahal saya lagi nulis cerita alih-alih belajar. Dan sekarang, di semester-semester di kelas Multimedia ini, saya nggak mau ambil pusing sama pelajaran non-produktif. Saya pengen selalu mengutamakan pelajaran produktif yang emang sesuai sama minat saya, di atas pelajaran lain. Yah, meskipun belum optimal.

Dulu, saya nggak punya alasan yang logis untuk mengutamakan berkarya dibanding  belajar (baca: memahami isi buku dengan baik). Saya cuma belum ngerti tentang tanggung jawab dan selalu tergoda sama keinginan sendiri, jadi saya selalu ngutamain menggambar atau nulis cerita alih-alih baca dan ngerangkum buku pelajaran. Beda lagi sama sekarang. Sekarang, alasan saya (saya pikir) lebih logis lagi.

http://sovianchoeruman.files.wordpress.com/2010/07/stress.jpg

Alasan pertama, kenyamanan diri. Akhir-akhir ini saya makin egois, otomatis makin mengutamakan kenyamanan diri. Saya nggak mau memaksa diri saya buat melakukan hal-hal yang nggak saya sukai, kayak menghapalkan tanggal-tanggal kapan Jepang menyerang Pearl Harbour, kapan Borobudur ditemukan, kapan Perang Dunia II pecah, dan lain-lainnya. Saya cuma ngapalin tahunnya–sekedar buat pengetahuan umum–dan mentok-mentok ngapalin bulan. Saya lebih memilih nyalain komputer, buka Adobe Illustrator atau Microsoft Word, atau buka Tumblr dan WordPress. Selama ngasih banyak efek baik dan nggak sia-sia, kegiatan apapun itu, saya prioritaskan dibanding pelajaran sekolah.

Pokoknya sekolah itu nomor satu. Kamu harus fokus sekolah.

-Banyak orangtua

Bersyukur orangtua saya nggak pernah bilang begitu. Karena kalo selama ini saya fokus sama sekolah, saya bisa dua atau tiga kali lipat lebih bodoh dari saya yang sekarang. Tentu aja, selama ini di sekolah saya meningkatkan kemampuan ngitung, ngapalin, nyalin, dan banyak lagi, tapi nggak termasuk tentang pelajaran apresiasi seni, praktek terampil, dan yang semacam itu. Saya ada pelajaran Kewirausahaan di sekolah, dan pelajaran itu cuma ngapalin tentang macam-macam pemimpin (pemimpin otoriter, demokratis, kebapakan, dll), macam-macam wirausaha (inovatif, imitatif, dll), cara ngitung untung-rugi, dan semacamnya. Materi hapalan kayak gitu hanya sama sekali bukan pelajaran yang efektif buat pendidikan karakter para siswa.

Dan alasan kedua, demi pengembangan diri. Sistem sekolah sekarang–menurut saya–lebih menitik-beratkan pada dalamnya wawasan, bukan pada eksploitasi diri. Bagi saya, eksploitasi diri itu sangat amat penting. Kalo nggak ada eksploitasi diri, wah, saya nggak akan jadi blogger, nggak akan punya banyak hobi, dan saya mungkin bakal masuk SMA alih-alih SMK, trus menghabiskan sembilan jam sehari untuk ekonomi dan geografi. Itu menyedihkan.

Alasan ketiga, tentu aja nilai investasi. Seorang pengusaha properti besar (saya lupa siapa namanya) berkata, “Investasi terbesar bukan investasi logam mulia, saham, atau tanah, tapi adalah investasi kepala.” Saya suka banget kutipan itu.

Seperti yang saya gambarkan di atas, lebih baik saya mencoret-coret buku harian dibanding ngapalin paragraf di buku cetak. Dengan nyoret-nyoret, saya punya rangkuman hari yang bakalan berguna bagi saya pribadi, hari ini dan di tahun- tahun mendatang. Saya bisa membuka pikiran, mengalirkan ide, dan coret-coretan itu bisa jadi parameter di tahun-tahun mendatang buat ngukur seberapa jauh saya berkembang. Tentu saja itu lebih baik daripada menghapal paragraf-paragraf di buku untuk dilupakan kembali di minggu berikutnya, atau menyalin catatan yang hanya berguna selama 2-3 bulan, setelah itu nggak ditengok lagi. Waktu nggak berulang, saya pengen jadi investor untuk kepala saya.

Saya bukan siswa yang aktif atau pintar, tapi setidaknya, apapun yang saya lakukan selama ini, saya selalu menikmatinya.

Yah, ini cuma pendapat saya. Sekolah memang penting, tapi kurikulumnya, yah, tergantung kebutuhan kita masing-masing. Bagaimana menurut Kakak-Kakak MP?

Sumber gambar: http://sovianchoeruman.files.wordpress.com/2010/07/stress.jpg

Iklan

3 thoughts on “Dedikasi Penuh untuk Belajar? Nggak.

  1. Bagus kata2 yang investasi itu, saya juga suka. Terkadang malah ilmu2 yang dipelajari mati2an itu justru lupa karena dilakukan terpaksa dulunya… 😀

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s