Dari Saya · Harian · Tulisan

Tawaran dan Tanggung Jawab – Bagian 2

Cuma lanjutan dari cerita fiksi yang belum utuh. Sebelumnya, ada di sini.

https://i0.wp.com/dl10.glitter-graphics.net/pub/467/467980r81re9x9km.gif

“Ya, aku tau.” Aisyah menutup proposal Sandyo. “Boleh kubawa pulang dulu proposalnya?”

“Silakan. Selamat berpikir, semoga keputusanmu memihakku.”

Aisyah sudah berbaring di tempat tidurnya setengah jam sebelum jam tidurnya yang biasa.

Ia benar-benar merenungi proposal Sandyo. Membayangkan penawaran dan angan-angan Sandyo sangat menyenangkan. Bulan ini, mereka akan memulai persiapannya. Garasi rumah Sandyo yang akan mereka jadikan sanggar baca dan dongeng. Ia hanya tinggal seorang dengan kakak perempuannya yang sibuk dan pembantunya, jadi kegiatan mereka tidak akan merepotkan siapapun. Mereka akan membersihkannya, membawa semuanya ke gudang, lalu memasangkan karpet di garasi itu, rak-rak buku, boneka, bantal-bantal…

Tapi Aisyah tidak bisa melakukannya. Sepuluh jam seminggu, kata Sandyo. Aisyah optimis usaha mereka tidak akan rugi, malah untung. Ia yakin dirinya dan Sandyo cukup kompeten, meskipun ini baru pengalaman pertama mereka. Dan, ia butuh sekali uang. Kalau usaha ini berjalan lancar… Sandyo bilang mereka bisa dapat dua ratus ribu per bulan sebagai laba bersih. Memang dibagi berdua, tapi seratus ribu saja sudah cukup besar. Ia bisa melunasi biaya rumah sakit Pan kurang dari dua bulan… Dan ia juga masih bisa menggunakan uang jajannya untuk membeli buku-buku untuk para adik asuhnya.

Sepuluh jam per minggu. Itu sekitar dua jam per hari–Aisyah hanya mau bekerja di hari kerja–sedangkan sekolah memakan waktu sembilan jam per hari. Tidur, enam-tujuh jam. Hiburan, dua jam. Tugas lain, seperti pekerjaan rumah tangga, pekerjaan rumah, proyek-proyek kecil, satu-dua jam. Belum kalau itu berbentur dengan jamnya mengajar Pan dan adik-adiknya. Aisyah tidak mungkin tidak mengajar. Tapi… ia sungguh butuh uang, dan tidak hanya itu, ia butuh pengalaman dan rekan bisnis. Sandyo bagai menawarkan emas padanya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Aisyah tidak mengenal nomor ini.

“Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumussalam. Ini Neng Ai?” suara di sebrang bertanya. Suara itu tidak ia kenal, kedengaran seperti perempuan seusia ibunya. Tidak ada yang memanggil dia dengan sebutan ‘Neng’, kecuali penjual-penjual jajanan yang kadang juga memanggilnya ‘Mbak’.

“Maaf, ini siapa?” tanya Aisyah tegas. Ia mengambil ancang-ancang waspada, kalau-kalau perempuan ini bukanlah teman.

Ini mamanya Irfan dan Ina.

“Oh, maaf Bu, ada keperluan apa?” nada suara Aisyah melembut. Ini ibu Pan–panggilan Irfan–dan Ina, yang selalu dipuja kedua bocah itu di setiap kesempatan.

Tadi siang orang rumah sakit datang ke sini, nagih. Kami kasih dia seperapat dari tagihan, karena kami cuma punya segitu. Mereka bilang mereka akan ke sini lagi lusa, dan harus lunas semua, atau mereka mau datangi rumahnya Neng Ai, Eneng kan penanggung-jawabnya. Sebenernya Irfan sama Ina udah ngelarang saya buat nelpon Neng Ai. Mereka bilang Neng Ai lagi susah juga, jangan dibebanin lagi. Saya juga nggak enak sebenernya Neng. Neng masih sekolah, masih sibuk ini-itu… Saya bukan maksud ngebebanin Neng Ai. Saya cuma mau ngingetin kalo orang itu bakal dateng… Soalnya saya sama suami belum bisa nambah tabungan cukup sampe paling cepet minggu depan.

“Oh, eh,” Aisyah tergagap, “Iya Bu, terima kasih banyak infonya. Jangan cemas Bu, Tuhan pasti kasih rezeki. Saya nanti liat tabungan dulu ya, kalau cukup mungkin besok siang sepulang sekolah, saya bisa ke rumah Ibu.”

Oalah Neng, bukan begitu maksud saya. Saya nggak minta duit Neng. Saya cuma mau ngingetin. Saya nggak mau banyak-banyak ngerepotin Neng Ai, soalnya Neng Ai udah baek banget sama Irfan dan Ina. Saya bakal bayar biaya rumah sakitnya Neng, cuma nggak bisa minggu ini. Maaf banget Neng, saya…”

“Ibu nggak perlu minta maaf,” potong Aisyah buru-buru. “Saya bisa melunasinya besok.”

Ibu Pan mengucapkan banyak terima kasih dan maaf, sekaligus janji akan mengganti uang Aisyah. Aisyah berkata tidak usah khawatir. Lalu mereka menutup telepon.

Dan Aisyah menyambungkan panggilan baru.

“Halo, dengan Sandyo? Ya, aku setuju dengan proposalmu. Kapan kita bisa mulai? Secepatnya ya?”

“Tentu saja!” sambut Sandyo riang, “Aku senang sekali mendengarnya! Besok, ya, sepulang sekolah kau harus ke rumahku membantu persiapan tempat sekaligus menyusun anggaran bersamaku. Jangan lupa bawa uangmu ya, kalau sempat kita akan langsung belanja.terimakasih banyak Aisyah, aku senang seklai. Semoga semua ini bisa berjalan lancar. Sampai jumpa!”

Sambungan itu ditutup.

Aku akan mengurangi setengah dari jam tidurku. Aku akan mulai dengan segelas kopi sehari.

https://i0.wp.com/dl10.glitter-graphics.net/pub/467/467980r81re9x9km.gif

Menyenangkan sekali kalau Kakak-Kakak berkenan mengkritik.

Iklan

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s