Dari Saya · Opini · Tulisan

Seorang Ateis dan Muslim: Bagian 1

https://i0.wp.com/dl10.glitter-graphics.net/pub/467/467980r81re9x9km.gif

Savhia. Gadis itu menarik. Namanya mirip-mirip denganku. Berambut seperti Dita, tapi dengan garis muka yang benar-benar Eropa. Cerdas, efisien, dan tegar. Tipe wanita karir sejati.

Kami duduk berdua menikmati sore di sebuah taman kota. Bukan suasana yang cukup indah memang, mengingat berada di kota yang kata dunia sangat berpolusi.

“Kalau saya boleh tau, apa agama Anda?” aku membuka topik baru. Lelah membicarakan terus tentang Dita, sedang kupikir itu sudah sangat basi. Membicarakan  tentang agama, teologi, rasanya akan menjadi diskusi menyenangkan.

“Saya Atheis,” jawab Savhia, “Hidup bebas tanpa terkekang ritual agama dan peraturan-peraturannya. Bagaimana rasanya menjadi muslim?”

Aku tertegun. Bagaimana rasanya menjadi muslim? Duh, dua puluh tahun lebih aku menggenggam status muslim, dan baru tiga mingguan ini aku merasakan seutuhnya bagaimana menjadi muslim…

“Damai dan tenang, menurut saya,” jawabku, “Ini agama paling sempurna kan. Dan Anda sebagai penganut Atheisme, tidakkah hidup Anda sepi?”

“Kenapa sepi?”

“Tentu saja, Anda kan hidup tanpa Tuhan. Kepada siapa Anda menangis? Apa ada yang selalu siap sedia menemani Anda?”

Savhia tertawa. “Hidup saya bergulat dengan iptek dan ekonomi, Fiyyah. Saya tidak menangis. Dan soal teman? Disini sudah ada internet. Hampir segala hal bisa kau lakukan dengannya. Untuk apa meyakini hal yang terlalu absurd?”

Meyakini hal yang terlalu absurd. Seperti keberadaan Tuhan. Emosi dan pikiran manusia juga absurd. Tapi orang-orang meyakininya kan. Memberi nama pada masing masing emosi: marah, senang, sedih. Juga pada pikiran: ide, motivasi, dorongan, dan lainnya.

Tapi aku tidak berkata begitu. Aku balik bertanya. “Apa hal-hal itu cukup untuk mengisi hati Anda? Tak adakah ruang hampa atau yang semacam itu?”

Mengatakan ini, aku ingat bulan-bulan dimana aku menjauhi Tuhan. Dimana aku terlalu egois dan angkuh untuk berdoa padaNya, terlalu malu dan gengsi untuk akuui kalau hanya kepadaNya aku pantas mengemis.

“Saya tak punya waktu untuk mempedulikan ruang hampa, Fiyyah,” jawabnya lembut penuh keyakinan, “Banyak hal yang lebih berguna daripada mengisi ‘ruang hampa’ yang Anda maksud itu dengan ritual keagamaan, seperti meliput berita, menganalisis kondisi saham, mendesain model komputer dan mobil, mempelajari klasifikasi unggas, dan yang semacam itu.”

“Anda mengingkari apa yang Anda butuhkan, Anda tau?” pancingku. “Anda mengabaikan ruang hampa itu hanya karena Anda terlalu bodoh untuk mengisinya dengan keberadaan Tuhan.”

Dia tidak tersinggung. Kupikir dia sudah menyiapkan argumen yang baik.

“Terserah Anda,” dia mengangkat bahu, menyibakkan rambut panjangnya. “Kalau saya beranggapan Tuhan benar-benar ada pun, saya akan bingung sekali. Ada ratusan Tuhan yang disembah oleh umat manusia di dunia ini. Para Muslim menyembah Allah, para Kristen menyembah Yesus, orang Yunani memuja para dewa, orang Jepang menyembah matahari, dan banyak lagi. Mana Tuhan yang paling benar diantara mereka?”

“Bagi saya, tentu Allah. Siapa lagi?”

“Itu karena Anda muslim. Kalau Anda seorang Kristian, Anda akan menganggap Tuhan yang sesungguhnya adalah Yesus. Bukankah begitu?”

Aku hampir saja kehabisan kata-kata saat sebaris kalimat yang pernah kubaca melintas: pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Al Maidah ayat 3.

“Di kitab kami, Allah menuliskan bahwa ini adalah agama yang sempurna.”

“Di kitab agama lain juga begitu, kan? Setiap agama mendukung paham mereka. Anda tau itu.”

“Memang,” sambutku, “Tapi saya tidak mendukung paham agama saya dengan begitu saja. Saya harus memastikan ini paling benar diantara yang lain sebelum saya sungguh-sungguh meyakininya.”

“Saya tertarik mendengarkan alasan Anda, kalau Anda bisa menjabarkan,” Savhia tersenyum. Aku membalasnya.

“Pastikan logika Anda ada di tempatnya dan otak Anda tidak berada di dengkul. Saya akan menjelaskan dengan senang hati.”

“Sesuai syarat, dan telinga saya terpasang dengan baik.”

https://i0.wp.com/dl10.glitter-graphics.net/pub/467/467980r81re9x9km.gif

Masih ada kelanjutannya Kak. Belum bisa ngepost sekarang, lagi di warnet.

Tulisan ini sebelumnya pernah saya post di blog saya sebelumnya, yang sekarang udah hangus. Shafiyyah itu tokoh utama dari satu kerangka karangan saya–sebuah memoar fiktif–dan selama setahun lebih ini saya senang menulis cuplikan-cuplikan memoar itu–tidak secara urut. Nah, cuplikan ini adalah cerita ketika Shafiyyah berdiskusi tentang teisme dengan seorang bule yang namanya mirip. Saya pikir ini mungkin tema terberat yang pernah saya tulis, berhubung ini teisme dan selama ini tulisan saya selalu yang ringan-ringan aja.

Iklan

5 thoughts on “Seorang Ateis dan Muslim: Bagian 1

    1. PCku lagi rusak… belum sempet ngelanjutinnya 😦 tapi kalo ada kesempatan, aku bakal segera lanjutin koook ^^ aku juga gak sabar nunggu kelanjutan ceritany

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s