Dari Saya · Harian · Tulisan

Putri, Gadis Kelaparan, dan Remah Kue (2)

Tulisan lanjutan dari sini.

Ia lupa kalau ia mencuri. Dari seorang putri, sang sahabat yang sangat dihormatinya.

Ia mencuri.

This_delicious_cake_by_sypri

Sang Putri masuk ke ruang makan begitu si gadis menghabiskan remah terakhir. Ia tau si gadis memakan kuenya.

“Kau memakan kueku,” sang putri berujar datar. Ia tidak mengatakannya dengan nada marah, tidak pula dengan nada ramah.

“Hanya remah-remahnya,” elak si gadis. “Aku tidak memakan kuemu sepotongpun.”

Sinar mata si putri melembut, seakan menenangkan si gadis yang tampak merasa bersalah tertangkap basah. “Aku tidak menyalahkanmu,” lagi-lagi sang putri mengatakannya dengan datar. “Seberapa banyak yang kaumakan?”

“Hanya reremahannya,” jawab si gadis, “Nanti–nanti akan kumasakkan lagi untukmu. Maafkan aku.”

Sang Putri tersenyum, lalu mendekati si gadis. “Seharusnya kau tidak perlu meminta maaf. Dan kau tidak perlu membuatkanku yang baru. Kamu hanya tidak perlu memakannya lagi.”

Si gadis diam, tidak menyanggupi. Lalu perlahan ia menggeleng. “Tidak, aku tidak bisa. Aku ingin makan kuemu. Mungkin tidak hari ini, tapi aku ingin makan itu dan kurasa akan selalu begitu. Kue itu terlalu besar dan nikmat untuk kaunikmati sendirian tanpa berbagi, Putri. Aku hanya akan minta sedikit.”

“Tidak,” jawab Sang Putri ketus. “Kamu tidak sepantasnya meminta begitu saja. Hanya seorang putri yang pantas memakannya. Kau tidak tau betapa berbatu jalan yang harus kulalui tiap hari dengan menyandang gelar seorang putri.”

Si gadis menunduk. “Aku tau. Aku tau betapa jalanmu berliku, dan betapa kau berhak mendapatkan makanan yang begitu enak. Aku hanya… iri.”

Lalu si gadis, dengan kepala tertunduk, berjalan cepat-cepat keluar ruang makan, meninggalkan sang putri. Dalam hatinya, ia berjanji tidak akan memakan secuilpun kue itu kecuali Sang Putri sudah tidak menyukainya. Setelah itu, ia berdoa sungguh-sungguh agar Sang Putri tidak menyukainya lagi.

Semoga dia merasa bosan dengan kue itu, dan kue itu menjadi buruk di lidahnya.

Iklan

6 thoughts on “Putri, Gadis Kelaparan, dan Remah Kue (2)

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s