Dari Saya · Harian · Tulisan

Rasionalitas Jadi Dewasa

Ya ampun. Saya buka koleksi lama, buku anak, sebuah antologi puisi yang dulu sangat saya sukai. Saya beli buku ini kurang-lebih setahun setelah bukunya terbit, mungkin kira-kira waktu saya kelas 4 SD. Karya seorang penyair muda, Abdurrahman Faiz, yang waktu itu namanya menggaung banget. Saya baca ulang buku ini dan…. menyadari betapa sudut pandang dan sisi peka saya udah berubah begitu banyak. Saya nggak bisa mengatakan ini perubahan buruk, karena saya ngerasa apa yang saya lakukan hari ini emang lebih baik dari saya yang dulu. Tapi… perubahan ini juga nggak baik. Membaca ulang buku ini membuat saya sadar betapa saya udah jauh nggak setulus dan seikhlas dulu lagi.

Sudut pandang, ya, berubah begitu besar. Dari saya yang (saya pikir) dulu peduli-sosial-masyarakat jadi sudut pandang super-rasional-plus-egois gini. Dan transisi cita-cita saya… Ah, ini menyedihkan. Cita-cita saya tujuh tahun lalu beda banget sama cita-cita sekarang.

Cita-cita utama saya sekarang adalah jadi ekonom, atau akuntan, atau penasehat keuangan, atau pekerjaan lain di bidang bisnis dan keuangan. Itu bukan pekerjaan yang buruk di mata banyak orang kan? Saya menganggap profesi-profesi itu sangat bagus dan menjanjikan.

Beda banget…. Cita-cita saya dulu itu nulis. Nulis untuk dinikmati dan bermanfaat baik ke banyak orang, dalam bentuk apapun; puisi, cerpen, opini. Kalau ditinjau dari sisi prestise dan materi, nulis emang gak berpeluang besar bikin saya punya status sosial bagus atau bikin saya cepet kaya. Saya dulu nggak mikirin jauh hal itu; saya suka nulis dan itu jadi cita-cita saya. Cita-cita ini juga yang bikin saya tertarik ngeblog empat-lima tahun lalu. Lalu saya menulis banyak cerpen, banyak esai, banyak puisi, dan menggantungkannya dan tidak peduli kalau sebagian besarnya masih setengah jadi, karena tiba-tiba saya udah nggak terlalu tertarik sama nulis. Saya rasa saya lebih berminat ke bidang lain selain literasi.

Bukankah psikologi itu menarik? Dengan jadi psikolog, saya juga masih bisa bermanfaaat baik ke banyak orang. Saya bisa memahami masalah orang-orang dan membantu memecahkannya. Selain itu, dengan jadi psikolog, itu karir yang menjanjikan juga dalam hal keuangan. Nggak kayak profesi nulis yang peluang ber-uangnya (di mata saya) sedikit. Lagipula psikologi itu menarik.

Dan ternyata, di tahun berikutnya, saat saya lagi produktif banget ngeblog, saya pengen jadi kayak beberapa temen blog saya yang desain blognya bagus-bagus, artikelnya mengulas seputar tips-tips komputer, dan itu bikin saya jadi tertarik ke bidang komputer. Saya pengen belajar desain grafis, animasi, pemrograman web, dan lainnya. Saya tertarik banget di bidang ini hingga pas saya lulus SMP, saya daftar di SMK jurusan Teknik Multimedia. Dan saya pun makin fokus pada apa yang saya minatin.

Tapi saya masih SMK. Masih di umur mentah. Saya berpikir, sekolah di jurusan ini begitu menyenangkan, tapi apa gua bakal nikmatin kerja di depan komputer seharian? Terlebih, di masa 3 bulan PKL kemaren, dimana tugas saya ngedesain, dan bisa ngehasilin desain hingga tiga kali sehari. Di bulan pertama, saya membiasakan diri. Di bulan kedua, saya mulai terbiasa; ide-ide saya lebih mudah muncul. Di bulan ketiga, karena saya jenuh juga mungkin, ide-ide semakin susah saya dapat. Apa mungkin saya mau kerja di desain lagi, menguras otak menyaring ide? Memang itu pekerjaan yang menarik, tapi saya rasa itu bukan pekerjaan yang ideal. Lalu saya berpikir… pekerjaan ideal itu adalah di bidang ekonomi. Jadi akuntan atau penasehat keuangan, atau yang semacam itu. Itu profesi yang dikagumi orang-orang dan dihargai dengan gaji yang besar, kan? Ya, jadi itulah cita-cita saya sekarang. Berkutat di profesi ekonomi.

Ya ampun… Dinamisme cita-cita saya makin gede makin rasional, emang nggak berkembang jadi lebih buruk, tapi rasionalitas ini bikin saya sadar, betapa umur udah bikin ketulusan saya terkikis.

Dari penulis dengan niat mulia dan penghasilan gak jelas, berubah jadi psikolog yang bersedia mendengarkan curhat, lalu berkutat di desain digital yang memproduksi jasa secara komersil, ganti lagi jadi profesi berbau ekonomi yang peluang pasar dan gajinya gede…. Ya ampun, semakin nambah umur, saya semakin rasional. Atau materialistis?

Buku ini, karena ditulis oleh seorang anak dan merupakan antologi puisi, pertama kali membacanya udah nyentuh saya banget… Saya inget gimana apresisasi saya terhadap buku ini. Saya jadi selalu tergerak buat berbuat lebih daripada diri sendiri ke orang lain. Saya jadi selalu berusaha tulus dan ikhlas di tiap langkah yang saya jalani. Saya jadi ngerti betapa mulianya anak-anak yang belum berdosa dibanding orang dewasa yang punya. Saya jadi belajar buat nerapin prinsip cepet empati ke orang lain. Tapi itu dulu…. tahun-tahun pertama saya baca buku itu.

CIMG6883 CIMG6887

Sebuah antologi puisi yang ditulis seorang anak 8 tahun, yang isinya bener-bener ‘ngaduk’…

Seperti hari-hari lalupagi ini kautumpuk mimpimu
di sepanjang jalan raya
tapi truk dan bus
telah melindasnya habis
beberapa pemudi memaki
mencabik sisa mimpimu

-Mimpi di Jalan Raya, A. Faiz (2004)

Itu baru sepotong dari bait-bait Faiz untuk anak-anak jalanan. Ada belasan puisi di sini, curahan hati Faiz. Nah, ini bait favorit saya, di puisi tentang tukang sampah:

maka saemoga
bermiliar kotoran dan aroma busuk
yang kaujauhkan dari kami
yang kaubuang setiap hari
menjelma permata tak ternilai
serta wewangian abadi
di sisi Tuhan

-Doa Untuk Semua Tukang Sampah di Dunia, A. Faiz (2004)

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun nggak tersentuh, baca ulang buku itu bikin saya memutar ulang siklus cita-cita… Saya yang dulu tulus sekarang makin makin makin rasional dan materialis.

Apakah kedewasaan usia Anda juga bikin Anda semakin rasional atau materialis?

Iklan

14 thoughts on “Rasionalitas Jadi Dewasa

    1. Iya, Faiz ini keren banget, 8 tahun udah nulis sebegini menyentuhnya. Beliau juga dulu pernah juara 1 Lomba Menulis Surat untuk Presiden (masa Bu Mega). Dia ngajak Bu Mega buat blusukan gitu, bisa cek di sini Kak: http://www.dudung.net/artikel-bebas/surat-faiz-untuk-ibu-presiden–aku-ingin-mengajak-ibu-menyamar.html

      Kalau aktif di twitter dan tau akun @MencobaBelajar, Mas Faiz inilah pelopornya. Kalo gak salah, tahun lalu beliau juga pertukaran pelajar ke Turki.

    1. Makasih dan aamiin banget Mas Moes ^^ tapi saya masih belum selevel dengan Mas Faiz ini, kepekaannya sensitif banget.

      Begitu pula dengan Mas, tetap menulis tulisan yang digemari orang-orang ya 😀

      1. Jangan menulis apa yang digemari orang, tapi buatlah tulisanmus sendiri digemari orang. Gimana caranya? Hanya kau yang tahu mau dibuat apa tulisanmu nantinya.

  1. faiz keren ya…. 8 tahun sudah bikin buku,,,
    saya dulu juga ngalamin ganti-ganti cita-cita
    dulu waktu masih SD pengen jadi guru… pahlawan tanpa tanda jasa,.. yang menurut saya keren,,,
    tapi setelah smp saya pinda cita-cita pengen jadi akuntan,,,, akhirnya ambil smk yg jurusan akuntansi… 😀

    1. Hehe… saya juga minat sama akuntansi Kak, rencananya pengen kuliah di bidang itu. Entah deh bakal kesampean apa nggak. Sekarang Kak Mita sendiri berkutat di bidang apa?

      1. Aamiin, makasih Kak Mita ^^
        Enak dong kerja sesuai minat. Kata orang-orang, kerjaan yang nggak dinikmati itu bener-bener bikin jenuh.

      2. iya,, saya menikmati kerjaan yang saya harapkan ini,,,
        kata teman saya yang kerja tidak sesuai bidang memang membosankan,, karena kerja nya terpaksa tidak dari hati…

  2. Jadi bingung juga, memang cita-cita selalu berubah. Mungkin, karena lebih rasional, ya?
    Aku juga punya buku Kak Faiz itu, lho.

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s