Dari Saya · Opini · Tulisan

Apakah negri ini tempat yang kondusif untuk tumbuh-kembang seorang anak?

Apakah negri ini tempat yang kondusif untuk tumbuh-kembang seorang anak?

Di sini, SD-SD mendewakan teori alih-alih kecenderungan mengasah bakat. Indikator kemampuan siswa menuntut ‘kemampuan memahami’ alih-alih ‘mampu melaksanakan’. Televisi menayangkan acara kuis untung-untungan, bukan liputan pengetahuan. Pasar buku dipenuhi kisah cinta remaja dan dewasa, mengabaikan sastra anak. Musik kita menyenandungkan pujaan kekasih tanpa senandung semangat berkarya.

Hei Pak, Bu, siapapun yang memiliki kuasa untuk memperbaiki keadaan. Bukan salah para guru kalau mereka tidak bisa mengidentifikasi bakat setiap murid. Mereka bertanggung jawab untuk tidak pilih kasih ke puluhan murid yang berbeda setiap tahun, kan? Bukan salah siswa kalau mereka hanya bisa ‘memahami’ tanpa bisa ‘melaksanakan’. Buku tidak meminta mereka begitu, kan? Bukan salah Lativi yang dulu menayangkan Steve Irwin sekarang dibeli oleh tvOne pusat berita. Roda ekonomi terus berputar, kan?  Bukan salah penerbit menerbitkan novel-novel cengeng tentang kekasih patah hati. Mungkin saja tak ada naskah yang lebih bermutu di redaksi mereka, kan? Bukan salah Sherina dan Tasya berhenti menyenandungkan keriangan polos anak-anak. Mereka beranjak dewasa, kan?

Hei Pak, Bu, siapapun yang memiliki kuasa untuk memperbaiki keadaan. Anda tentu sadar kalau tidak semua orangtua bisa menyekolahkan putranya di Al-Azhar atau BPK Penabur. Tidak semua orangtua mampu membayar kursus musik atau olahraga untuk putranya. Tidak semua orangtua mampu menyediakan saluran Disney atau Discovery di televisi mereka. Tidak semua orangtua mampu membelikan putranya buku-buku dongeng berkaver tebal seharga ratusan ribu. Tidak semua orangtua hapal lagu-lagu Sherina atau Tasya untuk dinyanyikan ke putra mereka.

Hei, Pak, Bu, siapapun yang memiliki kekuasaan untuk memperbaiki keadaan. Anda tidak perlu jadi revolusioner besar seperti Ashoka, Anda tidak perlu punya perusahaan raksasa seperti Bakrie, Anda tidak perlu mampu berorasi hebat seperi Pak Karno. Anda hanya perlu melakukan perbaikan semampu Anda, meskipun itu kecil dan tampak tidak berarti. Perbaikan kecil yang tampak tidak berarti lebih baik daripada bersikap statis kan?

Semua orang pernah jadi anak-anak, begitu pula saya. Ibu saya memang tidak menyekolahkan saya di Al Azhar, tidak pernah memasukkan saya ke kursus manapun, tidak menyediakan Discovery sebagai tontonan kami, tidak membelikan saya buku-buku dongeng yang halamannya wangi dan berwarna.

Tapi beliau sudah melakukan yang bisa beliau lakukan.  Ibu membangun sendiri perbaikan untuk saya dan adik-adik dengan semampu mereka. Ibu tidak menyekolahkan kami di Al-Azhar, tapi beliau selalu berkata, “Tekuni pelajaran favoritmu!”. Ibu tidak memasukkan kami ke kursus manapun tapi beliau menghargai hobi kami dengan membelikan kami pensil warna dan menempelkan hasil gambar kami di ruang tamu. Ibu tidak menyediakan Disney atau Discovery tapi Ibu memutarkan DVD bajakan untuk kami tentang Nanny McPhee dan Shrek dan membacakan terjemahan di DVD itu saat kami belum bisa membaca. Ibu tidak membelikan kami buku dongeng ratusan ribu tapi Ibu selalu bercerita sebelum tidur tentang selendang Nawangwulan yang dicuri atau Buto Ijo yang mengerikan atau gadis malang bernama Rapunzel yang menghabiskan hidup di menara.

Hei Pak, Bu, siapapun yang miliki kuasa untuk perbaiki keadaan. Sebagai kakak, guru, orangtua, teman, tetangga, atau siapapun dari anak-anak–benih penerus kita–lakukan perbaikan bersama. Untuk anak-anak, untuk benih yang lebih baik, untuk pertumbuhan yang lebih baik, hingga kita mendapatkan efek bumerang: kehidupan yang lebih sejahtera dan berkelas.

Hei Pak, Bu, siapapun yang miliki kuasa untuk perbaiki keadaan. Mari kita lakukan, kecil atau besar. Tampak ataupun samar. Jauh lebih baik perbaikan yang tampak tidak berarti dibanding bersikap statis dan enggan berubah, kan?

Menulis juga kepada diri sendiri.

Iklan

3 thoughts on “Apakah negri ini tempat yang kondusif untuk tumbuh-kembang seorang anak?

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s