Dari Saya · Opini · Tulisan

Mengeluhkan Cermin

Aku duduk di depan cermin, memperhatikan wajahku lamat-lamat. Kulit pucat, pori-pori besar, tebaran jerawat… Lalu aku tersenyum karena aku berhasil meyakinkan diriku bahwa aku tetap terlihat cantik (meskipun hanya di mataku) dengan kepucatan, pori-pori besar, dan jerawat seperti itu. Aku menyukai wajahku. Semoga anggapan ‘cantik’ ku ini bukan kesombongan, sebab maksudku menganggap diriku cantik adalah untuk mempertahankan kepercayaan diriku. Lagipula, aku juga sadar kalau aku tidak cantik-cantik amat.

Aku terus menatap cermin, tapi lama-lama, kecantikan yang terpantul tampak berubah. Bukan berubah, lebih tepatnya tampak berkurang. Karena aku membayangkan wajah seseorang: Anita. Wajah Anita mulus dan berhidung tegak. Bayanganku di cermin jadi terasa tidak cantik sama sekali kalau dibandingkan dengan wajah aristokrat Anita.

“Ya ampun, aku gak semancung Anita. Gak secantik dia juga,” keluhan otomatis meluncur dari mulutku. Anita, ya, dia memiliki cantik sekali, dengan hidungnya yang tegak dan bagus. Aku mematut hidungku, diam-diam sedih karena begitu jelek kalau dibandingkan dengan hidung tegak Anita.

“Hidungmu menggelikan. Selama apapun kau bercermin, hidungmu akan tetap tampak menggelikan begitu dan gak mungkin berubah jadi hidung Anita.”

Aku mendengar seseorang berkata. Hei, aku kan sedang sendirian di kamar. Suara siapa itu? Aku mengerjap ketika menyadari. Suara itu dari dalam cermin! Aku tadi melihat bayanganku menggerakan bibirnya sesuai kata-kata yang terdengar! Padahal aku kan tidak sedang bicara. Aku mengerjap lagi—otakku butuh beberapa detik untuk mencernanya. Cerminku bicara! Dan lebih dari itu, dia mengejekku! Alih-alih tersinggung, aku tertawa beberapa saat—ini kocak sekali—hampir berguling-guling, dan ketika tawaku mulai reda, aku kembali memandangi cermin, memandang bayanganku yang tadi bicara.

“Kalau bercermin nggak bisa bikin hidungku bagus kayak hidung Anita, kalo gitu apa yang harus aku lakukan?” aku bertanya, mengira-ngira apakah si Prita dalam Cermin bisa menjawab pertanyaanku dengan baik.

Mulut di cermin kembali bergerak dan bersuara, padahal aku diam saja. Bayangan cerminku, asimetris dengan bagaimana aku sekarang.

“Ya ampun,” dia berkata, menanggapi pertanyaanku. “Itu pertanyaan bodoh,” hinanya. “Di kota ini kan banyak klinik kecantikan. Kau bisa pergi ke salah satunya, temui dokter bedah mereka dan mintalah operasi plastik. Masa tidak terpikirkan sih.”

Lagi-lagi aku tertawa, kali ini karena sarannya yang begitu aneh. Aku, pergi ke klinik kecantikan untuk operasi plastik? Ya ampun, kenapa bayanganku bisa sekocak ini?

“Heei, saranku itu saran  yang benar dan logis, jangan tertawakan,” protesnya, tampak tersinggung. “Sembilan puluh persen lebih perempuan Korea menyempurnakan rupa mereka jadi bening-bening begitu berkat operasi plastik. Itu benar, jadi jangan hina saranku.”

“Maaf, maaf, Prita dalam Cermin,” aku meminta maaf, berusaha tampak menyesal, meskipun aku setengah mati menahan tawa.

“Kausebut aku apa? Prita? Jangan samakan namaku dengan namamu,” dia memprotes, “Aku punya nama sendiri tau. Kau bisa panggil aku Mita. Lengkapnya  Pramita Pradani Atte.”

Pramita Pradani Atte? Rasanya ada yang aneh dengan nama itu. Aku berpikir sebentar, mencoba mengira-ngira. Ya ampun! Pramita Pradani Atte! Itu kan anagram dari namaku; Prita Permatadinata. Anagram! Kocak sekaligus cerdas sekali! Aku ingin tertawa, tapi aku berusaha menahan tawa untuk menjaga perasaannya—tampaknya Mita adalah orang yang mudah tersinggung dan sarkatis. Aku tidak suka diejek bayanganku, sungguh.

“Oke, Mita. Senang kenal kamu. Tapi aku ingin bercermin. Bisakah kau pergi?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, aku harus pindah dan mencari cermin lain.”

“Silakan, tapi aku akan tetap muncul dimanapun kamu bercermin. Mita selalu ada di hadapan Prita,” dia menyahut dengan suara bosan.

Aku mengeluh, lalu berusaha mengabaikannya dan bercermin. Bagus! Bayangan di cermin sekarang sudah simetri dengan apa yang kulakukan, tidak asimetri seperti tadi; saat bibirku diam tapi bibir di cermin bergerak-gerak dan menimbulkan suara.

Aku menahan salah satu kelopak mataku dengan tangan, dan menilai bulu mataku dengan mata lainnya.

“Bulu mataku juga nggak selentik Fani,” tanpa sadar aku berkata.

“Memang iya, tapi berhentilah mengeluhkan parasmu. Aku lelah mendengarnya, diamlah,” keluh Mita yang tiba-tiba muncul lagi. Saat itu, bayangan di cermin kembali asimetri dengan apa yang kulakukan di sini.

“Kaulah yang diam. Kau menggangguku. Semuanya baik dan normal sebelum kau muncul.”

“Aku muncul karena kau mengeluh.”

“Katanya kau lelah mendengarku mengeluh?”

“Memang, tapi aku tergoda untuk memanasi keluhanmu itu. Aku suka menyulut emosi orang. Oh iya, tadi aku belum selesai ngomong. Aku punya tambahannya: bulu matamu jelek sekali dibanding Fani, Winda, Rara, dan teman-temanmu lainnya. Kedipanmu takkan menggoda lelaki manapun.”

Sekarang aku kesal. Aku kan hanya bercermin, dasar pembuat masalah. Dia benar-benar mengganggu. Aku hanya ingin bercermin, ya ampun. Tapi makhluk ini…

“Apasih keuntungan yang kaudapat dari menghinaku?” tanyaku ketus.

“Kepuasan batin, tentu saja. Dengan menghina kita bisa dapat kepuasan batin kan. Apa kau segitu sucinya hingga gak pernah menghina orang lain?”

“Setidaknya aku tidak menghina paras orang lain saat menghina. Itu buruk banget. Lebih buruk dibanding menghina kemampuan dan perilaku orang lain. Paras kan memang sudah dari sananya begitu, jadi bukan salah seseorang kalau dia jelek dan buruk rupa. Tapi, kemampuan dan perilaku, adalah sesuatu yang kita bentuk kan. Lagipula ini abad komputer. Orang-orang menilai seberapa berat isi kepalamu, bukan dari semulus apa kulitmu.”

“Nah, itulah sebabnya aku menghina parasmu. Tidak sadarkah dirimu kalau kau begitu munafik?”

Aku mengerjap bingung, tak mengerti apa yang ia maksud, sekaligus berusaha tampak tak tersinggung; aku agak tersengat mendengar dia mengatakan aku munafik. Munafik itu kata yang kasar.

“Apa maksudmu?” tanyaku, berusaha agar nada bicaraku tidak terdengar seperti orang yang tersinggung; aku tak mau makhluk cermin yang bernama Mita  ini menyadari bahwa dirinya cukup hebat untuk membuatku tersinggung.

“Ya ampun,” keluhnya, menghela napas panjang, lalu bicara padaku dengan gaya suntuk: “Kau baru saja bilang paras itu nggak penting setelah mengeluh panjang tentang parasmu. Kalau kau nggak munafik, kau menganggap paras itu penting sehingga kau mengeluh saat bercermin atau kau menganggap paras itu tidak penting sehingga kau akan bercermin tanpa mengeluh.”

Setengah dari diriku mengakui kalau kata-katanya benar dan membuatku sadar akan kesalahanku, tapi setengahnya lagi terlalu egois untuk mempertahankan gengsiku; aku tak mau dia benar di saat aku benar-benar salah—aku benci Mita. Ya ampun, dia mengesalkan sekali. Apakah hanya kali ini, atau besok-besok dia juga akan muncul lagi saat aku bercermin?

“Apa salahnya mengeluhkan paras, meskipun aku menganggapnya tidak penting?” tanyaku agak gusar.

Dia menarik napas bosan, lalu menjawab dengan gaya ogah-ogahan.

“Hmmm. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Pertama, aku bukan menyalahkanmu. Aku cuma menganggapmu sedikit bodoh. Kedua, kalau kau benar-benar tidak menganggap paras itu adalah hal penting, alih-alih membuang bermenit-menit di depan cermin, kau bakal—apa tadi? Oh iya, memoles kemampuan atau perilakumu, karena tadi kau bilang kemampuan dan perilaku lebih penting dibanding paras.”

Logikaku tidak bisa memungkiri kalau itu benar, sangat benar. Tapi hatiku menentang menyetujui pernyataannya demi gengsi. Aku tak rela dia menurunkan gengsi diriku.

“Kurasa kau benar,” aku berkata ragu, berusaha mengedepankan logika alih-alih kata hati. Karena sepengetahuanku, logika tak pernah salah (kecuali seseorang selalu merasa cukup dan tidak mau membuka mata dan telinga lebih lebar untuk memanjangkan logikanya), sedangkan kata hati, kebenarannya sangat tergantung dengan kebersihan si pemilik hati sendiri. Aku sadar aku tidak punya hati yang cukup bersih untuk selalu dberkata benar, jadi hampir di tiap kesempatan aku mengandalkan logika dibanding hati.

“Aku memang benar,” sahut Mita menyebalkan. “Nah, kalau begitu, pergilah sekarang poles kemampuan dan perilakumu, aku muak melihat mukamu di cermin.”

“Hm, kalau kau muak dengan mukaku, pergilah sana. Aku juga muak dengan kata-katamu.”

“Kau muak dengan kata-kataku karena kata-katamu tidak lebih benar daripada kata-kataku.”

Dia benar dan kurasa tidak bijaksana mendebatnya lagi, kupikir aku mengaku saja kalau dia menang dan aku kalah.

“Yah… kurasa itu benar,” aku mengakui dengan suara pelan. Dia tersenyum menang. Aku merasa kesal, tapi kalau aku menunjukannya, alih-alih kekesalanku hilang, malah dia akan semakin senang karena usahanya untuk menggangguku berhasil. Jadi, dengan terpaksa aku tersenyum manis.

“Ya, makasih udah mengingatkanku. Aku banyak lupa. Aku bakal berusaha untuk jadi nggak munafik lagi.” Kukatakan itu dengan menahan perasaan terpaksa, mencoba ikhlas agar kata-kataku bisa bernada lebih ringan.

Mita tersenyum menang. “Nah, sekarang, setelah kau sadar betapa benarnya kata-kataku, pergilah.”

Apa? Dia menyuruhku pergi? Mengusirku dari depan cerminku sendiri?

Hampir saja aku ingin membalas kata-katanya dengan usiran ketus, tapi sesaat kemudian aku sadar, dia mungkin jenis orang yang tidak mau kalah jika berhadapan dengan orang yang membantahnya, tapi dia lebih mudah mengiyakan ketika berhadapan dengan orang yang berbicara dengan lembut dan tidak memaksakan pendapatnya.

Itu cuma prediksiku, tapi aku mencobanya.

“Aku punya alternatif lain yang lebih baik dibanding aku pergi dari depan cermin, Mita. Mari kita berteman—atau bersahabat, kalau keadaan bisa lebih baik.”

Lidahku memahit tapi aku berusaha menyukainya. Bagaimanapun, rupa Mita adalah replika langsung dari diriku sendiri; aku tak bisa membencinya. Seperti yang kukatakan di awal, aku menyukai wajahku. Jadi, mau tak mau, aku juga menyukai wajah Mita juga.

“Ide bagus,” sambutnya dengan nada suara bosan. “Ayo kita berteman, meski aku lebih suka jadi musuhmu.”

“Terserah, tapi sekarang kita teman,” aku tersenyum. “Nah, sebagai teman yang baik, kau punya kewajiban mendengarkan ceritaku.”

Mita hanya berkedip, tapi dia tidak menyanggah ataupun protes.

“Nah, aku mau cerita dan minta pendapatmu. Sepertinya kau orang yang enak untuk curhat dan diskusi. Kau juga tampak kritis,” aku memulai dengan penilaian yang kuusahakan agar bernada memuji.

“Kupikir perempuan bukanlah perempuan yang utuh kalau mereka belum bisa masak. Em… menurutku masak itu sebagian dari jiwa perempuan. Masakan seorang istri untuk keluarganya diganjar pahala besar loh. Nggak bisa masak berarti bukan perempuan yang utuh.”

Aku memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan. “Tapi aku nggak bisa masak. Nyaris gak bisa samasekali. Aku paling cuma bisa rebus air dan mi. Bahkan ngocok telur pun gak bisa. Kadang, aku juga gak bisa nyalain kompor.”

Aku berhenti sejenak, mengambil jeda lagi. “Aku udah 16 tahun. Mungkin dua atau tiga tahun lagi aku bakal tinggal sendirian di kota lain untuk kuliah; ngekos, asrama, atau yang semacam itu. Aku nggak akan makan masakan Ibu atau Nenek lagi. Aku harus masak sendiri, atau beli. Dan bukan cuma itu. Kalau lima, tujuh, atau sepuluh tahun lagi aku akan menikah, masa iya aku tak pernah memasak makan siang untuk keluargaku. Kasihan sekali keluarga dan anak-anakku nanti. Yah, meskipun aku tidak berminat menjadi ibu rumah tangga sepanjang hari sama sekali, kan tidak mungkin kalau aku tidak memasak juga. Abad berganti, peradaban meningkat, tapi tetap saja perempuan harus jago—atau setidaknya bisa—memasak. Tapi… aku tidak ingin belajar masak. Dapur itu menjijikan bagiku dan aku tak punya minat sama sekali dalam hal mencincang atau mengupas. Tapi kupikir perempuan itu… Ya ampun. Bagaimana menurutmu? Yah, aku cuma ingin tau pendapatmu tentang pandangan dan sikapku; ini bukan tema serius kok.”

“Kaaak?” tiba-tiba adikku memanggil dari ruang tamu. Kudengar volume televisi ruang tamu yang dikecilkan. “Kakak ngomong sesuatu sama aku?”

Oh, dia mengira ia mendengar aku bicara padanya.

Aku membuka pintu kamar, melongokkan kepala ke ruang tamu. “Nggak kok,” aku menjawabnya, “Aku cuma lagi ngomong sendiri.”

“Dasar aneh,” tanggapnya sambil lalu, lalu menambah volume televisi kembali. Aku menutup pintu, dan kembali bercermin.

“Maaf, tadi itu adikku. Dia cerewet, agak merepotkan, dan selalu menganggap aku senang bicara dengannya, padahal tidak. Seperti tadi, yah. Tapi dia anak yang baik, aku sayang dia. Nah, tadi kita ngomong apa? Ah ya, memasak. Bagaimana pendapatmu tentang perempuan yang sama sekali gak pengen dan gak bisa masak?”

Eh. Aku mengerjap. Menatap cermin. Rasanya aneh.

“Mita?”

Mulut di cermin bergerak persis sama dengan gerakan mulutku. Cermin sudah kembali simetri dengan bayanganku. Aku melambai dengan tangan kanan, dan cermin membalasnya dengan tangan kiri.

Mita sudah lenyap. Baru saja kami berteman beberapa detik.

Aku berbalik dan memandang meja belajar. Aku teringat kata-kata Mita.

“…memoles kemampuan atau perilakumu, karena tadi kau bilang kemampuan dan perilaku lebih penting dibanding paras.”

Memoles kemampuan. Kurasa nilai Sejarahku belum naik bulan ini. Aku mengambil diktat sejarahku dan untuk pertama kalinya seumur hidup, aku bisa duduk manis dengan buku Sejarah selama dua jam hingga saatnya makan malam.

Silakan lihat dialog Prita dengan Mita si makhluk cermin lainnya di sini!

Iklan

8 thoughts on “Mengeluhkan Cermin

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s