Jurnal Multiply · Salinan Multiply

Seorang Atheis dan Muslim (1) – Dari Jurnal Multiply

Blog Entri Seorang Atheis dan Muslim May 12, ’12 5:16 PM
untuk semuanya

Savhia. Gadis itu menarik. Namanya mirip-mirip denganku. Berambut seperti Dita, tapi dengan garis muka yang benar-benar Eropa. Cerdas, efisien, dan tegar. Tipe wanita karir sejati.

Kami duduk berdua menikmati sore di sebuah taman kota. Bukan suasana yang cukup indah memang, mengingat berada di kota yang kata dunia sangat berpolusi.

“Kalau saya boleh tau, apa agama Anda?” aku membuka topik baru. Lelah membicarakan terus tentang Dita, sedang kupikir itu sudah sangat basi. Membicarakan  tentang agama, teologi, rasanya akan menjadi diskusi menyenangkan.

“Saya Atheis,” jawab Savhia, “Hidup bebas tanpa terkekang ritual agama dan peraturan-peraturannya. Bagaimana rasanya menjadi muslim?”

Aku tertegun. Bagaimana rasanya menjadi muslim? Duh, dua puluh tahun lebih aku menggenggam status muslim, dan baru tiga mingguan ini aku merasakan seutuhnya bagaimana menjadi muslim…

“Damai dan tenang, menurut saya,” jawabku, “Ini agama paling sempurna kan. Dan Anda sebagai penganut Atheisme, tidakkah hidup Anda sepi?”

“Kenapa sepi?”

“Tentu saja, Anda kan hidup tanpa Tuhan. Kepada siapa Anda menangis? Apa ada yang selalu siap sedia menemani Anda?”

Savhia tertawa. “Hidup saya bergulat dengan iptek dan ekonomi, Fiyyah. Saya tidak menangis. Dan soal teman? Disini sudah ada internet. Hampir segala hal bisa kau lakukan dengannya. Untuk apa meyakini hal yang terlalu absurd?”

Meyakini hal yang terlalu absurd. Seperti keberadaan Tuhan. Emosi dan pikiran manusia juga absurd. Tapi orang-orang meyakininya kan. Memberi nama pada masing masing emosi: marah, senang, sedih. Juga pada pikiran: ide, motivasi, dorongan, dan lainnya.

Tapi aku tidak berkata begitu. Aku balik bertanya. “Apa hal-hal itu cukup untuk mengisi hati Anda? Tak adakah ruang hampa atau yang semacam itu?”

Mengatakan ini, aku ingat bulan-bulan dimana aku menjauhi Tuhan. Dimana aku terlalu egois dan angkuh untuk berdoa padaNya, terlalu malu dan gengsi untuk akuui kalau hanya kepadaNya aku pantas mengemis.

“Saya tak punya waktu untuk mempedulikan ruang hampa, Fiyyah,” jawabnya lembut penuh keyakinan, “Banyak hal yang lebih berguna daripada mengisi ‘ruang hampa’ yang Anda maksud itu dengan ritual keagamaan, seperti meliput berita, menganalisis kondisi saham, mendesain model komputer dan mobil, mempelajari klasifikasi unggas, dan yang semacam itu.”

“Anda mengingkari apa yang Anda butuhkan, Anda tau?” pancingku. “Anda mengabaikan ruang hampa itu hanya karena Anda terlalu bodoh untuk mengisinya dengan keberadaan Tuhan.”

Dia tidak tersinggung. Kupikir dia sudah menyiapkan argumen yang baik.

“Terserah Anda,” dia mengangkat bahu, menyibakkan rambut panjangnya. “Kalau saya beranggapan Tuhan benar-benar ada pun, saya akan bingung sekali. Ada ratusan Tuhan yang disembah oleh umat manusia di dunia ini. Para Muslim menyembah Allah, para Kristen menyembah Yesus, orang Yunani memuja para dewa, orang Jepang menyembah matahari, dan banyak lagi. Mana Tuhan yang paling benar diantara mereka?”

“Bagi saya, tentu Allah. Siapa lagi?”

“Itu karena Anda muslim. Kalau Anda seorang Kristian, Anda akan menganggap Tuhan yang sesungguhnya adalah Yesus. Bukankah begitu?”

Aku hampir saja kehabisan kata-kata saat sebaris kalimat yang pernah kubaca melintas: pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Al Maidah ayat 3.

“Di kitab kami, Allah menuliskan bahwa ini adalah agama yang sempurna.”

“Di kitab agama lain juga begitu, kan? Setiap agama mendukung paham mereka. Anda tau itu.”

“Memang,” sambutku, “Tapi saya tidak mendukung paham agama saya dengan begitu saja. Saya harus memastikan ini paling benar diantara yang lain sebelum saya sungguh-sungguh meyakininya.”

“Saya tertarik mendengarkan alasan Anda, kalau Anda bisa menjabarkan,” Savhia tersenyum. Aku membalasnya.

“Pastikan logika Anda ada di tempatnya dan otak Anda tidak berada di dengkul. Saya akan menjelaskan dengan senang hati.”

“Sesuai syarat, dan telinga saya terpasang dengan baik.”

 

 

Gak sabar nulis kelanjutan bagian ini. Tadinya mau di satu posting sekalian, tapi takut kepanjangan B)

Tulisan ini salinan dari tumblr saya. Cuma cuplikan cerita sih. Oh iya, catatan tambahan, saya sangat-amat menghargai komentar yang bernada kontra buat tulisan ini, karena temanya bagi saya agak sensitif 🙂

fadshaka
fadshaka menulis on May 12
Lanjutin… buruan penasaran banget~! Hebat amat Missprita bisa nulis kayak gini XDb

missprita
missprita menulis on May 14
fadshaka} berkata

Lanjutin… buruan penasaran banget~! Hebat amat Missprita bisa nulis kayak gini XDb

Saya juga mau lanjutin, lagi ngebanyak-banyakin referensi. Lagi tertarik sama teologi, Kak, abis baca Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Trus juga saya lagi pengen mantepin tauhid…

fightforfreedom
fightforfreedom menulis on May 13
Kalo mbak Prita sendiri gak sabar nulis kelanjutan bagian ini, apalagi saya yg tinggal baca sharing yg menarik ini.

Sepertinya belum bisa komen dulu sebelum menyimak kelanjutannya 🙂

missprita
missprita menulis on Jul 19
Belum sempet (atau lebih tepatnya, belum menyempatkan diri) buat ngelanjutin ini.. ternyata butuh lebih banyak referensi dari yang saya kira, kerangka karangannya berkembang jauh soalnya. Maaaaaaf

ichielovesbook
ichielovesbook menulis on Aug 11
bagus banget, Kak! Kenapa kakak nggak bikin buku lagi? Kakak yg bikin buku kkpk miracle of rainbow, kan??

missprita
missprita menulis on Aug 12

bagus banget, Kak! Kenapa kakak nggak bikin buku lagi? Kakak yg bikin buku kkpk miracle of rainbow, kan??

Hehe, makasiiih *jadi ge-er*
Iya sih… ini aku lagi nyoba ngerampungin naskah lagi, tapi masih kumcer anak-anak. Belum bisa bikin novel/cerpen umum… Yah, semoga jadi deh. Makasih Ichiee 🙂

ichielovesbook
ichielovesbook menulis on Aug 12
missprita} berkata

Hehe, makasiiih *jadi ge-er*
Iya sih… ini aku lagi nyoba ngerampungin naskah lagi, tapi masih kumcer anak-anak. Belum bisa bikin novel/cerpen umum… Yah, semoga jadi deh. Makasih Ichiee 🙂

sama2..
oohh..,
Kumcer anak pun, kalo bagus pasti bisa disukai banyak orang, Kak. ^_^
aamiin.., 🙂

missprita
missprita menulis on Aug 12
Oh iya. Udah saya bikin lanjutannya. Liat di sini ^^ : http://missprita.multiply.com/journal/item/250/Seorang-Atheis-dan-Muslim-II

ichielovesbook
ichielovesbook menulis on Aug 12
missprita} berkata

Oh iya. Udah saya bikin lanjutannya. Liat di sini ^^ : http://missprita.multiply.com/journal/item/250/Seorang-Atheis-dan-Muslim-II

aku kemarin udah baca, kok.., ^_^
 

 

 

 

 

Dilihat 25 kali oleh 9 orang, terkini on Nov 18

One thought on “Seorang Atheis dan Muslim (1) – Dari Jurnal Multiply

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s