Jurnal Multiply · Salinan Multiply

Putaran Kenangan (2) – Dari Jurnal Multiply

Blog Entri Putaran Kenangan (2) Jan 18, ’12 10:11 AM
untuk semuanya
Agustus 2007
Sebuah bangunan sekolah dasar yang besar. Bertingkat tiga, memiliki labolatorium komputer, dan kantin luas bermeja-meja. Megah,  berbeda dengan sekolah dasarnya yang kecil dan sederhana.
Dia lupa apa yang tepatnya perempuan muda itu katakan padanya, tapi ia ingat kalau perempuan itu menyodorkan kepadanya Aqua gelasan beserta sedotannya, di kantin luas bermeja-meja itu, tak henti si perempuan muda itu berusaha mengajaknya mengobrol.
Perempuan itu guru baru dari mata pelajaran baru di sekolah kecilnya: TIK. Muda dan ramah, dua kualifikasi yang langka di SD sederhananya.
Dan dia bersyukur, punya kesempatan duduk berdua, mengobrol, di kantion sekolah lain, bersama guru terfavorit di sekolah.
Juni 2008
Dia duduk di bus besar itu besama puluhan temannya, menyanyikan satu lagu bersyair Sunda tentang perpisahan.
Tentang perpisahan, ya, meski mereka menyanyikannya dengan ceria dan tertawa. Sebab dia, ataupun teman-temannya yang lain, belum merasakan sepedih apa jika itu benar-benar terjadi.
Dan dia masih terus menyanyi dengan ceria, karena dia menghayati kebersamaan dalam bus itu, bukan lirik lagu yang ia nyanyikan.
Pileuleuyan, pileuleyan
Sapu nyere pegat simpai
Pileuleuyan, pileuleuyan
Dauring bade ngumbara
 
November 2009
Pria berkemeja itu menulis sesuatu di kertas.
“Ini unsur-unsur pembangun cerpen,” jelas si pria, menulis tujuh atau depan kata. “Kau membutuhkan ini untuk menulis cerpen yang baik.”
Dia mendengarkn pria itu bicara tentang ketentuan-ketentuan formal yang wajib dipatuhi untuk sebuah cerpen bagus. Hingga beberapa menit kemudian saat waktunya pulang.
“Tunggu,” si pria mencegahnya saat ia beranjak mendekati pintu, “Kamu boleh ambil ini.” Pria itu menyerahkan ketentuan-ketentuan yang ia tulis, yang tadi disebutnya sebagai ‘unusr pembangun cerpen.”
Dia menerimanya lalu mengantongi di saku celana jinsnya, lalu pergi. Tidak bermaksud merenungi apa-apa yang tertulis di kertas itu. Cerpen itu seni baignya, dan sejak kapan seni punya patokan pasti; unsur atau ketentuan; kerangka eksak untuk membangunnya? Mengabaikannya, dia melupakan kertas itu.

kakcipa31
kakcipa31 menulis on Jan 21
Wah, postingan tentang apa, nih?

missprita
missprita menulis on Jan 21
Kalo ditanya tentang apa, bingung jawab pastinya gimana. Ehehe~ secara garis besar sih tentang kilasan-kilasan kenangan Syif 🙂

kakcipa31
kakcipa31 menulis on Jan 21
Oh, oke.. 🙂
 

 

 

Dilihat 7 kali oleh 4 orang, terkini on Feb 25

Iklan

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s