Jurnal Multiply · Salinan Multiply
Blog Entri Memilih SMK, tanggung jawab besar untukku Sep 5, ’11 5:17 PM
untuk semuanya
Aku baru menyadari tanggung jawab besar ini, setelah dua bulan berlalu. Haha, terlambat memang. Meskipun begitu, aku tidak menyesal. Tanggung jawab ini resiko dari pilihanku dan aku tidak menyesal.

Oke. Aku yakin, aku takkan sebahagia ini dengan sekolahku jika orangtuaku terpaksa dan tidak meridhoi pilihanku masuk SMK. Aku yakin, aku takkan mendapatkan kelas dan guru semenyenangkan ini kalau mereka tak mengikhlaskan pilihanku. Aku yakin, ridho merekalah yang membuatku nyaman dan betah di sekolah baruku ini. Masuk SMK adalah pilihanku, bukan pilihan mereka. Aku sangat bersyukur mereka meridhoi pilihanku. Meskipun ridho itulah yang membuatku memikul tanggung jawab besar.

Harapan mereka menyekolahkanku di SMA sudah pupus. Itu artinya, aku benar-benar harus jadi yang terbaik di sekolah–sebagai pembayaran atas pupusnya harapan mereka. Aku harus akrif di kelas, dapat peringkat tinggi, ikut lomba dan menang, tidak sia-siakan buku-buku pelajaran (yang di tahun-tahun sebelumnya aku telantarkan), dan hal-hal semacam itu.

Dan itu baru tanggung jawab pertama.

Tanggung jawab yang kedua adalah niatku ini–membangun citra SMK.

Ya. Niat untuk membangun citra kami–anak SMK–dan membuktikan bahwa institusi kami lebih baik (atau minimal, sama baiknya) dari SMA. Itu berarti tidak hanya sekedar membangun diriku sendiri, tapi membangun juga teman-temanku.

Ya ampun, itu berat banget.

Di SMA, kau mungkin akan belajar bagaimana mengoperasikan kuadrat, menghitung sinus, membedakan ciri virus dan bakteri, mengerti teori kuantum, mengerti antroposfer, dan hal-hal seru semacam itu. Tapi di SMA, kau tidak mempelajari satu hal yang kami pelajari di SMK: bagaimana cara menegakkan punggung di tengah dunia.

Menegakkan punggung di tengah dunia.

Aku bahkan belum bisa melakukannya. Aku masih makan masakan Ibu dan tinggal di rumah Ayah. Aku tau, tiap anak memiliki saatnya untuk tidak lagi melakukan ketergantungan itu. Akan ada saatnya bagi para anak untuk lepas dari orangtua mereka dan mampu menegakkan punggung sendiri.

Tapi sayangnya, pada murid SMK, saat yang dimaksud itu datang lebih cepat daripada anak-anak lain. Artinya: aku harus menjadi mandiri lebih cepat dari yang lain bisa lakukan.

“… ya gimana sih, masa anak SMK nyusahin ortu.” -Sabrina, seorang teman.

Wow, menjadi mandiri itu nggak gampang–bagiku.

Yah, aku udah memilih. Beda di postingan-postingan sebelumnya saat aku menceracau tentang aku akan memilih. Tapi inilah resiko pilihanku. Besar dan sarat tanggung jawab memang, namun seimbang dengan kepuasan atas kelas, teman-teman, guru, silabus, dan yang lain yang sudah atau akan kudapatkan disini.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
(Q. S. Al Baqoroh 286)

Sanggupkan aku, wahai Ya Aziz. Kuatkan bahuku untuk tanggung semua ini; buat aku memanggulnya dengan tegak dan bukannya bongkok. Kaulah yang Miliki Kuasa di tiap inci semesta, maka hanya kepadaMu lah aku memohon. Aamiin.

Minggu 12 Syawal 1432
ditulis oleh Prita,
dengan tekad yang dibentuk
oleh keluarga dan X. MM

budiscyan
budiscyan menulis on Sep 11, ’11
Kerja keras dan kemauan yang sekeras itu saya yakin kamu akan mendapati sesuatu yang lebih. Saya Lulusan SMA tapi saya tidak cenderung untuk membandingkan lulusannya, karena menurut saya siswa yang lulus dari SMA ataupun SMK memiliki bekal yang berbeda-beda sesuai kerja keras mereka masing-masing dalam belajar. (melihat pengalaman saya bahwa banyak lulusan SMA yang terjun ke Permesinan dll, begitu pula sebaliknya)

Menjadi siswa SMA bukan berarti hanya mempelajari materi-materi ilmiah tanpa praktek, begitupun SMK bukan berarti “harus” selalu mengandalkan kemampuan yang didapatkan, saya yakin juga masih membutuhkan ilmu-ilmu yang seperti mengoperasikan kuadrat, menghitung sinus, membedakan ciri virus dan bakteri, mengerti teori kuantum, mengerti antroposfer, dll.

Bersemangatlah, Perbanyaklah wawasan bukan hanya skill. 🙂 selamat berjuang ya..

missprita
missprita menulis on Sep 11, ’11
Terimakasih banyak sarannya 🙂

kakcipa31
kakcipa31 menulis on Sep 13, ’11
SMA dan SMK asal baik..:)

missprita
missprita menulis on Sep 14, ’11
Setuju! 🙂

aisyahassalafiyah
aisyahassalafiyah menulis on Sep 20, ’11
Nggak pengen di pesantren, kak? ^_^

missprita
missprita menulis on Jan 4

Nggak pengen di pesantren, kak? ^_^

Nggak… nggak tertarik… Di pesantren soalnya nggak ada non-muslim, sedangkan temen yang sering kucari buat jadi temen diskusi agama itu non-muslim.

kakcipa31
kakcipa31 menulis on Jan 6
Teman diskusi agama?

missprita
missprita menulis on Jan 6
kakcipa31} berkata

Teman diskusi agama?

Iyaa. Jadi kami sering diskusi tentang gimana agama masing-masing mandang hal tertentu. Kadang emang ada pandangan yang mirip, tapi ada yang beda sama sekali. Seru lho liat hal tertentu dari kacamata agama lain, gak dari agama sendiri terus (y). Nambah ilmu, dan juga nambah iman. Karena dengan begitu aku tau, cara agamanya dia memandang gak sebagus cara agama kita memandang ^^ yah, Islam itu kan sempurna 🙂

budiscyan
budiscyan menulis on Jan 22
missprita} berkata

sering diskusi tentang gimana agama masing-masing mandang hal tertentu.

good “_”

kakcipa31
kakcipa31 menulis on Jan 6, telah disunting on Jan 6
Oooh.. tapi jangan sampe terpengaruh sama mereka!
Setuju, Islam adalah agama yang benar dan sempurna ^^
 

 

 

 

 

Dilihat 26 kali oleh 10 orang, terkini on Nov 9

Iklan

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s