Jurnal Multiply · Salinan Multiply

Serial: JUKVIA (2) – Dari Jurnal Multiply

Blog Entri Serial: JURNAL UMUM KELAS 6A (2) Apr 22, ’11 4:50 PM
untuk semuanya

Selasa, 13 Juli 2010 – KIKI

Hm, yah, cukup konyol. Sebuah diari yang akan ditulis berputar pada 4 anak 11 tahun tentang kelas mereka–sungguh tak biasa. Aku nggak bilang luar biasa.

Ini semua ide wali kelas kami, Bu Raysha. Di hari pertama masuk–kemarin–ia tidak menyuruh kami membuka buku dan menulis jadwal pelajaran, tapi bicara sepanjang pagi tentang tiga ide uniknya. Tiga metode pembelajaran yang kupikir hanya dia yang punya. Aku ingin menjabarkannya.

Pertama, pelajaran Merangkum Hari. Setelah bel, beliau mengangkut setumpuk buku-buku harian bermodel sederhana, dengan kaver berwarna polos dan halaman bergaris hitam biasa, berjilid spiral, dengan isi sekitar 100 lembar. Yang terpikirkan pertama olehku, kenapa beliau membawa tigapuluh buku harian itu sendiri, sedangkan guru lain pasti meminta pertolongan satu atau dua anak laki-laki untuk membawakannya.

Beliau menghitung jumlah buku itu kemudian mengetuk papan tulis, mengambil perhatian.

“Kita akan meluangkan 20 menit sebelum bel pulang setiap hari untuk pelajaran Merangkum Hari,” beliau berhenti sejenak, tersenyum pada anak-anak yang bergumam heran, “Selama pelajaran Merangkum Hari, tuliskan rangkuman tentang apa yang terjadi pada kalian selama seharian itu di jurnal yang akan Ibu bagikan. Kalian bebas menuliskannya dalam format apapun; deskripsi, narasi, tabel dan grafik, poin penting, atau bahkan komik–apapun, sesuai kreatifitas kalian. Menjadi hak kalian menentukan siapa saja yang boleh membaca jurnal kalian–jangan ada pemaksaan. Tapi Ibu wajib membacanya. Ibu akan memeriksanya setiap Sabtu siang–pada jam pramuka–dan akan segera Ibu kembalikan saat kalian pulang. Kalian wajib membawa jurnal ini setiap hari.”

Lalu Bu Raysha pun membagikan buku harian itu kepada kami. Yang berkaver hijau untuk perempuan, dan yang berkaver biru untuk anak laki-laki. Memang bukan buku harian mewah, tapi terlihat sederhana dan enak ditulisi.

“Beri nama di jurnal kalian masing-masing, di kaver depan,” perintah beliau, “Tapi jangan gunakan tulisan seperti kalian biasa menulis. Tulislah dengan spidol warna, ukirlah, dan tambahkan gambar, kalau bisa!”

Kami sudah akan sibuk mencari siapa yang membawa spidol warna hari itu saat Bu Raysha mengeluarkan enam kotak besar berisi spidol warna, pulpen gel berglitter, pulpen bertinta timbul, dan stiker kecil bergambar muka-muka lucu. Kami disuruh berkelompok lima-lima untuk menggunakan satu kotak besar.

Yah, aku memang tidak bisa menggambar, tapi aku sangat senang mencoret-coret. Aku menuliskan namaku dengan pulpen bertinta timbul warna biru muda, dan membuat banyak sekali gambar di sekitarnya dengan spidol hingga namaku tertutupi. Tapi tak masalah, meskipun tak bisa lagi dibaca, Bu Raysha bisa meraba kaver untuk mengetahui nama pemilik jurnal.

Kedua, Jurnal ini. Kami menyingkatnya menjadi JUK-VIA–Jurnal Umum Kelas VI A–sebuah jurnal yang mirip seperti punya anak-anak, tapi yang ini kavernya lebih tebal dan berwarna abu-abu. Bu Raysha langsung memberiku jurnal ini begitu pemilihan pengurus kelas selesai. Beliau berkata, “Jurnal ini akan ditulis oleh kalian berempat–para pengurus kelas–secara bergilir, dan kalian boleh menuliskan apapun tentang kelas. Dan kalian akan menulisnya saat jam Merangkum Hari.”

Lalu Ara bertanya, “Kalau begitu, kapan kita menulis di jurnal pribadi kita?”

“Pada saat giliran kalian menulis JUK-VIA, kalian tidak mengisi jurnal pribadi kalian,” jawab beliau. Asty yang hobi menulis tampak agak kecewa.

“Jangan kecewa begitu, Asty,” hibur Bu Raysha, “Kalian kan menulis bergilir. Jadi kamu tidak akan terlalu sering kehilangan kesempatan untuk menulis jurnal pribadimu. Kamu hanya menulis jurnal sekitar dua kali tiap tiga minggu.”

Terakhir–atau mungkin masih yang ketiga, sebab aku tak tau apakah Bu Raysha masih punya ide lain lagi–sistem poin. Ia memiliki sekardus besar penuh koin tipis yang terbuat dari kertas kaku yang licin–jenis kertas yang sulit dirobek dan sulit basah–dengan nilai masing-masing yang tertera di masing-masing koin; 5, 10, 20, 25, 50. Koin itu sangat khas dan sulit ditiru, ukiran angka ala Bu Raysha yang unik dan tinta mengkilapnya membuatnya semakin langka.

Dan koin-koin itu akan beliau berikan pada kami jika kami menjawab pertanyaan, mengerjakan tugas dengan baik, selalu piket, tak pernah terlambat, punya ide bagus, dan perilaku baik lainnya. Di akhir bulan, koin-koin itu bisa kami tukarkan dengan barang-barang bagus, seperti alat tulis, CD-ROM, buku cerita anak, komik, permainan papan, dan masing-masing ada harganya. Yang paling murah adalah sebatang pensil 2B yang berharga 200 poin. Dan yang paling mahal adalah sebuah buku dongeng berkaver tebal, berwarna, harganya 9500 poin.

Yah–baru tiga metode itu yang Bu Raysha terapkan di VI A. Aku tak tau apa ada yang lain lagi yang lebih unik.

Ibu suka catatan harianmu. Rinci, tersistem, dan kamu memiliki kecepatan menulis yang hebat–meskipun tak bisa Ibu pungkiri hasil tulisanmu agak sulit dibaca–bisa menghasilkan tulisan sepanjang ini hanya dalam 20 menit.

RAYSHA

Kamis 15 Juli 2010 – RAFFI

Kepengurusan kelas cukup baik minggu pertama ini. Aku dan Kiki adalah kapitalis di kelas, dan rasanya kami benar-benar jadi pemimpin. Apa itu istilahnya, yang sering Abangku sebutkan, aah, ya, sosialisme. Suatu sistem pemerintahan yang mengutamakan pemerintah, begitu kalau tidak salah. Yah, dari delapan kapitalis kelas, tiga dari mereka menjadi pengurus kelas. Kiki, aku, dan Ara. Benar-benar hebat.

Minggu ini, kelas benar-benar nyaman bagiku. Para anggota piket selalu datang pagi, dan kelas selalu sudah bersih sebelum 06.10. Itu peraturanku. Dan Ara mengusulkan agar kami selalu pantau keadaan anak-anak. Rasanya senang, seperti menjadi pemerintah betulan atau kepala polisi atau mandor. Pokoknya semacam itulah.

Raffi, Ibu kagum di usiamu kamu sudah mengerti tentang kapitalisme dan sosialisme. Kamu tertarik pada hukum, ya? Kalau iya, kamu mungkin bisa ke rumah Ibu dan mengobrol bersama suami Ibu–beliau pernah bersekolah di bidang hukum. Ngomong-ngomong, Ibu suka gaya menulismu, tapi Ibu tidak suka kapitalisme.

Raysha

Dilihat 3 kali oleh 3 orang, terkini on Jun 4, ’11

Iklan

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s