Jurnal Multiply · Salinan Multiply

Di Saat Ia Seharusnya…. – Dari Jurnal Multiply

Blog Entri Disaat ia seharusnya mengeluh ia malah tersenyum… Jun 19, ’10 6:34 PM
untuk semuanya
Tiga perempat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menahan sakit, Kawan.

Tapi bunda bertahan selama itu, bertahan atas rasa sakitnya. Taukah kau kenapa ia merasa sakit, Kawan? Tak lain karena dirimu.
Ia pelihara dirimu yang rentan di rahimnya, tiga perempat tahun. Nyaris tiga ratus hari. Ia bertahan selama itu, menahan sakit demi kebahagiaan akan kelahiranmu.
Taukah kau, Kawan?
Sering kali bunda muntah. Taukah kau bagaimana rasanya? Bolak-balik ke kamar mandi saat perut sedang membengkak. Apakah enak?
Tapi taukah engkau apa yang ia lakukan?
Ia malah tersenyum dan bukannya mengeluh.

Taukah kau, Kawan?
Sering kali ia merasa gerah, kepanasan, dan merasa tak nyaman. Seluruh energinya terkuras, ia kelelahan.
Tapi taukah engkau apa yang ia lakukan?
Ia malah tersenyum dan bukannya mengeluh.

Taukah kau, Kawan?
Sering kali ia rasakan sakit. Sakit karena kaki kecilmu tak henti tendang dinding-dinding perutnya, membuat ia harus menahan sambil meringis ketika ia bergerak sedikit.
Tapi taukah engkau apa yang ia lakukan?
Ia malah tersenyum dan bukannya mengeluh.

Taukah kau arti senyumnya, Kawan? Disaat ia merasa sakit ia bukannya mengeluh, namun ia malah tersenyum.

Taukah kau arti semua senyum itu?

Saat ia rasakan pedih, ia hampir berseru ingin mengeluh, menjerit, mengomel… Tapi selalu saja ia urungkan. Ia ganti seluruh keinginannya untuk mengeluh dengan sebuah senyuman indah. Dan saat itu, ia mengelus perutnya dan berkata,

“Wahai anandaku, aku rasakan pedih ketika mengandungmu selama ini. Tapi tidak, aku tak mau mengeluh atau menangis. Sebab aku teringat dirimu, mengingat apa yang kira-kira akan terjadi di masa depan. Betapa semua pedih ini hanyalah cobaan, dan semuanya akan terganti kala kau dewasa.

Taukah kau anandaku, apa arti senyumanku?

Saat aku rasakan sakit dan ingin mengeluh, aku mencoba mengingat apa kira-kira yang akan terjadi saat dirimu tumbuh sebagai anak-anak. Aku akan melihat rantai nilai A+ di rapormu. Mengingat itu, aku tersenyum dan melupakan sakitku.

Saat aku rasakan sakit dan ingin mengeluh, aku mencoba mengingat apa kira-kira yang akan terjadi saat dirimu tumbuh remaja. Aku akan jejerkan puluhan piala penghargaan yang kau dapatkan di ruang tamu. Mengingat itu, aku tersenyum dan melupakan sakitku.

Saat aku rasakan sakit dan ingin mengeluh, aku mencoba mengingat apa kira-kira yang akan terjadi saat dirimu tumbuh dewasa. Aku akan bertepuk tangan dengan bangga di tempat duduk penonton ketika pidatomu di podium dapat menggugah dunia. Mengingat itu, aku tersenyum dan lupakan sakitku.

Aku tak akan mengeluh, anandaku. Sebab seluruh keluhku itu akan terbayar lunas di masa depan dengan berbagai kebanggaanku atas dirimu.”

Takkah kau dengar, Kawan? Dia tersenyum saat pedih yang ia rasakan karenamu, dia tersenyum dan bukannya mengeluh. Sebab dia berpikir, seluruh sakit yang ia rasakan itu akan terbayar lunas di masa depan dengan segala suksesmu!

Tapi kini, apa yang sudah kau lakukan untuknya, Kawan? Sudahkah dirimu wujudkan macam-macam impiannya terhadapmu? Sudahkah…?

dhaimasrani
dhaimasrani menulis on Jul 11, ’10
JFS Mba….menjadi catatan untuk saya

missprita
missprita menulis on Jul 24, ’10
@dhaimasrani: sama sama
@latansa: makasih lagunya
 

 

 

 

Dilihat 14 kali oleh 10 orang, terkini on Dec 24, ’10

Iklan

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s