Jurnal Multiply · Salinan Multiply

Tak Harus… (Cerpen) – Dari Jurnal Multiply

Blog Entri Tak Harus Selalu Buruk (cerpen) Nov 14, ’09 5:51 PM
untuk semuanya
Cerpenku lainnya… Silakan copy… Tolong komentarnya…

Tak Harus Selalu Buruk

“Aku nggak mau!”
“Harus mau!”
“Tapi kalo aku nggak mau, gimana? Ya terserah aku, Umi!“
“Tapi kamu harus ikut mereka… Harus, Thalia!“
“Aku nggak mau…“ Thalia sedikit terisak. Umi merangkulnya.
“Aku nggak mau ikut mereka, Umi,“ isak Thalia, „Aku masih pingin disini sama Umi, Mbak Fira, Mbak Iqha, Mbak Mira, Myftha, Sarah, Dwi, Melli, Ugho, Affhan, Riko, Herman, dan semuanya… Aku nggak mau, aku… Aku… Aku takut….“
Thalia membersit hidung. Wanita muda yang merangkulnya—yang Thalia sebut ‚’Umi’—mengelus kepalanya.
“Aku takut… Takut jika mereka tidak sebaik Umi, takut juka mereka beda kebiasaan sama aku, takut jika… Takut jika…“
Umi menunggu kelanjutan kalimat menggantung Thalia.
“Jika aku sendiri…“ Thalia mengakhiri kalimatnya.
“Kamu nggak akan pernah sendiri, Sayang. Allah dan malaikat-malaikatnya selalu temani kamu,“ hibur Umi. „“Kamu harus pergi, Sayang.“
Thalia merasa sedikit diusir, tapi ia tak mau bilang pada Umi yang amat disayanginya itu, „“Umi nggak suka sama aku! Umi pinginnya aku pergi!“ Ia tak mau. Sebab, itu termasuk hal bodoh, setidaknya bagi anak-anak panti asuhan As-Syifa ini; menuduh seseorang menyakiti kita padahal orang itu sangat menyayangi kita.
Ya, Thalia memang tinggal di sebuah panti asuhan besar di satu tempat di Samarinda. Pengelola panti yang asli, Bu Salwa, ibu tiri Umi. Beberapa tahun setelah Bu Salwa meninggal, Thalia masuk panti itu, dan saat itu sedang dalam asuhan Umi dan Mbak Iqha, adik tiri Umi, anak kandung Bu Salwa. Sampai sekarang mereka berdua masih mengurus panti itu. Mereka berdua memang baru lulus kuliah, masih sangat muda. Tapi dalam perkembangannya, As-Syifa memiliki kemajuan yang pesat dibanding dulu, saat masih dipimpin Bu Salwa.
Dulu—kata Umi—orangtua Thalia tinggal bersebelahan dengan As-Syifa. Namun, saat Mama Thalia mengandung Thalia, Papanya meninggal dunia. Mamanya pun menyusul ketika melahirkan Thalia. Dan memang dari lahir Thalia tinggal di As-Syifa.
Usianya yang sekarang sudah 10 tahun, membuatnya kerasan di panti ini, dan membuatnya enggan meninggalkannya. Apa lagi ada Umi dan Mbak Iqha, sepasang saudara tiri yang sangat baik.
Tiga bulan terakhir ini, ada sepasang orangtua yang rutin memberikan banyak hadiah kepada anak-anak panti. Thalia hampir menganggap mereka sebaik Umi, tapi ketika keesokkan harinya mereka mulai mengajukan permintaan untuk mengadopsi dirinya… Ia jadi sangat benci. Tak pernah Thalia berdo’a agar ada yang mau mengadopsinya. Bahkan ketika dulu para orangtua yang datang-pergi ingin mengadopsi salah satu dari anak-anak panti, ia selalu menggumamkan kata yang sama dihatinya, Semoga jangan aku, ya Allah, aku masih mau disini, bersama teman-teman, jangan aku, ya Allah. Ia selalu berharap agar jangan pilih dirinya, jangan. Selalu, dalam sholatnya, ia berdo’a agar bisa terus di panti ini dengan Umi dan yang lain, membantu mereka, dan menjadi seperti Mbak Fira, yang dari kecil tinggal disini, hingga Mbak Fira dewasa. Akhirnya Mbak Fira menjadi pengurus panti ini.
“Kamu tau, Thalia? Lebih lama disini akan membuat semuanya… semuanya tidak berubah. Tidak menjadi lebih baik, tapi mungkin menjadi lebih buruk. Kau harus membawa banyak perubahan, untuk panti. Perubahan yang lebih baik, tentunya,” dekap sayang Umi mengurangi isak Thalia.
“Perubahan yang lebih baik,” gadis berambut sebahu itu mengulangi kata-kata pengasuhnya, “Akan lebih baik kalau aku tetap tinggal, menemani teman-teman bermain.”
“Tak akan. Pikirlah, Sayang, berbagai hal positif yang bisa kamu ambil dari keluarga itu,” saran Umi.
“Mungkin hanya harta,“ ucap Thalia pesimis.
“Dan kasih sayang.”
“Tapi aku bisa mendapatkannya disini, Umi, disini, dengan Umi.“
“Dan perhatian,“ tambah Umi.
“Itu juga bisa kudapatkan disini.“
“Perhatianku terbagi, Thalia, bukan hanya untukmu. Untuk anak-anak panti lainnya, untuk pekerjaanku, untuk mbak-mbak disini, untuk pengurusan panti, dan…“
“Tapi aku bisa mendapatkan limbahan kasih sayang Umi disini!“ jerit gadis itu, menolak dipeluk. Lalu suaranya melemah. „“Walau… Yah, perhatiannya terbagi.“
“Selain itu, kamu juga bakal mendapatkan pendidikan yang layak,“ senyum Umi. Memang, selama ini, anak-anak panti bersekolah di sekolah negri gratis yang tak layak huni. Bangunannya sudah reyot, guru-gurunya pun tampak tak bersemangat mengajar, dengan kurikulum pelajaran yang rendah pula. Wajar bila Umi menyayangkan otak encer Thalia teronggok tak digunakan begitu saja. Thalia harus masuk sekolah favorit, dia sangat berbakat untuk itu, pikir Umi.
“Tapi Umi—“ Thalia melepas rangkulan Umi yang mencoba merangkulnya lagi.
“Kemarin Thalia baca sebuah cerita. Entah benar atau tidak, ya, cerita itu kan, fiksi. Tapi sepertinya mungkin saja masuk akal.“
Thalia terdiam sebentar. Tampak ragu meneruskan ceritanya. Umi menatap Thalia, menunggu kelanjutan kata-kata gadis imut itu.
“Di cerita itu, ada seorang anak panti. Ia sangat ingin diadopsi, agar mendapatkan perhatian lebih. Ketika diadopsi, dia ingin kembali bermain bersama teman-teman pantinya. Namun… ketika ia meminta izin untuk sekedar bermain ke panti, oleh orangtuanya dimarahi. Bahkan sekedar mengirim surat atau bertelepon saja tak boleh. Katanya, dia sudah menjadi orang kaya. Lalu sang anak bertanya, apakah ada hubungannya orang kaya dengan panti asuhan? Dan orangtuanya menjawab kalau orang kaya bermain ke panti asuhan itu kuno, tak elit, nggak berprestise, malu-maluin… Thalia nggak mau diadopsi, aku masih mau main disini, Umi…” Thalia menyampaikan gumpal permasalahannya.
“Kamu pasti tau tentang cerita Cinderella dan Putri Salju. Kedua putri cantik itu memiliki ibu tiri yang sangat jahat. Ibu tiri yang sangat jahat, sungguh. Dan sejak aku membaca cerita itu, aku sangat takut dengan yang namanya ibu tiri. Hingga ayahku memutuskan untuk menikah lagi, setelah beberapa tahun ibu kandungku meninggal. Artinya akan ada ibu tiri, kata kakak-kakakku dulu. Sama seperti kamu, akupun tak bisa kenyataan yang dimataku pahit, walau sebenarnya manis. Seharusnya, kan, aku senang karena orang yang kusayangi—ayah dan kakak-kakakku—senang. Seminggu sebelum pernikahan ayah—yang disetujui seluruh anggota keluargaku, termasuk kakak-kakakku dan nenek dari pihak ibu kandungku—aku mengurung diri di kamar. Untungnya di kamarku ada kulkas kecil, jadi aku nggak kelaparan, hehehe… Lagi pula kulkasku penuh, dan aku juga nggak begitu seneng makan. Maklum, waktu kecil aku kurus, lho,” canda Umi. Thalia tertawa kecil.
“Hehehe… Lanjut. Namun, sehari setelah pernikahan, aku bisa tertawa lagi, ceria kembali. Bahkan dengan ibu tiriku. Kenapa? Bayangan ibu tiri jahat itu telah sirna dari pikiranku. Ternyata ibu tiri baruku baik sekali. Saking baiknya, ia mewariskan kepemilikan panti ini padaku. Dan selain itu, di SMP, aku punya beberapa teman yang kesemuanya beribu tiri. Mereka baik-baik saja, kok. Mungkin ada ibu tiri yang jahat, tapi tak sering, hanya ada beberapa. Dan cerita, itu bisa jadi benar bisa tidak, Sayang,” nasihat Umi.
Thalia terdiam.
“Benar, Umi?” Thalia meminta persetujuan.
“Inget Indy?” Umi malah bertanya balik. Thalia jadi mengingat Indy, sahabatnya yang tiga bulan lalu diadopsi sebuah keluarga kaya pemilik perusahaan butik lokal. Dan hingga sekarang, Indy masih berkirim surat dengannya dan anak-anak panti lainya. Bahkan, sudah dua kali Indy datang kesini membawakan banyak hadiah untuk teman-temannya, sejak kepergiannya dari panti.
“Benar kataku, kan?” tanya Umi. Thalia mengangguk. Poninya ikut bergoyang.
Ah…. benarkan ucapan Umi? diam-diam Thalia meragukannya. Tapi memang benar, kan, beberapa anak As-Syifa yang sudah diadopsi masih sering berkomunikasi denganku.

***

“Ayo Thalia,“ panggil seorang wanita berjilbab, berkacamata.
“Umi, aku pergi dulu, ya… Mmuach, dah temen-temen…. Dah Umi… Dah Mbak Fira, Mbak Iqha, Mbak Mira… Dadah semuanya… Assalamu’alaikum!“ Thalia memakai ranselnya, dan menggamit tangan wanita berjilbab berkacamata tadi. Lalu mengikuti wanita itu membuka pintu Mercedes.
„“Wa’alaikumussalam,“ jawab para penghuni panti serempak. Mereka memperhatikan mobil mewah itu melaju perlahan meninggalkan As-Syifa.
Ya, Thalia jadi diadopsi. Dan dia menerimanya! Ia berjanji, tiga kali seminggu akan berkomunikasi dengan As-Syifa, minimal mengirim SMS ke Umi. Dan minimal lagi, sebulan sekali ia harus kesana. Rumah barunya lumayan dekat, hanya sekitar 2-3 km saja ke As-Syifa.
Oke, selamat menjalani kehidupan bersama keluarga baru, ya, Thalia!

Dilihat 11 kali oleh 8 orang, terkini on Jul 5, ’11

Iklan

Tanggapi dong:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s